The Escapade

The Escapade
EPISODE 64


__ADS_3

   “Astaga, ini harus segera diselesaikan,” katanya sambil terus menatap luka-lukanya melalui cermin.


“Jika tidak maka aku akan jadi orang pertama yang mengoleksi goresan luka pada tubuh!”


Dia kemudian pergi untuk menyiapkan air ramuan untuk mandi. Akan sangat buruk jika semua luka-luka itu membekas seumur hidupnya.


...


Oberyn sedang merendam tubuhnya ke dalam bak mandi berisi ramuan dan tanaman herbal.


Uap perlahan-lahan naik dan memudar di udara, sementara Obeyrn menyandarkan kepalanya pada pinggiran bak dan memejamkan mata. Menikmati sensasi mandi air hangat yang penuh tanaman obat, terlepas dari baunya yang agak menyengat oberyn sangat senang dengan hasilnya.


Rasa sakit dan perih dari luka-lukanya perlahan mengilang, kepalanya juga mulai terasa lebih ringan dan dia dipenuhi dengan rasa enerjik lagi.


   “Setelah seharian berlatih, berendam dengan air hangat adalah pilihan yang tepat,” monolognya.


Setelah kurang lebih 15 menit, Obeyrn sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia menarik jubah mandi dan membalut tubuhnya, membuang sisa air mandinya yang sekarang berubah menjadi sangat keruh dan menyimpan kembali peralatan dan herbal yang tersisa.


Tidak banyak pelayan yang ada di rumah milik Hydra karena dia telah menempatkan semuanya di akademi untuk membantu di sana.


Oberyn merenggangkan otot-ototnya saat dia selesai berganti pakaian dan berjalan keluar untuk menghirup udara segar.


   “Yup, saatnya mengunjungi beberapa orang,” katanya setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Sementara itu, Shinrain sedang berada di ruang latihan pilnya. Dia sangat keras kepala tentang kenaikan tingkat, meski sudah menghambiskan hampir seluruh persediannya untuk satu bulan kedepan, dia tetap melakukannya.


Melakukan serangkaian percobaan untuk meningkatkan kualitas pilnya.


Dia telah menjadi Master Ekselir Tingkat Bumi dan telah berada di tingkat itu selama satu tahun terakhir, dia merasa sangat tertekan dengan itu walau tidak mengatakannya pada siapapun.


Selama hampir satu tahun dia tidak mengalami peningkatan, Shinrain tahu tidak ada sesuatu yang praktis di dunia ini dan dia sangat mengerti tentang hal itu.


Tapi setelah satu tahun berlatih dan tidak mendapatkan hasil apa-apa, itu rasanya sangat menyebalkan sampai dia merasa ingin memukul seseorang!


Dia menghela napas kasar dan hampir putus asa, saat asap mengepul keluar dari tungku pembuatan pil miliknya. Shinrain merasa jantungnya berdegup lebih cepat, dia menelan liurnya dan menjadi gugup seketika.

__ADS_1


Saat itu dibuka, aroma pil yang kuat langsung menyebar ke seluruh ruangan. Shinrain mengulurkan tangannya untuk melihat hasilnya, saat kabut perlahan memudar bahu Shinrain juga ikut merosot.


   “Gagal lagi, ya?”


Dia menoleh dan mendapati Oberyn yang sekarang sedang duduk di jendela sambil mengamatinya.


   “Jangan menyerah, ayo coba lagi! Lagipula kau sudah menghabiskan semua persediaanmu, kan? Tidak masalah jika sekali atau dua kali percobaan lagi,” kata Oberyn.


   “Diam dan pergilah dari sini.”


Tapi perkataan Oberyn mulai menganggunya, dia melirik setumpuk tanaman herbal dan beberapa botol di rak penyimpanan di sudut ruangan dan mulai tampak berpikir.


Bagaimanapun dia telah melakukan hampir lebih dari 100 kali percobaan dan semuanya gagal. Yang paling memuaskan dari semua ini adalah beberapa pil yang dihasilkan masih bisa dijual ke paviliun obat untuk ditukar lagi dengan uang atau bahan herbal.


Shinrain kemudian memandangi pil di tangannya, sebuah garis samar terlihat bergerak-gerak di dalam pil. Warna emasnya yang dominan tidak cerah sama sekali dan sangat redup, pertanda bahwa itu masih pil tingkat menengah, bukan kualitas tinggi.


Semua eksperinya tidak luput dari pengamatan Oberyn yang diam-diam memperhatikannya dari jendela, Oberyn kemudian melompat untuk masuk ke ruangan itu dan berjalan perlahan-lahan memutari seisi ruangan.


Memeriksa puluhan botol berisi pil yang gagal__well, tidak sepenuhnya gagal, hanya tidak berada di tingkat tinggi saja__, melihat-lihat rak penyimpanan bahan baku pil, memainkan beberapa tanaman yang terlihat gosong yang menumpuk di atas meja.


Shinrain yang berdiri di sebelahnya hanya berdecih kecil saat melihat itu.


   “Tidak perlu berlagak, lagipula kau bukannya tahu mengenai pembuatan pil,” ejeknya.


Oberyn berbalik. “Memang, tapi aku tahu siapa yang bisa membantumu.”


   “Benarkan?” tanya Shinrain dengan skeptis. Dia menaikkan satu alisnya saat memandang Obeyrn.


   “Tentu saja, tapi ... tiba-tiba aku lupa siapa dia. Siapa ya namanya? Hem ...,” kata Obeyrn sambil mengetukkan jari telunjuknya ke dagu seolah-olah sedang berpikir.


Shinrain memutar bola matanya dengan malas. “Kau sungguh lupa atau memang tidak tahu? Sudahlah, pergi dari sini dan jangan ganggu aku,” usirnya.


Oberyn mencebik dan ingin mengatakan sesuatu tetapi Shinrain langsung melemparkan dua botol penuh pil tingkat menengah yang baru saja dia hasilkan kepada Oberyn untuk mengusirnya.


   “Hey, kau benar-benar tidak ingin tahu orang yang bisa membantumu?” tanya Oberyn.

__ADS_1


Dia sungguh-sungguh ingin membantunya kali ini, dia sangat tulus tapi Shinrain sepertinya tidak memiliki kepercayaan pada adiknya itu.


   “Tidak, pergilah.”


   “Kau yakin?”


   “Jika kau tidak pergi, aku akan mematahkan tanganmu!”


Oberyn melompati jendela setelah mendengar nada garang Shinrain, dia kemudian membalik badannya.


“Bagaimana jika aku bilang dia adalah junior kita?”


   “Tidak ada junior kita yang bisa melampauiku dalam hal ini,” kata Shinrain acuh.


   “Bukan mereka, tapi siswa yang baru masuk,” jelas Oberyn.


Shinrain berhenti dari aktifiasnya, lalu membalik badan untuk melihat Oberyn di luar jendela. Dia menyipitkan matanya tidak percaya sementara Obeyrn mengangguk meyakinkan.


   “Kau bisa tanya Rian jika kau tidak percaya padaku,” kata Oberyn lagi dengan senyum miring di wajahnya.


Shinrain diam sejenak. Dia memang tidak bisa mempercayai Oberyn karena anak itu selalu tidak pernah bisa dipercaya, apalagi setelah insiden di pulau tengkorak dimana dia telah mengungkapkan kekuatannya sebenarnya. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain pergi menemui adik ketiganya untuk bertanya.


Shinrain sebenarnya bisa meminta Tetua Taman Obat untuk mengajarinya, tetapi itu akan sangat sulit. Pil tingkat tinggi pada dasarnya memang memiliki tingkat kerumitan yang sangat tinggi, selain itu bahan-bahan pembuatannya juga sangat memperngaruhi pil yang dihasilkan.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Shinrain sadar dia tidak punya banyak pilihan selain apa yang ditawarkan Oberyn.


Dia sudah sangat tertekan dengan ketidakmampuannya berkembang lebih jauh, sementara ambisinya sangat besar dalam hal pengobatan, jadi Shinrain setuju untuk ikut menemui adik bungu mereka.


Sementara Oberyn, tertawa riang dalam hatinya karena dia tidak akan sendirian menemui Riander. Adik bungsu mereka itu sebenarnya tidak menakutkan, tidak ada yang menakutkan kecuali kemarahan Shinrain bagi Oberyn.


Tapi Oberyn selalu merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu pada diri Rian yang bisa membuatnya takut.


   “Bagus, kalau begitu ayo pergi!”


   “Dengar ya, aku ini tidak punya maksut apa-apa,” kata Oberyn. “Aku hanya ingin membantumu, itu saja.”

__ADS_1


Berambung ...


__ADS_2