
“Kami hanya ingin membawa pulang guru kami, itu saja.” Heaven menunjuk pada Erina, kemudian tatapannya beralih pada Sandor dan beberapa orang lainnya yang masih duduk dengan santai di meja mereka.
“Ya, tapi jika kalian memang ingin bertarung kami juga tidak masalah.”
Ansel, Laga dan beberapa orang mereka tekesiap. Para penjaga ini setidaknya sudah berada di Tingkat Pendekar Element, tetapi mereka benar-benar akan bertarung? Sandor tersenyum sinis dan ada tatapan merendahkan saat dia melihat Heaven.
Para penjaga itu terkesiap. Apakah anak itu secara tidak langsung mengatakan dia ingin menantang mereka?
Tidak bisa dipercaya!
Salah satu dari mereka meludah dan dengan marah berteriak, “Jika kalian ingin pergi, kalian bisa pergi ke neraka. Aagr!” Dia menjerit ketika es dikakinya tiba-tiba bergerak seperti memelintir kakinya, dia merasa tulangnya bisa patah kapan saja.
“Diam dan biarkan kami pergi dengan tenang, jika tidak kakimu bisa patah nanti.” Heaven melemparkan senyuman mengejek pada mereka.
Itu benar-benar sangat melukai harga diri mereka. Sebagian kecil dari mereka telah mencapai tingkat Master Elemet, tetapi mereka bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.
Kekuatan mereka tentu saja tidak kecil, tapi kekuatan dari es yang menjerat kaki mereka ini benar-benar sangat kuat sampai-sampai mereka tidak bisa merasakan kaki mereka lagi.
“Ini semua karena kau.” Tatapan Paula menyorot pada Sandor.
Jika bukan karenanya, anak-anak di kelas tidak akan takut untuk datang belajar dan Erina tidak perlu bersusah payah mengunjungi ke setiap rumah siswa di kelasnya, dia juga tidak perlu datang ke tempat ini dan menjadi bahan lelucon untuk mereka.
“Oh, ya ampun. Jangan bicara seolah-olah kami yang memaksanya untuk datang kemari,” kata Ansel.
“Kami tidak memaksanya, jika dia ingin datang ya sudah, itu tidak ada hubungannya dengan kami,” katanya lagi dengan santai seperti itu bukan apa-apa bagi mereka.
“Iya, itu benar. Kami tidak memaksanya, dia sendiri yang mau datang kemari jadi kami bisa apa?” sahut yang lain.
Erina menggeleng pelan dalam dekapan Bella. “Tidak, bukan seperti itu,” gumamnya pelan.
“Hah? Kau ingin bilang bahwa kami yang memaksamu untuk datang ke sini, begitu?”
__ADS_1
“Astaga, apa yang dia katakan? Apa kau bermaksut menjebak kami?” Laga tertawa dengan nada menghina.
“Heh, wanita memang seperti itu, kan? Di mulut bilang tidak padahal dia sangat senang.”
“Cukup!” Paula tidak bisa menahannya lagi. Perkataan mereka yang seolah-olah menyebut Erina adalah wanita mur*han benar-benar tidak bisa dia terima. Beraninya mereka melakukan hal itu pada gurunya!
Paula tidak bisa menahan diri lagi, dia melepaskan semua energinya dan seketika energi yang besar meledak dari dalam tubuhnnya. Tubuhnya dikelilingi energi merah muda miliknya dan matanya memancarkan aura pembunuhan yang kuat.
Ansel dan beberapa ornag di belakangnya menelan liur mereka, wajah mereka tiba-tiba menjadi pucat pasi dan ketakutan.
Paula sangat berbeda dari sebelumnya, Ansel masih bisa merasakan bagaimana tenaga Paula saat dia menghajarnya seminggu yang lalu dan sekarang Paula telah mengeluarkan seluruh kemampuannya!
Dia pasti mati!
Paula menginjak lantai dengan keras dan melesat menuju Sandor. Tidak ada apa-apa lagi dimatanya selain aura mematikan, itu benar-benar menakutkan sampai-sampai Ansel merasa merinding, tapi sandor dengan santai berdiri dari kursinya dan menyipitkan matanya.
Paula melesat sangat cepat dan langsung mengarahkan pukulannya pada pria tinggi itu. Saat tinjunya sampai, itu menghasilkan dentuman yang dahsyat dan menghempas Ansel dan yang lainnya.
Paula menarik tinjunya dan melompat mundur dua langkah.
“Kau kuat juga,” puji Sandor saat dia memutar-mutar pergelangan tangannya yang terasa sakit karena menahan satu pukulan seorang gadis. Matanya menjadi berkilat saat dia menatap Paula.
“Kau adalah biang dari semua keributan yang terjadi. Sandor, berdoalah agar ada yang menyelamatkanmu malam ini.” Suara Paula terdengar seperti lonceng besi di telinga Sandor, dia menyipitkan matanya dan terus menatap Paula.
Tepat saat itu, gemuruh langkah kaki yang riuh terdengar dari luar gedung dengan satu ruangan itu. Mereka bisa melihat ada lebih banyak penjaga yang datang, tetapi tampaknya mereka tidak bisa mendekati taman itu seperti sesuatu yang tak terlihat telah memblokir mereka.
Saat mereka berhasil menerobos masuk, kaki mereka langsung membeku. Tanah di taman itu semuanya membeku dan membuat kaki mereka terperangkap.
Heaven mengerutkan keningnya, dia menatap Wira dan saat melihatnya mengangguk Heaven menjadi tenang kembali. Tentu saja, tidak ada dari mereka yang bisa melakukan hal-hal seperti itu kecuali Wira.
Paula kembali bertukar pukulan dengan Sandor, sekarang mereka telah bertarung di taman besar itu saat Paula melempar sandor ke dinding dan membuatnya bolong.
__ADS_1
“Tidak kusangka Heaven punya teman sepertimu,” kata Sandor saat mereka saling bertarung di udara.
“Diam kau dasar brengsek!” Paula membuka tangannya dan energinya secara mengejutkan berubah menjadi padat dan membentu sebuah senjata.
“Oh.” Mata Sandor terbuka lebar dan terlihat terkejut. Heaven, Liam dan yang lainnya juga. Erina bahkan tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.
Kemampuan yang hebat!
Ribuan jarum kecil muncul saat sebuah lubang energi tercipta di belakang Paula, senjata kecil itu langsung melesat ke arah sandor dan menerjangnya seperti hujan badai yang dahsyat.
“Haha, bagus! Hebat, sangat hebat!” teriak antusias Sandor saat dia melompat dengan sangat cepat untuk menghindari serangan Paula, tetapi terlalu banyak jarum.
Senjata kecil yang sangat tajam itu telah berhasil melukai sandor, beberapa goresan di pipi dan tangannya mengeluarkan cairan merah segar.
Sandor terengah-engah ketika dia berhenti, paula di seberangnya juga tampak kelelahan. Sebuah lengkungan besar tercipta di wajah Sandor saat matanya menatap Paula. Setelah sekian lama, akhirnya dia menemukan lawan yang pantas untuknya.
Mata sandor dipenuhi kilatan dan dia sangat bersemangat. Tiga hari dipulau tengkorak tidak lebih baik dari berlatih di rumah, bagi Sandor itu tidak ada bedanya. Hanya tempat yang membedakan, dan dia bahkan harus menerima semua perlakuan Amber padanya.
“Hehe, ayo lanjutkan lagi,” kata Sandor masih terengah-engah.
Paula di seberangnya juga terengah-engah, tapi kemarahan di hatinya sepertinya telah menjelma menjadi kobaran energi yang sekarang meledak dalam tubuhnya.
Sejujurnya, Paula cukup terkejut bahwa ternyata Sandor mampu mengimbanginya bahkan setelah Paula mengeluarkan semua kemampuannya. Tampaknya selama dia berlatih, Sandor juga tidak hanya berdiam diri atau bermain-main saja di luar seperti yang terlihat biasanya.
“Dasar kau brengsek!”
Paula menerjang lagi ke arah Sandor, lengkungan di wajah Sandor semakin lebar saat mereka bertukar pukulan lagi. Dia tidak pernah menyangka bahwa seorang gadis yang terlihat sangat lemah seperti Paula benar-benar mampu mengimbanginya dalam pertarungan.
Tapi jika itu adalah pertarungan yang sebenarnya, Sandor pasti tidak ragu untuk menghabisi gadis itu.
Suara ledakan dan percikan energi berkelebat saat pukulan mereka saling membentur. Paula mundur beberapa langkah dengan napas terengah-engah, dia hampir kehabisan energi. Dia melihat ke arah Sandor dan melihat bahwa pria itu masih tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung ...