The Escapade

The Escapade
Episode 37


__ADS_3

“Waspada, ada musuh!”


Semua orang segera menyadari bahwa mereka telah dikepung dari segala arah dan tidak memiliki celah pelarian diri sama sekali. Tetapi mereka tidak gentar, dengan cepat mereka semua sudah siap bertarung dengan musuh.


Itu ras monster kelas menengah, Lizardman atau manusia kadal.


Rawa memang tempat tinggal yang sangat cocok tetapi tidak ada yang menyangka bahwa bahkan rawa yang beracun sekalipun tidak menghalangi mereka untuk menetap.


   “Hahaha, segera tinggalkan barang kalian atau ...”


Kadal besar itu memakai zirah emas dengan tombak di satu tangannya yang juga terbuat dari emas.


“Heh, kadal juga bisa merampok ternyata,” kata Heaven sambil tertawa mengejek mereka.


Sekelompok Lizardman itu segera menjadi marah setelah mendengar kata-kata yang di ucapkan Heaven.


“Beraninya manusia rendahan sepertimu menghina kaum Lizardman!” raung salah satu dari mereka yang memakai zirah. Heaven bisa menebak bahwa dia pemimpinnya.


   “Serang! Cincang mereka untuk makan malam!” teriak pempimpin Lizardman dengan marah.


Sekelompok manusia kadal itu dengan cepat menyerang tim Riander. Pertempuran pun pecah, itu terjadi di tengah rawa yang terus menerus mengeluarkan gas beracun tanpa henti.


Tim Riander dan sekelompok ras Lizardman itu saling menyerang.


“Lumpukan pemimpin mereka!” teriak Riander pada anggotanya saat dia melawan pasukan Lizardman.


Pasukan manusia kadal berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka itu terus menyerang mereka tanpa henti dan gerakan mereka juga sangat cepat.


Kaki mereka yang berselaput memudahkan mereka untuk berjalan di rawa, berbeda dengan manusia yang biasa hidup di dataran yang bertanah normal.


Pemimpin pasukan Lizardman tertawa terbahak-bahak saat melihat target mereka kalah jumlah.


“Menyerah saja dan aku akan membiarkanmu mati tanpa tersiksa,” katanya dengan sombong.


Liam membuat banyak bola api dan menyerang pasukan manusia kadal tetapi teriakan Bella langsung membuyarkan konsentrasinya hingga salah satu tombak milik pasukan manusia kadal berhasil menusuk kaki kanannya.


“Bella kau baik-baik saja?” Dia tidak menghiraukan rasa sakitnya, itu tidak ada apa-apanya dengan Bella.

__ADS_1


Dia menoleh untuk melihat kondisi Bella tetapi saat dia memalingkan wajahnya, sesosok Lizarman sudah ada di sana dan mengarahkan tombaknya pada Liam.


Jantung Liam berdebar hebat dan darahnya menjadi bergejolak saat melihat ujung tombak besi yang mengkilat di depan matanya.


Hanya satu inci lagi untuk tombak itu menembus kepala Liam tetapi tiba-tiba pasukan manusia kadal itu berhenti dan mereka semua menoleh ke satu arah yang sama.


Pemimpin mereka telah disandera!


   “Ber ... berhenti semuanya!” Pemimpin pasukan manusia kadal itu berteriak dengan gemetar saat merasakan dingin dari pedang panjang yang sudah menempel di lehernya.


Riander Chigo sudah berada di belakangnya dengan pedang di lehernya.


“Buang ... buang semua senjata kalian!”


Semua pasukan manusia kadal segera melepaskan senjata mereka dan mengangkat tangan di belakang kepala.


Pemimpin pasukan lizardman itu tidak berani bergerak sama sekali dan tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya.


Paula dan yang lainnya segera mengikat pasukan Lizardman dengan tali, sementara Bella membawa Liam ke tepi rawa untuk mengobati lukanya.


Instruksi Riander segera dilakukan setelah mereka menyeret sekelompok Lizardman menuju ke tepi rawa dan menumpuk mereka menjadi satu.


Setelah Rian sampai di tepian, dia menoleh lagi pada pemimpin pasukan Lizardman yang berada di hadapannya.


   “Katakan! Sudah berapa lama kalian tinggal di sini?”


Riander tidak basa-basi lagi dan semakin menempelkan pedangnya ke leher pemimpin pasukan manusia kadal itu hingga membuatnya tergores dan mengeluarkan sedikit darah.


“Sudah ... sangat lama,” jawabnya dengan mata yang hampir keluar karena ketegangan.


Riander mengerutkan keningnya saat matanya menyipit, kemudian kembali menatap pemimpin pasukan manusia kadal itu dengan dingin dan berkata, “Bawa kami ke tempat tinggal kalian.”


Pemimpin pasukan Lizardman itu tidak punya pilihan lain. Jadi dia dengan cepat mengangguk dan memimpin jalan menuju pemukiman Lizardman di ujung rawa.


Pasukan manusia kadal beserta pemimpin mereka kemudian digiring, mereka menyusuri rawa yang lembab dan berkabut. Gas beracun yang paling banyak berasal dari tengah rawa jadi mereka memilih berjalan agak pinggir untuk menghindari bahaya.


Tidak ada monster lain yang ada di sana, Riander semakin yakin bahwa ras Lizardman yang tinggal di sini adalah pemilik tanah ini. Mereka pasti sudah lama menempati tempat ini tetapi dia tidak yakin seberapa lama itu.

__ADS_1


Dia lebih penasaran bagaimana para Lizardman itu tidak terpengaruh sama sekali terhadap gas beracun, mungkinkah mereka mengalami mutasi gen dan telah berevolusi untuk bertahan hidup di tempat tinggal mereka.


Tetapi itu butuh waktu yang sangat lama untuk menyesuaikan diri, sudah berapa lama para Lizardman ini tinggal di rawa beracun?


Di sepanjang jalan, para Lizardman itu merasa sedang berada di neraka karena diganggu oleh Heaven.


Mereka semua meringis dalam hati dan mengutuki nasib buruk mereka hari ini karena bertemu manusia gila sepertinya.


   “Hehe, Paman Kadal, zirahmu ini bagus juga. Kalau di jual pasti mahal,” katanya sambil tertawa memikirkan seberapa banyak uang yang akan dihasilkan bila menjual zirah emas itu.


Sementara pemimpin pasukan itu segera memeluk erat zirah yang membalut tubuhnya dan berkata dengan marah,


“Namaku Drake bukan Paman Kadal! Lagi pula, aku tidak akan menjualnya.”


Heaven menyeringai saat dia mendekatkan wajahnya pada Drake saat dia berkata, “Ayolah, harganya pasti sangat tinggi jika mereka tau ini zirah yang benar-benar dipakai oleh kadal.”


Drake membelalakkan matanya ketika dia mendengar bagaimana anak manusia yang tidak waras itu masih tetap keras kepala dan ingin menjual zirah miliknya, terutama cara dia menyebut rasnya. Kadal? Mereka Lizardman bukan kadal!


Tetapi Drake tidak berani berteriak sama sekali, dia melirik Rian yang berjalan di sampingnya dengan waspada.


Drake berkali-kali menelan salivanya saat merasakan Riander meliriknya dengan tatapan yang dingin, seolah-olah ada laser di sana dan dia bisa mati kapan saja.


Setelah beberapa saat, kabut dari gas beracun mulai terlihat memudar dan perlahan-lahan menjadi sangat tipis saat mereka melihat cahaya di ujung rawa yang gelap dan lembab.


Setelah mereka keluar dari rawa yang gelap, mereka semua terkesima. Liam bahkan menaikturunkan kacamatanya berulang kali sambil menggosok matanya dengan tidak percaya.


Sebuah permukiman Lizarman!


Itu sangat ramai dan banyak sekali penduduk.


Drake dan para pasukannya yang masih diikat terus berjalan menuju rumah kepala klan mereka, tetapi mereka langsung dikepung oleh banyak Lizardman laki-laki bahkan saat mereka baru melangkah beberapa kali.


Mereka semua mengarahkan ujung tombak mereka ke arah Riander dan yang lainnya saat mereka dengan cepat mengelilingi untuk mengepung.


   “Beraninya manusia menerobos ke wilayah klan Lizardman!” salah satu dari mereka berteriak dengan marah.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2