
“Dasar bodoh! Apa kalian ingin membuatku mati? Lepaskan aku!” dia terus berteriak hingga membuat semua penduduk klan berkumpul di depan pintu goa.
Tetapi mereka tidak memperhatikannya sama sekali, mata mereka langsung terkunci pada pohon di dalam goa terutama pada buahnya. Mereka semua mulai menelan ludah dengan susah payah ketika mengingat rasanya.
“Ada apa ini? Cepat lepaskan Ayahku, tidak tahu sopan santun!” Dranxi datang dan langsung menyerang, tetapi hanya butuh satu gerakan dan dia sudah dilumpuhkan oleh salah satu pejuang.
Dranxi dibuat berlutut di tanah dengan tangan yang sudah terikat di belakang punggungnya. Sementara Draco yang sudah tua, berdiri di sana dengan tali yang melilit seluruh tubuhnya.
“Apa yang terjadi?” Heaven berbisik untuk bertanya pada Paula saat dia sudah berdiri di sampingnya dengan wajah polosnya.
“Bodoh! Bersihkan dulu wajahmu,” geram Paula saat melihat ada jus yang masih tersisa di sekitar dagu Heaven.
Heaven tidak mengatakan apa-apa, dia hanya terseyum lebar dan mulai menggerutu pada bekas jus dari buah yang dia makan sebelumnya.
Matahari perlahan-lahan turun dan langit berangsur-angsur menjadi gelap.
Tetapi wajah para pejuang dan juga penduduk klan Lizardman secerah matahari di siang hari. Heaven dan yang lainnya sedang membagikan buah dari pohon nobilis. Mereka semua masuk ke dalam goa dan tidak peduli sama sekali jika harus berdesakan, meski goa itu cukup luas tetapi rasa sesak karena kerumunan tidak dapat dihindari.
“Tenang, ada cukup buah untuk semua orang,” kata Riander saat massa mulai berebutan untuk mengambil buah dari tangannya.
“Terima kasih,” ucap Lizardman kecil dengan rambut di depang dua di kedua sisinya.
“Sama-sama!” Paula membungkuk untuk mengulurkan tangannya menyentuh puncak kepala Lizardman kecil itu.
Gadis kecil klan Lizardman itu tersenyum manis, membuat Paula gemas setengah mati. Dia benar-benar lucu dan manis, jika bisa Paula ingin membungkusnya dan membawanya pulang untuk dirinya sendiri.
Ada banyak kebahagiaan malam itu yang terpancar dari wajah para penduduk klan, satu per satu dari mereka merasa seperti melayang saat mereka menggigit buah nobilis yang manis. Rasanya lansung meleleh saat itu masuk ke dalam mulut.
Sementara di sisi lain, Draco sudah lemas dan tidak memiliki tenaga lagi untuk berteriak ketika dia melihat Heaven tanpa henti terus memetik buah nobilis miliknya dari cabang-cabang pohon. Dia terus memetiknya dan tidak berhenti sampai sembilan keranjang buah dengan ukuran besar itu terisi penuh dengan buah nobilis.
__ADS_1
Draco menangis dalam hati saat dia melihat betapa banyak dari klannya yang telah memakan buah miliknya. Dia ingin marah tetapi dia tidak berani, dia bahkan tidak berani bernapas terlalu keras saat melihat tatapan Riander terutama tatapan sedingin es dari manusia berambut putih yang berdiri di sampingnya sejak tadi.
“Wira!” Paula menghampirinya dan menyodorkan satu buah oranye itu padanya.
Wira tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengambilnya, tetapi Paula tetap berdiri di sana dengan mata yang penuh binar seolah ada banyak bintang di sana.
Wira menatapnya dengan bingung, jadi Paula menggunakan matanya untuk memberi kode bahwa dia ingin Wira juga memakan buah itu. Pada mulanya Wira tidak berminat sama sekali terhadap buah itu, tapi karena Paula terus memaksa dan bertingkah seperti seekor anjing yang menggoyangkan ekornya saat dia menatap Wira. Wira akhirnya setuju.
Dia membuka sedikit mulutnya dan menggigitnya sedikit, tapi Paula tampak tidak puas sama sekali.
“Apa-apa itu? Lihat! Semua orang memakannya dengan senang, tapi kau, kau malah hanya menggigitnya sedikit. Itu sangat sedikit bahkan seekor semut pun tidak akan kenyang!” sungutnya sambil mencebikkan bibirnya di depan Wira.
“Hey! Jangan paksa orang lain kalau dia tidak mau.”
Heaven sudah selesai memetik buah untuk mengisi beberapa keranjang milik klan Lizardman. Dia berjalan menuju ke tempat Wira dan Paula berada, di belakangnya juga terlihat Liam dan Bella ikut menyusul.
Wira sialan ini! Bagaimana bisa dia menolak niat baiknya, Paula bahkan khusus menyisakan satu buah yang paling cantik dengan kematangan yang sempurna hanya untuknya. Dia bahkan sempat bertengkar dengan salah satu penduduk untuk bisa mendapatkan buah itu. Tapi Wira benar-benar tidak menghargainya! Huh, Paula benar-benar kesal.
Dia melipat tangannya di depan dada dan membuang muka.
“Sudah selesai semua?” Tanya Riander yang datang paling akhir pada mereka.
“Sudah!” Mereka serempak menjawab.
Pandangan mereka kemudian turun pada Draco yang terduduk lemas di tanah, dia bersandar pada akar dari pohon nobilis dengan tatapan sedih bercampur kesal.
Draco seketika merinding saat dia mendongak dan melihat tatapan mengerikan yang diberikan Riander dan timnya.
__ADS_1
“A-apa yang kalian mau?” tanyanya dangan gugup. Jantungnya berdegup kencang terutama ketika satu per satu dari mereka mulai menyeringai dengan wajah seram.
“Apa lagi? Kalian sudah mengambil pohonku, apa kalian juga mau nyawaku?!” bentaknya dengan marah. Meski ada rasa takut di dalam hatinya tapi dia tetap harus mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pemimpin klan.
Heaven mencibir, “Memangnya nyawamu sangat berharga?” Paula, Liam dan Bella mengangguk seperti mereka sudah tahu jawabannya.
“Pohonmu?” Wira membungkuk untuk menatap pemimpin klan dari dekat, itu membuat Draco meneguk liurnya dengan gugup.
Tak lama, Wira kembali menegakkan tubuhnya saat dia berkata dengan dingin, “Sesuatu yang merupakan milik klan dan penduduk tidak boleh dimiliki secara pribadi.”
Draco menjadi tegang ketika dia mendengar itu dan seolah menyadari sesuatu, matanya kemudian melihat para penduduk klan Lizardman di seberang mereka. Mereka semua terlihat bahagia, hati Draco menjadi terenyuh saat dia melihat tawa riang dan pancaran kebahagian yang biasanya hanya mereka tunjukan saat festival.
Dia awalnya tidak berniat untuk memiliki pohon nobilis untuk dirinya sendiri, dia menyimpannya dengan baik untuk generasi mendatang mereka agar anak dan cucu mereka tetap bisa memakan buah ajaib itu di masa depan. Tetapi keserakah tiba-tiba muncul dan membuatnya lupa akan tujuan awalnya dan malah membuat kesalahan besar. Ada air di pelupuk matanya dan ada banyak penyesalan yang tiba-tiba datang dari dalam hatinya dan membuatnya terasa sesak.
“Sudah sadar atas kesalahanmu sekarang?” tanya Riander.
Draco mengangguk, air matanya jatuh dan dia tidak bisa menghapusnya karena dia masih diikat. Jadi dia membiarkannya turun seperti sungai kecil telah hadir di kedua pipi tua-nya.
Setelah melihat ketulusan itu, mereka melepaskan ikatannya dan Draco dengan cepat menghapus air matanya. Bagaimanapun dia masihlah pemimpin klan Lizardman yang hebat, mana bisa dia menjadi cengeng.
“Kami hanya ingin menyadarkanmu atas kesalahanmu, karena semua sudah selesai kami akan pergi.”
Riander dan tim-nya kemudian berbalik untuk pergi, tetapi Draco dengan cepat menghentikan mereka.
“Hari sudah gelap, gas dari rawa sangat aktif di malam hari,” jelas Draco dengan suara paraunya yang termakan usia.
“Sebaiknya tunggu sampai besok pagi,” katanya lagi dengan malu-malu.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Riander setuju untuk tinggal di sana sampai besok pagi. Apalagi saat melihat Heaven dan yang lainnya sudah tampak sangat letih, dia tidak mungkin memaksa mereka untuk melanjutkan perjalanan apalagi di luar pasti akan sangat berbahaya.
__ADS_1
“Baik, maaf merepotkan lagi kalau begitu,” kata Riander. Draco hanya mengangguk kecil kemudian memanggil Joe dan menyuruhnya untuk menyiapkan tempat tinggal sementara bagi mereka.