
“Itu Wira!” dia menggongcang kedua bahu Heaven dengan keras hingga isi kepalnya ikut bergetar.
Paula melambai pada Wira dengan bersemangat. Itu satu ton! Bagaimana bisa pria seperti Wira yang bahkan tidak terlihat memiliki otot berlebih bisa mengangkat beban seberat itu?
Sementara itu, di bagian atas bagunan yang berada mengelilingi aula bagian dalam itu, para senior dan tetua banyak menonton mereka. Paul sedang minum dan hampir mati karena tersedak saat melihat bagaimana aksi Wira yang mengejutkan semua orang.
Dia terbatuk beberapa kali hingga wajahnya menjadi merah.
Semua tetua yang ada di sana secara reflek memandang Paul dengan tidak percaya.
“Dia ... anak angkatmu?” tanya Thier dengan hati-hati.
Paul mengangguk dengan percaya diri. Terlepas dari betapa terkejutnya juga dia, dia tetap bersikap tenang seolah-olah itu bukan apa-apa.
Jantung semua tetua hampir meloncat dari mulut mereka saat melihat Paul mengakui itu. Hasil dari ujian pertama sudah cukup membuat mereka menahan napas, tetapi sekarang ...
Itu bahkan lebih mengejutkan!
Bagaimana bisa Paul memungut kedua orang anak ini dan keduanya adalah bibit yang sangat laur biasa!
Orang-orang sejak awal sudah waspada terhada Paul sekarang menjadi lebih waspada lagi. Paul tahu itu tetapi dia tidak peduli sama sekali. Memangnya mereka punya nyali untuk itu?
...
Paul pulang dengan terburu-buru. Dia masuk memalui gerbang utama rumah dan langsung masuk. Dia tidak memperdulikan siapapun saat dia dengan cepat melangkah ke dalam rumah.
Para pelayan segera menyingkir dan tidak berani menyapa saat melihat betapa marahnya Paul.
Dia memang sangat marah!
Dan lebih daripada itu, dia juga sangat cemas.
“Kedua anak nakal itu tampaknya harus sedikit kuberi pelajaran.” Dia terus melangkah dengan cepat melewati ruangan demi ruangan.
Paul sudah memperingatkan mereka sebelumnya untuk tidak terlalu menonjol, terutama Wira. Dia bahkan tidak tahu pasti seberapa kuat anak itu jadi dia memintanya untuk berhati-hati.
Tetapi tampaknya itu tidak berhasil sama sekali. Jika mereka tidak mau mendengarkan perkataannya maka mereka harus mau mendengarkannya dengan pukulan.
Tepat ketika dia berpikir untuk memarahi mereka habis-habisan. Dia sampai di pintu dapur dan melihat punggung Wira.
Paul segera membuka pintu dan hendak membuka mulutnya dan memarahi mereka berdua saat aroma masakan yang lezat tiba-tiba mencapai indra penciumannya.
Wira berbalik untuk melihat Paul. Dia menyeka keringatnya sambil bertanya, “Ada apa, Ayah?”
__ADS_1
Paul tertegun sebentar saat melihat betapa kotornya kedua anak itu, apron yang dipakai Wira terdapat banyak bekas saus dan tepung. Sementara Heaven baru saja datang membawa semangkuk mie kuah pedas dengan muka penuh tepung.
Mereka sebenarnya sedang memasak? Dan itu makanan kesukaannya?
Mereka berdua saling memandang dengan bingung.
“Ada masalah apa?” Wira bertanya lagi saat dia meletakan beberapa bumbu di meja dan memandang Paul keheranan.
“Tidak! Tidak ada, tidak ada.” Katanya dengan cepat.
Beberapa waktu lalu dia masih sangat marah dan akan memarahi mereka habis-habisan. Tapi sekarang kemarahan itu telah ditekan dengan sangat baik hingga tak tersisa!
Bagaimana mungkin dia memarahi mereka dalam kondisi seperti ini, terutama bau itu, aroma masakan itu seketika mengalihkan dunianya.
Paul segera mendekat untuk melihat mie kuah pedas yang masih panas di atas meja. Ada asap putih yang samar dari sana, dan baunya sangat enak!
“Ada apa? Wajahmu tadi terlihat sangat panik dan seketika berubah saat mencium bau enak ini,” cibir Heaven saat dia melepas apronnya dan menghapus bekas tepung diwajahnya.
Paul akhirnya ingat dengan tujuannya kemari. Matanya berubah tajam saat melirik mereka berdua.
“Duduk,” kata Paul dengan tenang tetapi penuh penekanan.
Mereka duduk dengan patuh dan saling memandang untuk bertanya pada satu sama lain, tetapi tentu saja mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu mengapa ayah mereka terlihat sangat marah.
“Apa yang aku katakan sebelumnya pada kalian?” tanyanya.
Heaven mengerutkan alisnya, dia tidak ingat. Bukan karena ingatannya buruk tetapi ayahnya terlalu banyak bicara! Jadi perkataannya yang mana yang dia tanyakan saat ini?
Heaven menghela napasnya dan tampak tidak tertarik sama sekali dalam pembicaraan ini. Dia lebih memilih untuk melihat tampilan mie kuah pedas itu dan menghirup aromanya dalam-dalam.
“Apakah tidak ada satu pun dari kalian yang ingat?!” Paul kesal, tampilan wajahnya yang terlihat sangat patah hati membuat Heaven mual seketika.
“Kalian benar-benar keterlaluan! Benar-benar anak durhaka! Benar-benar ....”
“Perkataan yang mana yang kau maksut itu?!” tanya Heaven setengah berteriak. Ayahnya ini benar-benar menyebalkan, benar-benar berisik dan benar-benar ...
Paul menarik napas dalam-dalam dan tampak sangat sedih saat dia menatap kedua anaknya.
“Apakah soal keributan di ujian pagi ini?” tanya Wira setelah diam begitu lama.
Mata Paul langsung berbinar. “Benar!”
Dia batuk beberapa kali kemudian berkata,
__ADS_1
“Ayah sudah bilang untuk tidak terlalu menonjolkan diri kalian. Mengapa kalian tetap tidak mengerti juga?”
“Atau kalian menganggap semua omonganku hanya seperti angin lalu?”
“Tidak ada yang ingin menonjolkan diri,” kata Heaven sebelum Wira sempat menjawab.
“Aku tidak peduli, aku---”
“Bisakah aku permisi sebentar, makanannya sudah matang dan akan segera gosong,” kata Wira menyela.
Paul tertegun, dia sebenarnya lebih khawatir dengan makanannya dan bukan pada ayahnya yang sedang marah. Paul pasrah.
Dia menyandarkan punggungnya dan melambaikan tangan. “Ya, ya, cepatlah.”
Wira kembali dan ada satu nampan penuh makanan penutup. Mereka terlihat sangat cantik dan enak. Wira ini sebenarnya sangat berbakat dalam hal memasak.
“Silahkan dicoba.”
Dia memberikan masing-masing satu untuk mereka.
Paul tampak tidak dalam suasana hati yang baik untuk makan tetapi dia tetap mencobanya. Saat satu suapan itu masuk ke mulutnya, matanya langsung terbuka lebar. Itu meleleh seperti es dan manis seperti madu.
Dia tidak mengatakan apa-apa dan terus memasukan suapan demi suapan untuk mengisi mulutnya sampai pudingnya habis.
Dia melirik milik Heaven dan berniat mengambilnya tetapi Heaven menatapnya dengan tajam. Jadi dia hanya bisa melihat betapa anak itu menikmatinya.
“Jangan khawatir, aku masih punya banyak.”
Setelah makan cukup banyak, Paul hampir merasa tidak bisa bernapas dengan baik karena perutnya sangat besar sekarang.
“Masakanmu sangat enak!” kata Paul jujur. Dia mengusap perutnya seperti ibu hamil.
Kemarahannya sudah hilang dan dia tidak berniat marah lagi sekarang.
“Jadi si tua bangka Trioner itu terus mengujimu dengan melakukan banyak hal?” tanya Paul dengan perlahan saat melemaskan otot-otot di perutnya.
Wira mengangguk sebagai jawaban sambil menatap Paul. Dia tersenyum saat melihat berapa banyak yang dihabiskan Paul untuk mengisi perutnya.
“Rubah tua licik itu sangat berbahaya!” katanya.
“Kalian harus menjauhinya, mengerti?”
Bersambung ...
__ADS_1