The Escapade

The Escapade
Episode 38


__ADS_3

“Beraninya manusia menerobos ke wilayah klan Lizardman!” salah satu dari mereka berteriak dengan marah.


Tetapi Riander tetap terlihat tenang. Tangannya dengan cepat menarik pedangnya dari sarungnya dan mengarahkannya ke leher Drake. Drake sekali lagi tersentak karena aura dingin dari pedang tipis itu.


   “Turunkan senjata kalian dan angkat tangan,” katanya dengan tenang.


Drake hampir tidak bisa bernapas dengan baik saat merasakan dingin yang menguar dari pedang yang menempel di lehernya.


Dia menahan napas sebisanya dan tidak berani bergerak sama sekali ketika matanya menatap nyalang pada klan-nya untuk menyuruh mereka menjatuhkan senjata mereka, tetapi mereka tampaknya tidak mengerti sama sekali dan tetap mempertahankan posisi mengepung Riander dan yang lainnya.


Drake merutuk dalam hatinya karena sikap bodoh rasnya. Dia bisa mati karena itu!


Melihat tidak ada sama sekali keinginan untuk menurunkan senjatabya, Paula maju.


Dia tidak mengatakan apa-apa saat dia berjalan ke depan dan mengayunkan tangannya ke udara yang menyebabkan semua tombak runcing mereka terbang dan terbental ke arah rawa kemudian tenggelam.


Para penduduk ras manusia kadal semuanya tercengang, para wanita dan anak-anak mulai gelisah dan ada ketakutan di mata mereka saat melihat itu. Bella bisa merasakannya, ketakutan di mata mereka lebih mengandung banyak trauma.


Paula yang juga melihat itu, maju untuk menenangkan beberapa dari anak-anak Lizardman tetapi para pria langsung menghadangnya dan kewaspadaan mereka menjadi semakin meningkat. Mereka menjadi agresif tetapi juga ada raut kecemasan dari tatapan mereka.


   “Drake! Beraninya kau membawa mereka kemari!”


Sebuah suara datang dari belakang. Sesosok manusia kadal yang sudah cukup tua dengan tongkat kayu yang membantunya berjalan dengan lambat ke arah mereka, dan ada banyak kemarahan di matanya saat dia menatap Drake dan mencebik.


   “Jadi maksutmu akan lebih baik kami yang menyerahkan nyawa kami---”


   “Mati beberapa jauh lebih baik dari musnahnya seluruh ras!” katanya dengan cepat memotong ucapan Drake.


Drake dan pasukannya terkesiap dan ada kemarahan di hati mereka. Meski begitu, mereka tahu bahwa mengorbankan beberapa nyawa lebih baik daripada semuanya. Tetapi tetap saja dia tidak terima!


Wajah Drake penuh dengan keterkejutan dan juga kekecewaan saat dia berkata dengan dingin, “Benarkah? Kami berjuang mati-matian demi menjaga wilayah klan tetapi kalian masih ingin kami mengorbankan diri kami?”


Dia kemudian berdiri tegap dan tidak peduli lagi pada pedang di lehernya.


   “Aku dan tentaraku ternyata tidak lebih dari sebutir debu di mata kalian,” katanya lagi dengan wajah datar.


 

__ADS_1


Semua pasukan yang dipimpinnya terkejut saat melihat aura yang menguar dari pemimpin mereka. Drake adalah tipe pemimpin yang santai dan kadang lebih suka bermain-main, tapi sekarang dia berubah menjadi seperti naga yang terluka dan kekuatannya menjadi berlipat-lipat.


   “Itulah tugas kalian!”


Drake tersenyum dingin saat dia mendengarnya.


   “Bahkan seekor harimau pun tidak memangsa anaknya sendiri.”


   “Kita adalah Lizarman bukan harimau.”


 Adik perempuannya yang berdiri di samping ayahnya mencoba menghentikan pertengkaran mereka karena ada musuh yang lebih penting sekarang.


Riander tidak memiliki banyak kesabaran sekarang.


   “Cukup basa-basinya, kami hanya lewat dan kebetulan dihadang mereka di tengah jalan.” Riander menarik kembali pedangnya dan memasukkannya ke wadahnya.


Kemudian dia melanjutkan, “Aku hanya memiliki beberapa pertanyaan.”


Kepala klan Lizardman, Draco, menyipitkan matanya saat melihat kaum manusia di depannya kemudian berkata, “Katakan.”


Riander menghela napasnya dan mendesah.


Dranxi, adik perempuan Drake, mulai terlihat marah saat mendengar ini. Dia benar-benar ingin menghajar mereka, sejak kapan mereka menjadi tamu?


Mereka adalah tamu tak diundang! Tetapi dia tetap terlihat tenang dan tetap berdiri di samping kepala klan.


Darco melambaikan tangannya saat dia menyuruh beberapa wanita mereka untuk menyiapkan jamuan. Setelahnya, Riander dan timnya diminta untuk masuk ke salah satu rumah milik klan untuk mengobrol.


Sementara mereka mengobrol, Drake dan pasukannya dengan segera melepaskan diri dari tali yang mengikat mereka dan menjauh dari sana. Drake menjadi sangat waspada saat melihat tatapan liar Heaven yang terus-menerus melirik zirah miliknya.


Anak itu gila!


Sementara Heaven dan Wira menunggu di luar untuk melihat-lihat, Riander dan yang lainnya berada di dalam  rumah. Riander tersenyum saat dia melihat mereka benar-benar menyiapkan jamuan, ada banyak makanan lezat dan buah-buahan di atas meja.


Tak lama, Heaven masuk diikuti Wira yang juga ikut bergabung bersama yang lain.


   “Kukira kau tidak akan masuk,” kata Paula saat melihat mereka berdua.

__ADS_1


Heaven mengambil tempat dan menggosok kedua tangannya saat dia berkata, “Ada banyak makanan enak, bagaimana bisa aku menolaknya.”


Tanpa menunggu, dia langsung mengambil satu roti kemudian menggigitnya dan ada daging di dalamnya.


Semua orang terutama Paula menelan liur mereka saat melihat bagaimana Si Bodoh itu makan tanpa mencemaskan apapun.


Bagaimanapun mereka sedang berada di wilayah ras Lizardman dan bahkan tidak disambut baik oleh tuan rumah. Tetapi Heaven tampaknya tidak memiliki kekhawatiran sama sekali di dalam kepalanya.


   “Kami tidak seburuk yang kalian bayangkan.” Dranxi datang membawa air dan beberapa cangkir di atas nampan.


   “Jika kalian tidak berniat jahat maka kami juga tidak,” katanya lagi sambil menuangkan air untuk mereka.


Heaven tidak repot-repot mendengarkan dan terus mengunyah makanannya dan meneguk air dengan segera karena tersedak.


   “Apa yang ingin kalian tanyakan?” tanya Draco. Tidak ada lagi kemarahan, sebaliknya, dia bersikap sangat ramah dan hangat.


Riander menelan sepotong kue sebelum dia bicara.


“Maaf untuk kekasaran dan cara tidak sopan kami yang tiba-tiba datang kemari.”


Draco tercengang, tetapi kemudian langsung tertawa terbahak-bahak sampai janggut putihnya ikut bergerak.


Dia menggelengkan kepalanya saat dia mengatakan, “Tidak perlu repot-repot. Kami juga tidak bersikap baik sebelumnya.”


Riander mengangguk mengerti kemudian mengatakan apa yang menganggu pikirannya sejak tadi. Dia menceritakan saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di Rawa Gas Beracun dan bagaimana mereka dikepung oleh Drake hingga bisa sampai ke pemukiman klan Lizardman.


Draco mendengarkan dan tidak menyela, dia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali dan terus mendengarkan.


Setelah Riander mengutaran beberapa pertanyaan terutama tentang cara mereka bertahan hidup di area yang berbahaya tanpa terpengaruh oleh gas beracun sama sekali, dia tersenyum.


   “Ini semua berawal dari perang besar antar-ras beberapa ribu tahun yang lalu,” beber Draco saat dia mulai mengingat kembali saat-saat mengerikan itu.


   “Waktu itu, desa tempat tinggal kami kaum Lizardman masuk ke dalam area medan perang hingga menyebabkan desa hancur. Selain karena pasukan musuh, bandit juga memanfaatkan keadaan dan mulai menyerang desa.” Draco menghela napasnya sebelum dia melanjutkan.


   “Banyak dari penduduk yang mati ataupun menjadi tawanan, saat itu saya masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Kepala klan sebelumnya, kakek saya, memutuskan untuk melakukan migrasi di bawah paksaan keadaan. Kami akhirnya membuat perahu dan pergi dari sana, hingga berbulan-bulan kemudian kami sampai di sini. Pulau pertama yang kami temui setelah waktu yang lama di lautan lepas.


   Awalnya kami berniat pergi dari tempat ini tetapi tiba-tiba saja banyak penduduk yang jatuh sakit sampai akhirnya kami menyadari tempat ini sangat kaya sumber daya terutama bahan herbal. Setelah itu kami memutuskan untuk menetap di rawa ini dan tubuh kami perlahan-lahan menjadi kebal terhadap racun.”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2