The Escapade

The Escapade
Episode 54


__ADS_3

 


Saat Oberyn sampai di depan tombak bermata tiga itu, jantungnya berdebar sangat kencang. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh gagang tombak berwarna emas itu, getaran segera terjadi saat Oberyn menyentuhnya.


Tapi dia tidak peduli, dia tidak mengendurkan pegangannya sama sekali pada tombak itu.


Saat getaran semakin kuat, suara petapa itu kembali terdengar tapi kali ini bersama dengan wujudnya, wujud rohnya.


Dia menghampiri Oberyn yang masih setia memegangi tombak itu dan menolak melepaskannya.


   “Senjata milikku tidak mudah ditaklukan, dia memiliki kesadaran seperti hal-nya hewan spirit. Jika kau tidak sanggup membuatnya tunduk, maka sebaiknya kau melepaskannya.”


Oberyn mendengarnya tapi dia tetap tidak melepaskan tombak itu, dia telah berusaha sampai harus membongkar kartu as yang paling dia rahasiakan selama ini jadi bagaimana bisa dia membiarkan orang lain mengambilnya.


Ini adalah miliknya!


Oberyn kemudian melepaskan satu tangannya dan menggigit satu jari tangannya kemudian mengoleskan darahnya pada senjata pusaka itu dan seketika itu juga guncangan berhenti.


Pusaka itu juga telah resmi menjadi miliknya. Itu miliknya!


Getaran perlahan-lahan menghilang dan kemudian lenyap. Cahaya emas pada tombak bermata tiga itu juga meredup dan kemudian berkedip beberapa kali, tanda bahwa dia telah tunduk pada tuan barunya.


Petapa di belakangnya tertawa saat dia melihat ini. “Hahaha, bagus-bagus. Senjata milikku dan sekarang itu menjadi milikmu.”


   “Dengar nak, tidak peduli sebesar dan sekuat apa dirimu pada akhirnya tetap tidak boleh sembarangan menyinggung orang,” kata petapa itu sambil menepuk pelan bahu Oberyn kemudian melanjutkan,


“Aku dulu juga sama sepertimu, tidak peduli apapun itu asal tujuanku tercapai. Ingat baik-baik, nak. Kehancuran selalu berjalan beriringan dengan kesombongan.”


Perlahan-lahan wujud roh petapa itu memudar dan akhirnya menghilang, berubah menjadi debu-debu berkilau yang kemudian naik ke langit.


Setelah roh petapa itu menghilang, getaran hebat terjadi lagi dan mulai membuat dunia kecil itu perlahan-lahan runtuh. Portal jalan keluar segera muncul dan mereka juga dengan cepat keluar.


Diego dan beberapa orang lainnya yang masih hidup menyeret kaki mereka dengan susah payah menuju portal untuk keluar, mereka tidak ingin mati di dunia kecil ini.


Sementara mayat para pria bertopeng dan mayat empat dan enam besar akademi itu dibiarkan begitu saja di sana dan akhirnya ikut lenyap menjadi partkel-partikel kecil dan menghilang.

__ADS_1


Saat mereka keluar, hari hampir pagi. Tapi yang membuat mereka terkejut adalah ada banyak mayat pria bertopeng tergeletak di tanah.


Riander segera pergi untuk melihat para junior, banyak dari mereka yang terluka karena serangan kelompok pria bertopeng malam itu. Mereka tidak hanya menyerang murid senior tetapi juga menargetkan calon adik junior mereka!


Oberyn berjalan ke sisi Shinrain dan mengulurkan telapak tangannya. Shinrain yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya dengan bingung.


   “Berikan aku pil penyembuh!” kata Oberyn kesal setelah Shinrain tidak meresponnya sama sekali.


   “Kenapa minta padaku?”


   “Ck, berikan saja! Aku tidak membawanya.”


Shinrain hanya memutar bola matanya tapi tetapi memberikan pil penyembuh dari cincin penyimpanannya pada Oberyn.


   “Hey.”


Shinrai menoleh ketika Oberyn memanggilnya, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi setelah cukup lama Shinrain menunggu, Oberyn tetap tidak mengatakan apa-apa.


   “Apa yang ingin kau katakan?”


Riander hanya melihat mereka berdua dari kejauhan, dia tidak berani mendekat dan lebih memilih menyibukkan diri dengan mengurus para junior yang terluka. Dia tidak punya cukup keberanian untuk masuk diantara dua saudara kandung itu.


Shinrain mengerti apa yang ingin adik keduanya katakan, tapi Obeyrn benar-benar tidak memiliki keberanian untuk mendengar tentang semua itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya kemudian membantu Riander.


Apa yang dikatakan pemimpin pria bertopeng itu benar, Oberyn adalah anak yang paling dicintai oleh Hydra.


Dia adalah anak yang paling ayah mereka cintai, tapi Oberyn tidak pernah tahu itu dan Hydra telah berhenti menunjukan rasa sayangnya yang berlebihan karena dia takut Oberyn menjadi manja dan tidak memiliki semangat juang sama sekali.


Setiap kali Shinrain protes tentang bagaimana Hydra sangat mementingkan adik keduanya itu dibanding yang lain, Hydra selalu menjawabnya dengan gelengan kepala dan kemudian mengelus pelan puncak kepalanya lalu pergi, setelah itu Shinrain tidak pernah bisa menemukan ayahnya untuk waktu yang cukup lama.


Lamat-lamat, cahaya matahari pagi telah terbit dan menyinari pulau itu. Cahaya keemasan itu menerangi tanah yang basah oleh cairan merah dan mayat yang berserakan.


Hari itu adalah hari keempat mereka di pulau tengkorak. Setelah semua junior selesai diobati, Riander menghitung mereka yang tersisa.


   “Dua puluh delapan orang,” ucap Rian setelah menghitung mereka.

__ADS_1


Shinrain berdiri di sampingnya dan mengatakan, “Para tetua memutuskan untuk mempercepat kepulangan kita.”


Suara ******* berat penuh kekecewaan dari Paula menarik perhatian banyak orang, Heaven yang ada di sampingnya langsung menutup mulutnya dan memarahinya.


Shinrain melanjutkan. “Insiden kali ini tidak boleh tersebar, jika informasi ini sampai bocor ...” dia tidak melanjutkan perkataannya tapi wajahnya segera menjadi gelap dan terlihat sangat menakutkan.


   “Kalian mengerti?”


   “Mengerti!” jawab mereka semua serentak.


Mereka akhirnya naik ke kapal lagi untuk kembali ke akademi.


   “Huft padahal seharusnya kita masih punya dua hari lagi sebelum kembali,” keluh Paula.


Bella duduk di sampingnya dan mencoba menghiburnya.


   “Sudah cukup bagus karena kita bisa kembali dengan selamat,” cibir Heaven sambil memandang keluar jendela kapal dengan tangan bertumpu pada daun jendela.


Paula mendengus saat dia kembali berkata,


“Ini semua karena sekelompok ninja bertopeng itu!”


   “Benar, entah apa tujuan mereka menyerang kita.” Liam berkata dengan bingung sambil membetulkan letak kacamatanya. “Jika bukan karena ada David mungkin kita sudah mati,” katanya lagi.


David yang mendengar itu menyemburkan air dari mulutnya dengan intens, dia dengan cepat melambaikan tangannya saat dia berkata, “Tidak-tidak, aku tidak melakukan apa-apa.”


Dia melirik Wira sebentar kemudian kembali fokus pada tehnya. Dia memang tidak melakukan apa-apa, semua itu karena anak berambut putih yang kini berdiri di sebelah Heaven.


Wira yang membunuh semua pria bertopeng itu dan menggunakan namanya sebagai alasan. Anak ini benar-benar tidak biasa.


   “Sayang sekali tidak bisa melihat ubur-ubur api yang melegenda.” Heaven masih berdiri sambil bersandar pada jendela. Melihat hamparan bintang di ruang waktu yang mereka lintasi.


   “Ku pikir mereka benar-benar tidak ada,” kata Paula.


   “Ku rasa juga begitu,” balas Bella sambil mengambil tempat duduk di samping Paula.

__ADS_1


Mereka tidak yakin apakah ubur-ubur api itu benar-benar nyata atau hanya cerita, awalnya mereka mengira bisa melihat dan membawanya pulang untuk di tunjukan pada semua orang tapi pada akhirnya sekelompok pria bertopeng menyerang mereka yang mengakibatkan kepulangan mereka dipercepat.


Bersambung ...


__ADS_2