The Escapade

The Escapade
Episode 9


__ADS_3

 


“Apa ... yang terjadi?”


Tcesni menutup melutnya tak percaya atas apa yang baru mereka lihat.


Semua orang terkejut!


“Bagaimana bisa begini?”


Wira berjalan masuk diiringi dengan Heaven dan beberapa peri kecil lainnya.


Tcesni terperangan tak percaya. “Dua jam lalu aku memeriksanya dan belum sampai separah ini.”


“Apa mereka masih hidup?” tanya Wira khawatir menatap pada peri-peri kecil yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai yang hampir membeku.



“Masih!” kata salah satu dari peri kecil berpendar cahaya biru itu sambil membungkus tubuh temannya dengan selimut hangat dan membawa mereka ke ruangan lain untuk perawatan.


Heaven melihat benda di depannya itu, hawa dingin berasal dari sana dan itu membuat jemarinya mati rasa, bibirnya terasa sangat kering sekarang.


Wira mendekati jantung es yang sulur-sulurnya bersambungan dengan pohon kehidupan.


Benda itu berdetak seperti jantung namun detaknya sangat lemah dan saraf-saraf yang menyelimutinya berwarna ungu.


Suara detaknya membuat darah Heaven berdesir aneh seakan darahnnya mendidih dan ingin meledak.


“Racun es.” Wira menatap benda itu saat matanya menyipit.



“Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Ia masih duduk di lantai, memandangi Tuannya dengan cemas.


  Wira mengembuskan napas kasar, air mukanya tampak gelisah.


“Mau bagiamana lagi, tidak ada cara lain,” ucapnya kembali memandangi benda berdetak yang sedingin es itu.


Tcesni terkesiap membulatkan matanya kemudian berteriak, “Tidak! Tidak boleh, kau tidak boleh melakukan itu!”


Air matanya keluar tanpa bisa ditahan lagi. Wira akan mengrobankan dirinya? Ia tidak ingin kehilangan tuannya!


“Ibu mengorbankan dirinya demi aku, aku mengorbankan diri demi kalian. Impas kan?”


Matanya melirik pada Tcesni yang menutupi mukanya dengan telapak tangan, raungannya makin mejadi dan sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


“Tcesni, jangan menangis. Semua pasti baik-baik saja.” Heaven membungkuk berusaha meraih bahu Tcesni yang terguncang akibat tangisnya.

__ADS_1


Tapi belum sempat tangannya sampai, duri-duri tajam seketika muncul dari tubuh Tcesni saat dia berteriak dengan marah,“Jangan sentuh aku!”


Duri-duri itu seketika bermunculan dari tubuh Tcesni dan melukai tangan Heaven yang mati rasa, beberapa tetes darah yang hampir menyentuh lantai malah beterbangan di udara dan menuju ke benda berdetak kebiruan di depan mereka.


Pemandangan itu disaksikan oleh Wira dan Tcesni.


Perlahan-lahan warna ungu pada saraf-saraf jantung es itu memudar dan tergantikan dengan warna hijau yang cantik!


Hempasan energi yang hangat menerpa mereka saat hilangnya racun pada jantung es dan detaknya kini menjadi normal kembali.


Hawa dingin yang membekukan tulang kini berganti dengan rasa hangat yang nyaman, seperti saat kamu berada di dalam selimut di musim hujan.


“Heaven ... ”



“Bukan aku, sungguh!”


Heaven panik saat netra kedua makhluk berbeda di depannya itu menatapnya, menuntut penjelasan.


Suasana menjadi hening, mereka saling menatap dalam kebingungan dan pikiran masing-masing untuk beberapa saat hingga suara pintu formasi dibuka.


“Nona Tcesni, keadaan di luar sudah kembali normal!”


Mata Tcesni langsung berbinar. “Bagus, cepat periksa secara keseluruhan!”


Wira berjalan mendekati Heaven, meraih tangannya yang terluka dan masih mengeluarkan darah.


“Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi terima kasih.” Wira membekukan kulit Heaven yang terluka dan darah berhenti seketika.



“Kau pengguna elemen es?!”


Heaven sangat terkejut akan hal itu. Orang yang mampu mengendalikan elemen es mampu mengendalikan elemen angin dan air, jadi wira setidaknya menguasai tiga elemen!


“Tidak, jiwaku adalah jiwa es bukan elemen. Elemen dihasilkan dari latihan dan penyatuan hati sementara aku sudah terlahir dengan elemen es,” jelas wira.


Mereka telah keluar dari pohon besar itu dan melihat-lihat sekitar untuk memeriksa.


“Jiwa es? Aku tidak pernah dengar hal seperti itu.”


Wira tidak menjelaskan lebih lanjut, netra emasnya menyapu seluruh daratan itu saat dia dengan tenang berkata, “Heaven, apakah kau punya garis keturunan darah Phoenix?”


Heaven berpikir sejenak kemudian menggeleng.


Ia sendiri tak yakin karena pada kenyataannya ia adalah anak yang ditemukan oleh orang baik yang kini dipanggilnya dengan ‘Ayah’.

__ADS_1


Meski tak pernah terusik dengan kenyataan, ada kalanya Heaven bertanya-tanya mengapa ia dibuang, atau apakah dia terlahir dari sebuah batu atau juga ia keluar dari dalam tanah?


Jika dia dibuang mengapa orang tuanya begitu kejam mengapa tidak membunuhnya saja sejak awal.


Tapi seberapa keras pun Heaven membenci kenyataan ia juga tak mampu berbuat banyak selain menjalani hidup. Setidaknya ia tak boleh mati sebelum membanggakan ayahnya.


  “Yah, apapun itu setidaknya sekarang semua sudah kembali normal kan?”


Heaven dengan acuh berjalan menuju ke tepi danau saat dia berkata, “ayo pulang, aku sangat lapar!”


________________________


Heaven masih terus berlatih di bawah air terjun yang deras.


Matahari sudah naik ke puncak tertinggi dan dia masih tenggelam dalam sesi latihan yang diberikan Wira, bahunya kini mati rasa.


Air yang jatuh dari ketinggian itu seperti belati yang turun dari langit.


Sementara Heaven berlatih dengan gila, Wira duduk di bawah pohon sambil meminum teh-nya dan makan camilan.


Tcesni baru saja datang membawa makan siang untuk mereka, masalah di pohon kehidupan sudah selesai bahkan jantung es kini menjadi sangat baik dan lebih baik dari sebelumnya.


“Apa kau tidak bisa membiarkannya istirahan sebentar?”


Tcesni mengeluarkan banyak makanan dari keranjang yang dibawanya.


“Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi kuat.”


Hanya itu yang dia katakan dan Tcesni tidak melanjutkan membujuk tuan-nya. Dia paham betul karakter Wira, jika dia bilang Heaven harus berhasil dalam satu minggu maka itulah yang harus terjadi.


Heaven bersikeras ingin menguasai elemen es seperti Wira dan berhasil membuat Wira akhirnya membantunya berlatih tapi sekarang ia sedikit menyesal, Wira bahkan tak mengizinkanya untuk istirahat meski sebentar.


Heaven masih duduk di bawah guyuran air terjun hingga dua hari berikutnya, ia sudah benar-benar tenggelam dalam alam bawah sadarnya sekarang.


Hingga di tengah malam ketiga


Purnama berada di puncaknya


Heaven membuka matanya dengan intens saat dia tersentak dari alam bawahnya kemudian tertawa dengan keras.


Ia bangun dengan sepoyongan karena lemas dan semua anggota tubuhnya terasa sakit, seluruh pundaknya bahkan sudah memar seperti menahan batu besar yang sangat berat.


Seseorang melompat dari atas pohon.


“Selamat atas pencerahannya.”


Di bawah sinar bulan penuh malam itu Wira tampak menawan seperti biasanya. Heaven hanya tersenyum dengan lemah kemudian pingsan saat Wira menangkapnya.

__ADS_1


 


__ADS_2