
Setelah kejadian itu, Tora menjadi seperti orang tidak waras dan mengamuk di depan gerbang kerajaan. Dia menjadi buronan atas tuduhan pemberontakan dan akan dihukum mati ketika itu.
Pada akhirnya, Paul yang menolongnya. Mendidiknya dan mengajari semua hal tentang bertarung dan pengetahuan lain. Dia tidak dilatih di dalam unit tentara terbaik tapi dia telah dilatih oleh seorang tentara terbaik, pemimpin perang terbaik dan seorang jenderal yang sangat diidolakan banyak orang.
“Apa kau mengerti?” Ada lipatan di dahi Paul dan alisnya bertaut.
Tora mengangkat kepalanya untuk melihat Paul yang duduk di depannya dengan kaki disilang, ada raut tidak suka di wajahnya tetapi ada sebuah senyum samar juga di sana.
“Mengerti, Saya tidak akan melakukan hal yang bodoh.”
“Benar, itu sebabnya kau menjadi bawahanku.”
Tepat saat itu, sebuah belati kecil secara mendadak muncul dan langsung menuju Paul. Ada kilatan yang menyilaukan saat penda pipih yang tajam berujung runcing itu melintas di antara cahaya yang masuk melalui celah cendela.
Ting!
Suara dentingan nyaring terdengar saat Tora secepat kilat manarik pedang di punggungnya dan langsung menangkis pisau kecil itu hingga terpental jauh ke bawah rak di sudut ruangan dan matanya menjadi waspada. Berdiri di depan Paul untuk melindunginya, yang sekarang masih duduk santai di kursinya.
“Lihat dirimu sebelum bertanya, apakah orang ini akan menjadi pengkhianat?” seseorang pria muncul sambil tertawa terbahak-bahak.
Tubuh tinggi rampingnya terbalut kemeja putih dan celana ketat hitam dengan rok mini pendek lima belas sentimeter di atas lutut berwarna putih juga.
Kaca mata bulatnya menampilkan mata hitam pekat yang sekarang terlihat sipit karena tertawa, jemari lentiknya melambai di udara sebelum akhirnya mendarat di daun telinga runcingnya dan memainkan anting perak yang terpasang di sana.
“Hey, Tora. Aku kaget lho dengar kamu tanya begitu.” Dia melambaikan tangannya ke udara sambil terus tertawa.
Tora telah menyimpan kembali senjatanya dan berdiri kaku di antara kedua orang itu yang sekarang tertawa keras sampai telinganya berdenging.
“Kamu juga di sini?” tanya Tora.
Cliff tersenyum kecil saat dia mendengarnya, walaupun wajah Tora tertutup topeng dan hanya menampilkan kedua bola matanya yang dingin, ia bisa merasakan bahwa Tora sedang memasang wajah masam di balik topeng polos itu.
“Oh, ayolah teman, aku sudah kembali. Apa kau tidak senang?”
“Tidak juga.”
Cliff terkekeh lalu berjalan ke arah kursi, menariknya dan duduk di sana dengan kaki menyilang, sama persis dengan cara duduk Paul.
__ADS_1
“Kupikir aku tidak akan dipanggil lagi untuk pesta tahun ini,” katanya sedih.
“Kau pikir kau dipanggil untuk pesta?”
“Tidak.” Cliff menggeleng, sementara jari-jarinya terus menggosok anting perak yang ada di daun telinga runcingnya, dia melanjutkan. “Pasti ada masalah, kan?”
Mendengar itu, Paul mengangguk dengan mata terpejam. Membuat Cliff berdecak sebal.
“Tentu saja!” pekiknya rendah. “Kapan aku dipanggil untuk hal-hal baik? Tidak pernah!”
“Heh, bocah nakal. Ini hal baik untukmu, kau bisa melakukan eksperimen gilamu pada musuh, kan? Dan jika ada hal-hal lainnya juga kau bisa menggunakannya juga.”
“Iya sih, tapi aku kan juga ingin bersenang-senang, Bos,” tuturnya mendesah lelah.
Paul melambaikan tangannya ketika dia berkata dengan acuh, “Sejak kapan kesenanganmu adalah pesta? Laboratorium dan semua percobaan anehmu itu baru gayamu.”
“Sudah cukup basa-basinya.” Paul dengan cepat berdiri sebelum Cliff sempat mengutarakan kata-katanya lagi. “Ada beberapa masalah yang harus kalian urus.”
Paul melirik Tora dengan ekor matanya dan mengatakan, “Bawa dia berkeliling, aku ingin hasil jelasnya hari ini juga.” Setelah mengatakan itu, ia melangkah pergi dengan tangan di punggungnya.
Cliff menatap Tora dengan wajah berseri sementara Tora semakin mengeram dalam hatinya. Bekerja dengan Cliff sama baiknya dengan bekerja bersama seekor burung beo super-aktif ... atau juga seekor belut licin.
“Ada sesuatu.”
“Apa?”
“Ikuti aku.” Tora menolak menjelaskan lebih detail karena jika itu terjadi maka mereka mungkin baru akan melakukan penyelidikan besok pagi.
Cliff, pria bertubuh tinggi ramping itu ikut menghilang bersama Tora. Sekarang hanya tersisa semilir angin yang berlalu dan dua pasang mata kuning yang bersinar di balik kegelapan, kemudian hilang tanpa jejak.
Sekarang, Tora dan Cliff berada di hutan bambu rimbun. Itu adalah Hutan Lindung Kota Skaydry, hutan yang memang dirawat dan ditujukan untuk tempat khusus dan dibuka untuk ritual atau acara tertentu saja, seperti ritual penghormatan dan terima kasih kepada dewi bumi atas kemakmuran kota dan sebagainya.
Setengah dari kota Skaydry sendiri adalah pengunungan dan bukit-bukit kecil, jadi tidak heran banyak sekali ladang tanaman yang membuat rakyat makmur, juga sungai dan air terjun dengan berbagai jenis ikan air tawar.
“Hawanya sangat tidak baik di sini,” komentar Cliff bergidik.
Mereka sedang berjalan menyusuri tanah yang dibuat menyerupai anak tangga. Tora berjalan di depan dan tidak mengatakan apa-apa, matanya tidak memiliki sinar sama sekali, itu membuatnya terkesan menyeramkan.
__ADS_1
“Semakin kental! Apa yang ingin kau tunjukan padaku, heh!”
“Salah satu titik formasi.”
Cliff tersenyum kaku pada dirinya sendiri, sesaat kemudian mulai mengoceh tentang banyak hal—terutama tentang beberapa penemuan barunya--sambil terus memainkan anting perak yang menghiasi telinga runcingnya.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua sekarang berdiri di depan satu pohon besar. Ada banyak pohon bambu yang menjulang tinggi, daunnya bergemerisik ketika angin meniupnya.
“Lihatlah,” kata Tora pada Cliff.
Pria itu maju, melewati Tora yang sedikit menyingkir untuk memberi akses lebih luas. Cliff menatap pohon besar itu kemudian tangannya terulur dan menyentuh permukaan kulit pohon, ketika tangannya menyentuh pohon itu, matanya berkilat cerah dan sebuah formasi besar muncul.
Rune formasi berbentuk bulat dengan warna ungu gelap mengelilingi pohon itu, Tora yang melihat itu merasa jantungnya berdetak hebat. Sebelumnya, ia hanya menemukan beberapa titik formasi besar dan tidak bisa mengaktifkannya sama sekali karena jika dipaksakan maka itu akan berakibat buruk.
Tetapi Cliff, hanya dengan satu tangan mampu menemukan dan mengaktifkannya dengan mudah tanpa kerusakan sama sekali. Tora bisa menebak bahkan itu tidak menimbulkan peringatan sama sekali pada si pemasang.
Sudut mata Tora berkedut ketika melihat senyum menyeramkan Cliff. Pria jangkung itu menolehkan kepalanya dan menyeringai puas sementara satu tangannya menyentuh anting di telinganya dan tangan lainnya masih menahan kunci formasi.
Setelah beberapa menit, Cliff melepaskan tangannya dan membiarkan formasi itu tetap seperti semula. Saat dia berbalik, wajahnya berubah. Ekspresinya yang biasanya santai dan aneh sekarang lenyap, sekarang dia menjadi sangat serius.
“Ada berapa titik lagi?” tanya Cliff. Tangannya sudah berhenti bermain-main dengan antingnya dan sekarang itu menjuntai bebas di kedua sisi tubuhnya.
“Lima titik.”
“Tidak.” Cliff menggeleng keras, kemudian melanjutkan. “Formasi lainnya mungkin hanya tipuan, yang ini juga.”
“Ini tidak sederhana, ini jauh dari kata sederhana.” Wajah Cliff masam tapi matanya berbinar cerah, ada semangat yang berusaha dia tutupi di matanya tapi Tora bisa membacanya.
“Tunjukkan lima titik lainnya.” Setelah mengatakan itu, mereka berdua menghilang seperti angin.
...
“Titik kedua ada di tengah danau bagian utara hutan ini.”
Setelah menyibak semak belukar yang cukup tinggi, danau besar segera terlihat. Air jenirnya tampak berkilau di bawah sinar matahari yang cukup menyengat siang itu.
__ADS_1
“Cantik sekali!”
Bersambung ...