
“Pergi mandi sana!” Heaven mengusirnya dengan galak.
Paul ingin menolak tetapi Heaven memelototinya jadi mau tidak mau dia dengan enggan pergi.
Semua anak buahnya tercengang, Heaven memelototi Paul dan bahkan mengusirnya? Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang berani melakukan itu di seluruh daratan ini.
...
Sementara Heaven dan Wira duduk di meja jamuan, Paul pergi mengganti pakaiannya.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kepala Akademi sudah banyak mengirimkan tim pencari tapi tidak ada satupun dari mereka yang menemukanmu atau bahkan jejakmu.” Paul mulai dengan pertanyaan saat mereka menikmati makanan bersama.
Heaven hendak menjawab tetapi tangan Paul melambai untuk menyuruhnya jangan bicara karena mulutnya penuh dengan makanan.
Setelah semua itu ditelan Heaven menjawab, “Tentu saja mereka tidak akan menemukanku.”
“Tapi kepala akademi boleh juga, dia rela melakukan banyak hal untukku.” Ada tawa jahat di wajahnya saat dia mengatakan itu.
“Boleh juga kepalamu!”
Heaven tidak tahu apa yang sudah di korbankan Paul untuk mendapat banyak bantuan dari rubah tua itu dan Heaven malah bilang dia baik? Otak anaknya ini memang harus diperbaiki.
“Jadi ... ekhem, kau membawa siapa ini?” Dia batuk beberapa kali saat menatap Wira.
“Saya Wira,” katanya sambil tersenyum.
Heaven sudah selesai dengan makanannya dan dia meneguk banyak air.
“Dia Wira dan dia akan tinggal di sini bersama kita,” kata Heaven seolah-olah semua keputusan ada di tangannya dan itu sudah pasti.
Paul tidak mengatakan apa-apa tetapi dia tertawa dan mengangguk setuju.
“Terima kasih paman.” Wira membungkukan badannya dengan hormat.
“Apa katamu?” tanya Paul dengan marah.
Heaven meliriknya saat menggigit apelnya dengan heran sementara Wira mengernyit.
Apakah ada yang salah dari ucapannya?
Apakah orang-orang di luar Dunia Kaca mengartikan kata ‘Terima Kasih’ sebagai penghinaan? Wira menjadi gugup dan segera ingin meminta maaf.
“Bagaimana bisa kau memanggilku paman, panggil aku ‘Ayah’ mengerti?”
__ADS_1
Wira merasa hatinya akan melompat keluar dari mulutnya. Dia melirik Heaven dan melihatnya mengangguk dengan antusias.
Dia baru saja sampai di sini dan mereka bahkan belum mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa dia langsung mengangkatnya menjadi anaknya?
Wira dengan cepat membungkuk lagi dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
“Hahaha, bagus-bagus!” Paul tertawa dengan keras.
Paul tidak cemas sama sekali dan tidak terlalu waspada pada Wira, jika dia adalah teman Heaven itu sudah cukup untuknya dan dia percaya.
Lagipula jika seseorang mengkhianatinya, tidak ada akhir yang baik untuk mereka selain mati mengenaskan.
“Jadi kemana kau selama ini? Bahkan utusan dari Master Kota juga kehilangan jejakmu. Ayah sempat berpikir kau dimakan binatang buas, huhu.”
Paul hampir gila karena memikirkan Heaven. Dia tidak hidup untuk dirinya sendiri, apa jadinya dia jika Heaven mati?
“Dia tidak mengalami semua hal buruk itu,” kata Wira dengan tenang.
Beberapa pelayan wanita yang diminta Heaven datang dan menangkan teh untuk Wira, segera ruangan itu di penuhi oleh aroma teh yang khas.
“Dia masuk ke dunia kecil milikku dan menetap beberapa waktu di sana.”
“Kau punya dunia kecilmu sendiri?”
Paul terkejut dan dia lebih terkejut lagi saat mendengar apa yang dikatakan Heaven. Dia menatap Wira dengan tidak percaya.
Bagaimana itu mungkin?
Dia masih begitu muda, usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan Heaven. Bagaimana bisa dia begitu hebat? Bahkan dirinya sendiri juga belum tentu mampu menciptkan dunia kecilnya sendiri.
Wira tahu Paul tidak percaya, jadi dia menjelaskan lebih lanjut.
“Itu hanya warisan dari ibuku.”
Paul menghembuskan napas yang sedari ditahannya, itu mengingatkan Wira pada saat pertama kali Heaven bertemu Shilpy. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dia diam-diam tersenyum dalam hatinya.
“Jadi, ibumu sudah di tingkat Master Element atau Raga Sejati?”
Wira menggeleng. “Aku tidak tahu, dia sudah lama pergi,” jawabnya.
Paul melihat Heaven dan dia menggelengkan kepalanya agar Paul tidak melanjutkan topik itu.
“Baiklah, kau sendiri sudah di tingkat apa?” Paul bertanya lagi dengan canggung.
__ADS_1
“Kalau di pikir-pikir, sudah bisa menyimpan Dunia Kecil ke dalam lautan Spirit setidaknya sudah berada di level pendekar, kan?”
Wira menggeleng lagi membuat Paul menggaruk kepalanya dan melirik Heaven lagi. Heaven memijit pelipisnya dengan pasrah, ayahnya ini tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
“Sudahlah, kami lelah dan ingin istirahat.”
Paul mengangguk dan dengan cepat berkata, “Itu benar, istirahat di sini dulu. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar kalian ke kamar.”
Heaven tidak bilang apa-apa lagi dan segera pergi, sudah cukup lelah berjalan seharian dan saat pulang harus menghadapi tingkah konyol ayahnya, benar-benar membuatnya lelah. Dia hanya ingin tidur sekarang.
“Terima kasih,” ucap Wira saat tubuhnya kembali sedikit membungkuk.
Paul berdiri di sana menunggu ucapan selanjutnya dari Wira dengan wajah datar.
“ ... Ayah.”
Ada getaran Aneh saat dia mengucapkan kata itu, dia tidak terbiasa dan itu membuatnya tidak nyaman.
Paul tersenyum puas kemudian menyuruh seseorang mengantar Wira untuk segera beristirahat.
“Biasakan dirimu mulai sekarang,” kata Paul sebelum dia menghilang kembali ke ruangan pribadinya.
Di ruangan pribadi Paul Falamir
Tora ada di sana sepanjang sore karena Paul memintanya untuk mendengarkan ceritanya.
“Kau tahu, saat dia kecil dia bahkan tidak mau turun dari gendonganku. Tapi kau lihat tadi?”
“Dia bahkan mengusirku di depan begitu banyak mata.”
Dia mengomel sepanjang sore dan menceritakan bagaimana perbedaan sikap anaknya dari kecil hingga sekarang.
“Mungkin karena pergaulan.” Tora menebak-nebak dengan tidak pasti.
“Tidak mungkin.” Dia melambaikan tangannya tidak percaya.
“Dia tidak punya banyak teman, dan semua temannya aku kenal.”
Paul yakin soal itu. Dia tiba-tiba teringat sosok Wira, anak itu ...
Wajahnya berubah serius saat bertanya, “Bagaimana menurutmu tentang anak itu?”
Tora diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Dia terlihat tidak biasa.”
__ADS_1
“Apakah anda tidak mempercayainya?”