
Tanah di tempat ini sangat kering dan gersang dan banyak pohon kering yang sudah menghitam.
Burung pemakan bangkai bertengger di dahan pohon menatap mereka, bersiap menyantap jika salah satu dari mereka kehilangan nyawa.
Reander mencium bau harum dan mengikutinya, hingga mereka sampai pada ladang bunga yang luas.
“Ladang bunga di tempat seperti ini?”
“Rasanya memang aneh, apalagi tanahnya sangat kering dan tidak subur sama sekali.”
“Jangan-jangan ini adalah bunga Imperial Kristal Api!” pekik salah seorang dari mereka sambil menunjuk bunga itu.
“Imperial Kristal Api adalah salah satu tanaman obat yang paling langka,” yang lain ikut menimpali.
“Tidak hanya itu, orang yang bisa menyerap dan memurnikan energi dari bunga Imperial Kristal Api akan dapat memiliki elemen api,” jelas Riander Chigo.
Mereka menatap liar sepetak ladang bunga itu dan ada kilatan di mata mereka. Sedetik kemudian semua anak buah Riander Chigo mulai dengan gila berlari menuju ladang bunga.
Semua orang dengan gila mulai memetik bunga itu sebanyak mungkin, namun pimpinan mereka masih diam di tempat sambil mengerutkan kening.
Dia merasa ada yang tidak beres tapi dengan cepat menggelengkan kepala dan mulai maju.
“Aghr--!” teriakan itu berasal dari ladang bunga.
Seseorang tergeletak ditanah dengan tubuh yang sudah membusuk, tak lama jeritan dan lolongan lainnya terdengar saling bertautan dan beberapa dari mereka jatuh bergelimpangan, mati dan membusuk dengan cepat.
“Bunga ini beracun!” salah satu dari mereka berteriak namun sudah terlambat, seketika semua anggota tim pencari tergeletak di tanah dan tak bernyawa.
Riander Chigo menyaksikan pemandangan mengerikan itu dan mulai bergidik, semua anak buahnya mati begitu saja karena keserakahan mereka.
Ini bahkan belum satu hari, meski tidak ada jejak waktu di sana tapi memang mereka baru saja menginjakkan kaki di Tanah Iblis belum lama.
Riander berbalik dengan segera dan mulai menjauh dari sana. “Aku tidak akan pernah meragukan instingku lagi!”
Dua hari dua malam berlalu dan Riander akhirnya dapat menemukan gerbang berkarat itu lagi.
Dia kembali ke Akademi Atas Angin dengan terbang di atas selembar dauh maple besar.
Di depan gerbang Akademi, dua penjaga sedang berbincang untuk menghilangkah rasa bosan dari tugas bergilir untuk menjaga gerbang.
Sebenarnya itu hanya formalitas, karena siapa yang berani membuat kerusuhan di Akademi Atas Awan? Memangnya mereka ingin mati?
Mereka masih terus berbincang hingga di kejutkan dengan sesuatu yang jatuh dari langit, membuat debu berterbangan mengaburkan pandangan.
__ADS_1
“Siapa itu?!” salah satu dari mereka berteriak. Dua orang itu dengan cepat berdiri dengan sikap antisipasi.
“Ini aku.” Suara itu terdengar sangat lemah.
Setelah debu menghilang terbawa angin, tampaklah seseorang yang terbaring di tanah, tampilannya sangat buruk dengan pakaian yang rusak dan tubuh penuh luka dan berdarah.
“Ini aku, tolong aku.” Rintihnya sekali lagi.
Dengan cepat dua orang itu membantunya berdiri.
“Tuan Muda Riander! Apa yang terjadi pada anda?”
Mereka dengan cepat membawanya ke dalam Akademi untuk di rawat.
Kamar Riander Chigo.
Riander Chigo terbaring dengan lemah di atas ranjangnya, ada banyak perban yang membungkus beberapa bagian tubuhnya. Seseorang membuka pintu kamar di ikuti beberapa langkah kaki.
“Rian, bagaimana keadaanmu?”
Itu adalah ayah angkatnya, Hydra Jogmungandr dan juga beberapa pimpinan akademi dan kedua kakak-nya.
Riander bangun dari posisinya dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Aku tidak apa-apa, para tetua tidak perlu khawatir.”
“Benar, Adik, berhentilah sok kuat. Oke!” sambung Oberyn Chigo.
Riander hanya mampu mengangguk. Percuma saja berpura-pura baik saja bahkan anak umur lima tahun juga tahu bahwa lukanya cukup serius dan menyakitkan.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Handeen Vader, Ketua lapangan Aula Akademi Atas angin.
Riander kemudian menceritakan apa yang sudah di laluinya di dalam Tanah Iblis.
Itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, mereka yang hanya mendengar ceritanya saja sudah sangat merinding apalagi Riander yang mengalaminya sendiri.
Tempat itu adalah tanah iblis!
Tempat itu benar-benar sebuah neraka!
“Ketua, apa yang dialami Riander sangat mengerikan. Untung saja ia bisa kembali dengan selamat,” kata Suanshe ikut bicara.
“Benar, Riander sangat di berkati oleh surga, meski Riander sudah mencapai Alam Pendekar Element tapi peluang kembali hidup-hidup dari Tanah Iblis sangatlah kecil.” Thier, salah satu petinggi Akademi ikut menyahut.
Hydra mengangguk kecil. Anak ini memang memiliki berkah surga.
__ADS_1
Suanshe menyeringai tipis, ide licik tiba-tiba muncul dalam otaknya.
“Ketua, Tuan muda Riander mungkin kembali dengar selamat tapi tim yang di bawanya tidak ada yang kembali. Akademi sudah rugi besar dalam hal ini,” kata Suanshe dengan nada serius.
Headeen paham kemana arah pembicaraan ini dan segera ikut ambil bagian.
Sekecil apapun api, ia akan menggunakan api itu untuk membakar Paul dan anaknya. Matanya segera menjadi sangat jahat!
“Benar, Ketua, jika ini terus berlanjut maka---”
Belum sempat Headeen menyelesaikan kalimatnya, Riander menjatuhan diri dari ranjang dan bersujud di depan Hydra.
Keningnya bersatu dengan lantai yang dingin.
“Ini salahku, mohon Ketua menghukum!”
Semua orang di ruangan itu terkesiap, beberapa meringis karena perban putih yang membungkus tubuh Riander kini berubah merah karena luka yang kembali terbuka.
“Ayah!”
“Ketua!”
Hydra diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas berat.
“Bangunlah, bagaimanapun ini juga bukan salahmu.”
Oberyn Chigo maju ke depan berusaha membantu adiknya itu untuk kembali naik ke atas ranjang namun di tolak.
“Tidak kakak, bagaimanapun sebagai ketua tim akulah yang bertanggung jawab atas misi ini dan nyawa mereka.
Dan sekarang bukan hanya misi, tapi juga aku gagal mempertahankan nyawa anggotaku! Ini adalah ....” Riander tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Setiap kata yang di ucapkannya adalah kebenaran yang menusuk hatinya.
Ini adalah kegagalan pertamanya!
Semua orang di sana saling berpandangan dengan cemas.
“Riander, ini bukan salahmu. Bukankah tidak baik menempatkan ketua pada posisi ini?” kata Thier.
Riander tak menggubris, tetap bersujud dengan hati yang sangat sakit.
“ini salah anak sialan itu!” kata Oberyn marah.
“Benar, Ketua, ini sangat tidak sepadan dengan kerugian yang di alami Akademi,” sambung Thier dan mendapat anggukan dari yang lain.
Oberyn Chigo maju menghadap Hydra.
“Jika tidak bisa berperan sebagai ayah yang baik setidaknya jadilah pemimpin yang bijak!”
__ADS_1
Plak!