The Escapade

The Escapade
Episode 55


__ADS_3

   “Sudahlah, yang terpenting sekarang poin kita sudah terkumpul banyak. Tidak perlu pedulikan hal-hal yang tidak mungkin terjadi,” kata Paula lagi.


Heaven menegakkan tubuhnya kemudian beralih pada kursi dan mendudukinya. Kepalanya diletakkan di atas meja dengan lesu, tepat saat itu Riander datang menghampiri mereka setelah melaporkan hasil dari tim sepuluh yang dipimpinnya.


   “Kalian terlihat kecewa, apa karena kepulangan kita yang tiba-tiba dimajukan?” tanya Rian saat dia menarik salah satu kursi dan duduk bersama mereka.


Tidak ada jawaban tapi Riander tahu bahwa tebakannya pasti benar.


   “Bukan hanya itu,” tutur Paula. “Ini tentang ubur-ubur api yang kita lewatkan.”


Riander mengangguk mengerti. “Ya, sayang sekali kita tidak bisa menemukannya.”


   “Bagaimana mungkin menemukan hal yang memang tidak ada.”


Semua orang menatap David karena kata-katanya barusan, tidak ada yang meragukan perkataannya tapi mereka percaya bahwa itu memang benar-benar ada.


Terutama karena Rian, pemimpin mereka mengatakan bahwa ubur-ubur api itu memang nyata.


   “Mengapa Anda mengatakan hal seperti itu?”


   “Apa yang harus ku katakan? Kau tidak bisa menceritakan dongeng, itu hanya untuk anak-anak bukan para pejuang seperti mereka.”


Dia terkekeh pelan sambil meletakkan kembali cangkirnya kemudian melanjutkan, “Tapi sekarang aku tidak yakin kalian masih bisa disebut sebagai pejuang setelah semua hal konyol ini.”


   “Ini bukan hal konyol,” serga Heaven tiba-tiba.


Dia menatap David dengan tatapan tidak suka yang sama sekali tidak disembunyikan.


   “Seorang pejuang bukan hanya mereka yang bertempur di medan perang tetapi semua orang yang berani mengambil langkah di jalan yang bahkan tidak pernah dilalui siapapun sebelumnya. Sesuatu yang tidak bisa kau lihat atau tidak pernah dilihat siapapun belum tentu tidak nyata.”


Paula melonggo mendengar apa yang baru saja di ucapkan Heaven, bukan hanya Paula tetapi semua yang yang di meja itu. Mereka sama-sama tidak percaya pada apa yang baru saja mereka saksikan.


Juga David, dia cukup terkesan dengan Heaven. Dia semakin yakin setelah melihat aura yang dipancarkan anak itu saat dia mengatakan hal-hal barusan, itu benar-benar mirip dia!


David tidak mengerti mengapa dia merasa Heaven sangat mirip dengan majikannya, setelah mereka sampai nanti David sendiri yang akan memastikan kebenaran tentang Heaven.

__ADS_1


   “Jadi berhentilah mengatakan seolah-olah hanya kau yang hebat di sini, jika kau memang sangat hebat kau tidak mungkin terkurung di dinding batu itu selama bertahun-tahun.”


Prang!


Cangkir ceramik berisi air teh di tangan David hancur berkeping-keping dan airnya tumpah kemana-mana. Semua orang terkejut, bahkan beberapa senior yang duduk agak jauh dari mereka juga ikut kaget karena keributan itu.


Heaven menutup mulutnya dangan cepat menggunakan kedua tangannya, dia sangat terkejut dan seperti baru saja sadar dari linglung. Dia dengan cepat tersenyum malu-malu saat dia menyadari betapa marahnya David saat dia menatapnya.


   “Jangan bahas ini lagi,” kata David setelah menetralkan emosinya. David tidak bisa membunuh bocah nakal itu sekarang, dia harus memastikan dulu identitas macam apa yang dimilikinya.


   “Hehe, baiklah. Tidak bicara lagi.” Heaven dengan cepat menutup mulutnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memberi jempol pada David.


Wira berdiri di sebelahnya dan terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Heaven yang melihat itu segera menarik kursi di sebelah kirinya untuk membuat Wira duduk.


Setelah Wira duduk, Heaven langsung bertanya. “Ada yang ingin kau katakan?”


Wira mengangguk sebentar sebelum akhirnya berkata, “Ubur-ubur api adalah salah satu dari sekian banyaknya jenis hewan spirit, tidak mudah untuk bisa menemukan mereka.”


Semua orang menatapnya dan mendengarkan, bahkan Riander menyimak dengan baik.


Wira ikut mengangguk kemudian melanjutkan. “Penyebab kita tidak bisa menemukan mereka selain karena mereka memang sangat langka adalah ... mereka tidak hidup di kawah berapi.”


   “Lalu mereka hidup di mana?” Liam tidak bisa menahan dirinya dan segera bertanya.


Dia sudah banyak membaca berbagai macam buku, dan sangat sedikit dari mereka yang menuliskan tentang ubur-ubur api, itulah mengapa makhluk spirit satu ini banyak dikenal sebagai mitos belaka yang tidak benar keberadaannya.


   “Mereka tinggal di perairan di mana semakin ke dalam airnya akan semakin hangat, itu berguna untuk menstimulasi sistem tubuh mereka yang mengandung element api, tetapi karena mereka pada dasarnya adalah makhluk air maka mereka harus tetap tinggal di dalam air tetapi dengan suhu yang hangat.”


   “Tunggu dulu, dari mana kau tahu tentang semua ini?” tanya David bingung.


   “Kau tidak perlu tahu, toh kau tidak akan percaya,” kata Heaven menyela dengan cepat sebelum Wira sempat menjawab, sementara David hanya mencibir mendengarnya.


   “Air yang semakin dalam maka suhunya semakin naik, memangnya ada?”


“Danau Dantosa,” celetuk Riander.

__ADS_1


 Paula tampak berpikir keras, dia merasa sangat tidak asing dengan nama itu tapi dia tidak bisa mengingatkanya sama sekali.


   “Danau Dantosa?” ulang Paula sambil terus berpikir keras.


   “Danau Dantosa adalah danau yang berada di kepulauan barat daya kerajaan angin yang merupakan perbatasan langsung antara kerajaan angin dan kerajaan api, bagaimana bisa tempat seperti itu menjadi sarang ubur-ubur api?”


David adalah Dewa Perang Badai yang legendaris, perbatasan barat daya juga dia yang menetapkan batasnya setelah perang panjang dan negosiasi rumit antardua kerajaan, tapi dia sama sekali tidak pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya.


Jadi bagaimana bisa ubur-ubur api tinggal di danau itu tanpa ada satu orang pun yang tahu? Itu pasti tidak benar.


   “Ubur-ubur api adalah hewan spirit tingkat tinggi, tidak sembarang orang bisa merasakan keberadaan mereka,” jelas Wira lagi seolah mengetahui isi pikiran David.


David segera mengerti tapi dia masih ragu, jika memang ubur-ubur itu tinggal di sana maka dia sendiri yang akan membuktikannya.


David harus memeriksanya dengan matanya sendiri, dia tidak akan percaya meski seribu mata yang melihat jika bukan matanya salah satu dari mereka.


   “Tunggu sebentar,” kata Heaven saat menyadari ada yang salah.


Dia menoleh pada Wira dan memelototinya sambil berteriak.


“Jika kau tahu sejak awal tentang semua ini kenapa tidak memberi tahu kami sebelumnya?!”


Wira hanya mengangkat kedua bahunya tanpa rasa bersalah sama sekali dan mengatakan, “Tidak ada yang bertanya.”


   “Siapa yang mengira kalau kau bisa tahu banyak!”


   “Maaf, salahku.”


   “Ya, itu memang salahmu!”


"Aku tahu." Wira mengangguk memahami apa yang mereka kesalkan.


"Aku tahu," balas Heaven mengikuti gaya bicara Wira.


Dia tidak membalas lagi, dia diam-diam tersenyum pada dirinya sendiri. Wira belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dia belajar banyak hal setelah keluar dari dunia kaca.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2