The Escapade

The Escapade
Episode 46


__ADS_3

Setelah membantai hampir setengah dari mereka Riander berteriak untuk memberi perintah.


“Sudah cukup,” kata Riander dan mereka semua berhenti.


Setelah mereka membantai banyak roh kecil, mereka mulai merasa lapar. Terutama Heaven, dia merasa kakinya bahkan sudah tidak mampu menahan bobot tubuhnya lagi.


Dia menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berbaring dengan napas yang tersengal-sengal.


   “Aku lapar,” katanya saat dia berbaring dengan tubuh lelah.


Paula duduk di sampingnya dan segera mencibir, “Huh, kau memang selalu lapar, kan?”


Bella ikut duduk di dekat mereka dan mengeluarkan perbekalan yang dibawakan oleh klan Lizardman sebelumnya.


   “Semuanya, ayo makan!” panggil Bella pada yang lain.


Mereka kemudian berkumpul dan duduk untuk makan karena mereka semua juga mulai merasa perut mereka keroncongan, tidak ada yang tahu apakah saat itu adalah siang, sore, atau malam hari karena hutan itu sangat gelap seolah-olah ada kubah pelindung yang menghalangi sinar matahari untuk masuk.


   “Hey, jangan merebut punyaku!”


Heaven menoleh sambil menggigit makanannya. “Apa? Tidak ada nama mu di sini,” katanya santai saat dia menatap Paula di sampingnya.


Paula merengut, dia tidak ingin berdebat untuk saat ini, jadi dia mengambil lagi satu roti kukus dan langsung memakannya dengan kejam saat matanya melihat roti itu sebagai Heaven, sementara Heaven dan Wira yang melihatnya merasa bergidik.


   “Tuan, bagaimana keadaan Anda?” tanya Riander pada pria yang tadi mereka bebaskan dari tebing batu.


   “Sudah lebih baik, terima kasih,” katanya,


“Ini ... buah apa ini?” Dia menunjuk pada buah dengan warna oranye cerah yang memiliki bau harum yang khas.


   “Kami mendapatkan hadiah kecil dari teman baru yang kami temui di perjalanan, mereka menyebutnya buah pohon nobilis.”


Penjelasan dari Riander membuat pria itu tersedak dan terbatuk beberapa kali saat buah itu baru saja masuk ke mulutnya.


Dia lalu menoleh untuk melihat Riander dengan terkejut dan bertanya dengan nada yang agak tinggi, “Kau bilang apa barusan?”


Pria itu melamun sebentar, matanya menatap buah nobilis dengan tidak percaya sebelum kemudian bertanya lagi. “Ini ... pulau tengkorak?”

__ADS_1


Riander mengangguk saat dia berkata, “Benar,” dengan ekspresi bingung.


Mereka semua menatap pria itu dengan bingung. Ada apa dengannya? Apakah otaknya rusak karena terkurung di dinding batu dan menempel seperti cicak di sana terlalu lama?


   “Itu ... Nama mu, siapa nama mu, paman?”


Paula mencubit lengan atasnya dengan mata mendelik saat dia berkata dengan lirih,


“Dasar tidak sopan?”


   “Benar, agak aneh jika kami terus memanggil Anda dengan sebutan Tuan,” tambah Riander.


Pria itu menenggak habis airnya sebelum dia menjawab dengan suara serak, “David.”


   “Oke, Paman David, boleh aku bertanya?” Heaven melirik Paula dan mencoba sesopan mungkin yang ia bisa.


David tidak mengatakan apa-apa tetapi hanya mengangguk sebagai jawaban.


   “Kenapa kau bisa terkurung di sana? Apa kau terjebak atau ada seseorang yang sengaja memenjarakanmu di dinding itu?” tanya Heaven lagi dengan serius.


Dia menjadi bergidik lagi ketika dia memikirkan saat mereka pertama kali melihat David.


Tapi siapa yang begitu kejam hingga sanggup memberikan hukuman yang begitu kejam di tempat yang sangat dingin dan menyeramkan seperti ini?


Bagian atas tubuhnya di biarkan tidak memakai apapun dan merasakan dingin yang sangat menusuk, sementara bagian bawah tubuhnya harus di jepit dan di kubur di antara tebing dan batu.


   “Kau benar.”


Heaven kembali sadar dan menoleh pada David yang berada di seberangnya, duduk di sebelah Riander. David menghela napasnya sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.


   “Ada orang yang sengaja mengurungku di sini.” Ada kilatan cahaya di matanya dan aura pembunuhan yang kental tiba-tiba menguar dari tubuhnya.


   “Dia adalah bajingan, penghianat, dan iblis yang sangat kejam! Dia benar-benar brengsek!” katanya dengan dingin.


Heaven bisa merasakan hawa dingin yang semakin menusuk hatinya ketika dia melihat kemarahan yang melintas dari mata David. Rambutnya yang masih berantakan semakin menambah kengerian di wajahnya yang keras dan kejam.


Tidak ada yang berbicara untuk beberapa detik dan suasana menjadi hening seketika, hanya ada semilir angin dingin yang membuat mereka menggigil.

__ADS_1


Saat David menyadari apa yang baru saja dia katakan, dia tercengang. Dia menatap mereka satu per satu sebelum kemudian tertawa. “Lupakan itu,” katanya setelah tawanya berhenti.


   “Aku benar-benar berterima kasih karena kalian sudah membantu melepaskanku,” ucapnya dengan tulus. Matanya kemudian jatuh pada Heaven dan berhenti di sana untuk beberapa saat.


Wira menyipitkan matanya ketika dia melihat ini, dia tahu ada sesuatu tetapi tidak pasti apa itu. Yang pasti pria itu tidak memiliki niat buruk pada Heaven, tidak ada energi negatif yang memancar dari tubuhnya, sebaliknya hanya ada energi yang hangat ketika dia menatap Heaven. Itu sangat berbeda saat dia melihat yang lainnya.


   “Siapa nama mu?” tanyanya pada Heaven setelah cukup lama menatapnya.


   “Heaven.”


   “Siapa orang tua mu?”


Heaven batuk, dia tersedak karena dia masih makan ketika David melontarkan pertanyaannya lagi.


   “Uhuk-uhuk, untuk apa kau bertanya?” Alih-alih menjawab, Heaven malah melemparkan pertanyaan lagi pada David. Dia belajar itu dari Wira.


   “Jawab saja, bocah,” katanya sambil menyipitkan matanya dengan kesal.


Dia tidak suka bagaimana cara anak itu berperilaku terhadapnya, dia dulunya adalah dewa perang badai yang perkasa, meski sekarang keadaannya masih sangat buruk dia tetap bisa menghancurkan satu kota bersama penduduknya sekaligus!


Tetapi kemudian David tersenyum, tingkahnya benar-benar mirip dia! Dia sangat mirip dengan majikannya. Ketika dia memikirkan itu, senyum yang baru saja mengembang di bibirnya langsung hilang.


   “Tidak bisa, itu masalah privasi,” kata Heaven ketus.


“Kau tidak bisa memaksa seseorang jika dia tidak mau.” Dia kemudian mengambil lagi makanan yang masih ada dan mulai makan lagi.


Paula mendelik dan benar-benar ingin memukul kepala Heaven, tetapi itu tidak sopan jika melakukannya di depan orang asing.


Tapi dia benar-benar ingin memukulnya! Bagaimana bisa anak ini begitu kasar? David adalah pria yang baru saja mereka tolong, tetapi kendati begitu, Paula tahu bahwa David bukanlah orang biasa.


Basis energinya sangat besar, jika tidak bagaimana bisa dia masih bisa hidup di tempat seperti ini tanpa air dan makanan?


   “Baiklah, terserah saja.” David benar-benar dibuat jengkel, dia benar-benar ingin tahu siapa anak itu tetapi Heaven malah menjawabnya dengan begitu kasar? Huh, jika dia tidak memiliki kesabaran yang baik untuk saat ini takutnya bocah nakal itu tidak bisa hidup untuk makan besok pagi.


Sementara itu, Riander menggaruk kepalanya dengan bingung. Dia tidak mengerti apa-apa tapi dia menebak bahwa pria ini mungkin mengetahui sesuatu tentang orang tua asli Heaven.


Namun apakah Heaven memiliki pemikiran seperti itu? Dia tidak memiliki pikiran apapun selain mengisi perutnya untuk saat ini.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2