The Escapade

The Escapade
EPISODE 68


__ADS_3

Erina kemudian menatap mereka dengan wajah marah. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi dia tetap mencobanya dan menjadi wali kelas dari keempat belas siswa yang baru lulus ujian itu.


Dia sangat membutuhkan uang jadi saat kakak dari ibunya menawarkan pekerjaan ini dia tidak ragu untuk menerimanya.


Erina menghela napas kasar dan memandang mereka, sepuluh dari empat belas adalah laki-laki dan empat lainnya adalah murid perempuan. Diskriminasi semacam ini sudah sangat sering ia lihat selama hidupnya.


   “Tidak ada gunanya kalian menolakku,” kata Erina dengan tenang.


   “Baiklah, begini saja.” Erina menyatukan kedua tangannya dan mulai bicara.


“Satu bulan, jika dalam waktu satu bulan kalian masih merasa bahwa aku tidak pantas menjadi penanggung jawab kelas ini maka aku akan mengundurkan diri, bagaimana?”


Semua murid saling menatap dan tampak berpikir, kemudian mengangguk setuju. Meski begitu, mereka tidak akan menjadi penurut begitu saja. Dalam wakti satu bulan, mereka akan membuat hidup Erina seperti berada di neraka dan dia tidak akan melupakannya.


   “Bagus, karena semua sudah setuju mari kita mulai dari perkenalan dulu.”


Dia kembali ke kursinya dan membuka buku, kemudian menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri.


   “Baiklah, dari ... meja sebela kiri dulu saja,” katanya setelah menimbang-nimbang dengan bingung.


Wira memperhatikan bagaimana wali kelas mereka itu bicara, tingkah lakunya dan semua gerakan tubuhnya. Dia bisa menyimpulkan bahwa Erina belum pernah mengajar sebelumnya, meski begitu Wira bisa merasakan energi yang sangat kuat berasal dari dalam diri Erina.


Dia memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi, wajahnya yang dingin dan tanpa emosi itu sangat menonjol diantara teman sekelasnya yang lain.


   “Oke, karena ini adalah hari pertama bagi kalian masuk kelas, aku akan menjelaskan tentang beberapa peraturan pen—”


   “Tidak perlu, semua orang juga sudah tahu tentang peraturan penting Akademi.”


   “Hey, Ansel, jangan menyela. Kau mau dipukul oleh gadis itu lagi ya?”


Ansel mendengus dingin, dia melirik Paula yang duduk satu tingkat di bawahnya dengan mata tajam. Ansel menggertakkan giginya dengan kesal, dia tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya apalagi oleh seorang wanita, dia pasti akan membalasnya!


   “Baiklah, tenang dan jangan ribut,” kata Erina saat kelas mulai kembali ricuh.


Sementara Erina menjelaskan beberapa hal penting perihal pelajaran dan hal-hal yang boleh mereka lakukan selama di akademi, Heaven menyandarkan kepalanya pada meja dan terlihat mengantuk.


Dia hampir tertidur saat Paula menjentikkan jarinya ke telinga Heaven dengan kuat sampai telinganya menjadi merah.


   “Heh, kau gila ya?”

__ADS_1


Paula mencibir. “Tidak boleh tidur dikelas.”


Erina mengalihkan pandangannya pada kedua orang itu saat mendengar suara mereka. Lalu bertanya, “Apa ada masalah?”


   “Dia tidur dikelas,” adu Paula, jari telunjuknya menunjuk pada Heaven.


Tapi Heaven langsung menggelengkan kepalanya dan dengan cepat mengatakan, “Tidak, aku tidak tidur kok!”


   “Kau tidur, aku lihat kau memejamkan matamu.” Paula masih keras kepala dengan jawabannya, membuat Heaven kesal. Gadis ini benar-benar tidak bisa diam.


   “Apa semua orang yang memejamkan mata mereka itu tidur? Mereka bisa saja sudah mati!” pekik Heaven kesal.


Sandor berdecak kesal dari kursinya dan melemparkan buku pada mereka berdua.


   “Diam kalian, sangat berisik. Dasar sampah.”


Paula akan kembali mengamuk jika Heaven tidak segera menarik tangannya untuk duduk dan menutup mulutnya, gadis keras kepala ini bisa jadi sangat berbahaya jika dia menginginkannya.


Satu minggu berlalu, Erina telah mengajar keempat belas muridnya dengan sangat baik tetapi sepertinya itu belum cukup untuk meluluhkan hati mereka untuk mengakuinya sebagai penanggung jawab mereka.


Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu ruang kelasnya. Saat pintu dibuka, tidak ada seorangpun di dalamnya, kecuali lima anak.


Meski merasa heran, dia tetap menampilkan senyum tebaiknya kemudian berjalan masuk.


   “Selamat pagi!” sapa Erina ketika dia meletakkan bukunya di atas meja.


   “Selamat pagi.”


Dia menatap mereka, mereka juga menatapnya. Erina tahu mereka sedang kasihan padanya tapi dia tidak membutuhkan itu, selama dia bisa berjuang maka dia pasti akan berjuang.


Lagipula dia tidak berjuang untuk dirinya sendiri, dia berjuang untuk ibunya, adik-adiknya dan keluarganya.


   “Jadi, ada yang tahu di mana anak-anak yang lain?” tanyanya pada mereka.


Bella dan yang lainnya menggelengkan kepala mereka, Erian tidak tahu harus mengatakan apa, ada jeda yang cukup panjang setelahnya.


   “Bu, mereka sudah keterlaluan,” kata Paula setelah jeda panjang.


“Sebaiknya, Bu Erin mengatakan ini kepada kepala akademi. Bu, ini masalah yang serius.” Paula mencoba menjelaskan seberapa besar masalah yang sedang terjadi sekarang, tetapi Erina memberinya senyuman dan menggeleng.

__ADS_1


   “Tidak, tidak, Kepala Akademi sudah sangat sibuk dengan urusannya. Jika kau menganggunya untuk hal sekecil ini, itu sangat tidak pantas.”


Paula membuka mulutnya untuk protes lagi tetapi saat melihat tatapan memohon Erina untuk tidak melanjutkan pembicaraan ini, dia diam. Dia hanya bisa menggertakkan giginya dengan amarah yang teredam dalam hatinya.


   “Baiklah, karena hanya ada lima murid hari ini, maka kita akan belajar di luar ruangan.”


   “Ya, ada yang ingin kau katakan, Bella?” tanyanya ketika melihat Bella mengangkat tangannya.


   “Bu, sebenarnya ....” Bella melihat Erina sedang menunggunya untuk menyelesaikan kalimatnya, tapi dia sedikit tidak yakin tentang ini.


Haruskan dia memberitahunya atau tidak, Bella menundukkan kepalanya dan dia meremas jemarinya dengan gugup.


   “Katakan saja, tidak perlu takut.”


Bella mendongak untuk melihat Erina tersenyum padanya dan mencoba meyakinkannya.


   “Bu, sebenarnya Ansel dan teman-temannya yang memaksa semua murid untuk tidak lagi datang ke kelas,” kata Bella setelah beberapa kali tarikan napas.


“Dia bilang selama kau yang menjadi penanggung jawab kami maka mereka tidak boleh ikut pelajaran lagi.”


Sehari sebelumnya, setelah kelas selesai. Sandor, Ansel dan beberapa orang lainnya mendatangi asrama puteri dan memanggilnya dan dua siswi perempuan lainnya.


Saat itu, Paula sedang bersama Liam dan belajar bersama. Sandor dan teman-temannya menekankan pada mereka dan bahkan mengancam mereka, dia bilang dia akan mematahkan kaki siapa saja yang masih berani datang ke kelas saat Erina masih menjadi penanggung jawab mereka.


   “Biarkan saja, tidak ada yang dirugikan dalam hal ini selain mereka sendiri,”kata Heaven cepat saat Erina membuka mulutnya untut bicara.


   “Lagipula, ketidakhadiran mereka didalam kelas itu bagus.” Semua orang mengerutkan kening dengan bingung.


“Tidak ada orang yang akan membuat keributan dan kita bisa belajar dengan tenang.”


Paula hampir memukul Heaven saat mendengar kalimat terakhirnya, anak nakal ini selalu saja berpikiran sempit. Dia benar-benar akan memukulnya jika Heaven tidak segera menutup mulutnya.


   “Tapi itu akan buruk untuk reputasi Bu Erina,” ujar Liam.


Bersambung ...


 


  

__ADS_1


__ADS_2