The Escapade

The Escapade
Episode 18


__ADS_3

“Yo, Tiamat! Lama tidak bertemu ya.”


Pria berotot besar itu menatap Charles dengan jijk. “Tcih, tutup saja mulut baumu itu!”


“Astaga, terakhir bertemu kau bahkan sangat baik padaku. Apakah kau tidak ingin bermain denganku lagi?” tanyanya dengan senyum menggoda.


“Berhenti kalian berdua! Benar-benar menjijikan!” itu Zmey, wanita dengan sayap burung  itu berteriak saat menatap mereka dengan sinis.


“Aduuh, kalian ribut terus. Berisik sekali.” Freya berdiri dengan anggun. Gaun putih dan perhiasannya mengkilat di bawah sinar matahari. 


Wira menjentikkan jarinya dan suasanya seketika menjadi hening, bahkan tidak ada angin yang berani berhembus!


“Baiklah, cukup basa-basinya,” katanya tanpa ekspresi.


Dia mengangkat tangannya saat dia memberi perintah. “Pergi ke tempat masing-masing dan buka formasi!”


“Baik!”


Mereka semua pergi ke tempat dimana kunci tujuh formasi berada. Sekarang hanya tinggal Wira dan Heaven.


Heaven tidak berkedip, dia baru pertama kali melihat Wira yang begitu mendominasi dan dihormati. Dia begitu berwibawa, dia adalah raja di tempat ini!


Dia adalah pemiliknya!


“Persiapan dirimu.”


Heaven merasa tenggorokannya kering dan dia beberapa kali menelan salivanya. Heaven bisa merasakan bagaimana darahnya berdesir.


Mereka berdiri di tengah formasi, dan ketujuh kunci itu satu persatu sudah di letakkan. Masing-masing dari juru kunci merasa jantung mereka akan meledak dan napas mereka menjadi semakin cepat!


Mereka melakukannya lima belas tahun yang lalu karena Wira memintanya dan sekarang mereka melakukannya lagi karena Wira memintanya lagi tapi demi orang lain. Demi Heaven!


Dalam satu tarikan napas, mereka bertujuh mengaktifkan kunci formasi dan itu menghasilkan dentuman yang kuat hingga dataran itu berguncang. Ketujuh cahaya mulai memancar dan menuju satu arah, menuju pusat formasi.


Saat ketujuh cahaya itu menyatu dan menabrak pusat formasi, sebuah pintu menuju dunia luar terbuka.

__ADS_1


Heaven merasa jantungnya akan lepas! Dia bisa melihat air terjun itu, di mana dia masuk ke dunia kaca ini.


Ke tujuh penjaga kembali berkumpul di pusat formasi.


Heaven merasakan darahnya mengalir sangat deras dan dadanya naik turun dengan cepat. Dia akhirnya akan pulang!


Dia menoleh pada Wira dan mengulurkan tangannya. Ada senyuman bahagia yang tidak pernah dilihat Wira sebelumnya. Dia ragu-ragu untuk menyambut tangan Heaven saat dia melirik pada ke tujuh penjaga formasi.


Feyang menatap Wira dan menganguk pelan. Wira akhirnya menerima uluran tangan Heaven dan mereka berdua keluar menuju dunia luar.


Saat Heaven sudah di luar dia menarik napasnya dalam-dalam dan memenuhi paru-parunya dengan oksigen.


Tapi saat dia menoleh untuk melihat pada Wira, matanya segera melotot. Wira hampir melepaskan pegangan tangannya tetapi Heaven menatapnya tajam dan mempererat itu.


Ke tujuh juru kunci formasi tampak cemas, jantung mereka berdegub kencang. Ini juga terjadi lima belas tahun yang lalu!


Tubuh Wira di rantai, dan rantai itu menyatu dengan tempat ini. Feyang dengan cepat mencoba melepaskan rantai itu dengan mengerahkan energi miliknya, begitu juga dengan sisanya.


Mereka mencoba tetapi itu bahkan tidak tergores sama sekali seolah-olah kekuatan mereka hanya seperti sebuah bulu yang tidak melukai.


Dia begitu lega bisa keluar dari dunia kaca dan berniat membawa pergi Wira bersamanya. Tapi sekarang ... sekarang Wira tampak begitu kesakitan dengan rantai yang mengikatnya.


“Pergilah. Kau bisa menunjungiku kapan saja dengan kalung itu.” Wira tersenyum tetapi ada rasa sakit di matanya.


Heaven tertegun, benda itu! Benda yang di berikan Wira malam sebelum mereka mengunjungi ke tujuh pemilik kunci. Benda sialan itu!


Heaven akan menghancurkan benda itu menjadi berkeping-keping!


“Tidak akan! Tidak tanpamu.” Heaven berteriak keras saat dia kembali masuk ke dalam dunia kaca dan pintu dimensi itu tertutup kembali. Ketujuh cahaya perlahan-lahan memudar dan menghilang.


Wira berdiri di tempatnya dan rantai itu juga menghilang. Ada raut kekecewaan di wajahnya.


Lima belas tahun yang lalu, itu juga terjadi, dan sekarang itu terjadi lagi. Dia tersenyum pahit pada dirinya sendiri.


Heaven mengeram seperti seekor serigala lapar dan siap menelan orang hidup-hidup!

__ADS_1


Matanya menyisir mereka semua dan ketika matanya melihat Feyang, dia berlari menerjangnya. Mereka berdua jatuh dengan Heaven di atas tubuh Feyang dengan bunyi gedebuk yang keras.


Kepala Feyang menyentuh tanah dengan keras dan itu terasa sakit sekarang. Dia melihat Heaven yang marah, matanya sudah merah dan sepertinya siap mencabik-cabiknya.


“Kau bajingan!” Heaven meneriaki Feyang. Tangannya terayun dan siap meninju Feyang sementara dia tidak melakukan perlawanan sama sekali.


Tetapi sebelum tinjunya turun itu sudah di tahan oleh Wira.


“Lepaskan aku. Biarkan aku menghajar bajingan ini!” Heaven mengira rantai yang mengunci Wira dan membuatnya tidak bisa meninggalkan tempat ini adalah karena ulah Feyang.


Dia yakin itu, dia sudah melihat bagaimana kekuatan Feyang dan senjata andalannya adalah rantai. Itu pasti dia!


Itu karena Feyang!


“Hentikan Heaven.” Wira menarik Heaven untuk bangkit dan menghalanginya untuk menghajar Feyang.


Yang lainnya menatap sedih, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa tentang ini.


“Ini juga terjadi lima belas tahun yang lalu.” Kata-kata Wira membuat Heaven terdiam. Matanya menatap tajam pada pria berambut hijau itu.


“Bahkan jika kau membunuhnya juga tidak akan membuat rantai itu hilang,” ucap Wira dengan suara bergetar.


Heaven menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Mencoba menormalkan jantungnya yang berdegub cepat dan menekan emosinya.


Heaven kembali menatap Feyang yang berdiri diam di tempatnya. Perlahan Heaven berjalan menghampiri pria itu dan ekspresinya menjadi gelap sekarang.


“Kau bilang akan membantunya, kan? Mengapa? Mengapa kau tidak melepaskan rantainya?!” Heaven tidak menyembunyikan niat membunuhnya saat dia menarik kasar baju Feyang.


“Karena ....” Feyang tidak melanjutkan perkataannya dan segera menutup mulutnya.


“Karena kau tidak ingin Wira pergi, begitu? Hah?!”


Heaven meninju wajah Feyang dengan keras dan dia jatuh ke tanah, Wira tidak sempat menghentikan pertarungan itu.


Meski dia tahu Feyang tidak akan terluka tetapi dia tidak ingin mereka bertengkar. Bagaimana jika Feyang tidak sengaja membunuh Heaven?

__ADS_1


“Kau bajingan! Feyang, kau bajingan paling busuk!”


__ADS_2