
“Huh, kalian masih ingin mengambil benda itu?” salah satu dari mereka bertanya mengejek sambil menunjuk ke arah pusaka.
“Kalian sebaiknya berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini hidup-hidup.”
“Memangnya mereka masih bisa keluar?”
“Bisa, tapi mayatnya saja.”
Sekumpulan pria itu kemudian tertawa terbahak-bahak, topeng di wajah mereka hanya menampilkan mata yang menyipit ketika mereka tertawa.
Oberyn dan Shinrain saling berpandangan, Riander dan Amber yang ada di sana juga langsung siaga dalam posisi tempur mereka.
Meski mereka baru saja melakukan pertarungan sengit, tidak ada satupun dari mereka berempat yang merasakan kelelahan.
“Cukup basa-basinya, ayo habisi mereka semua!”
Pemimpin pria bertopeng itu mengangkat tangannya dan dengan cepat memberi perintah.
Lebih dari selusin pria segera menyerbu ke arah mereka. Sementara pemimpin itu menatap benda pusaka yang melayang di udara, dia melirik sekilas enam besar akademi yang tergeletak di tanah dan mendengus jijik.
Ketika dia menaikan kembali pandangannya ke atas untuk memandangi pusaka itu, ada kilatan keserakahan di matanya.
Dia tidak memperdulikan apapun lagi dan dengan cepat melesat ke udara untuk mengambil benda pusaka itu. Oberyn yang sibuk bertarung dengan bawahannya segera berteriak pada Shinrain dan yang lainnya ketika dia melihat pemimpin kelompok bertopeng itu mengincar hartanya.
“Aku serahkan mereka padamu!” Dia kemudian terbang mengejar pimpinan pria itu dan langsung meninjunya dari belakang sampai pimpinan itu terpental di udara.
“Bocah sialan, kau mau mati lebih cepat ya?” pimpinan itu marah, matanya terlihat memerah dari balik topengnya.
Oberyn tidak menanggapi apa-apa, dia kembali melesat dan mengarahkan tinjunya untuk memukul pimpinan itu lagi.
“Ck, anak kecil juga berani melawanku. Benar-benar cari mati!”
Pimpinan itu mengeluarkan jurusnya, sebuah pedang api segera muncul dari telapak tangannya.
__ADS_1
Dia lalu bergerak ke arah Obeyrn dengan sangat cepat dan megayunkan pedang dengan gelora api yang panas ke arah Oberyn, tetapi Obeyrn segera mengubah arah geraknya dan menggunakan kakinya untuk menendang pria itu tapi pimpinan itu juga sama gesitnya seperti dia.
Mereka sama-sama mundur dan berhasil menghindari serang lawan, ada keterkejutan di mata pemimpin itu, dia menyipitkan matanya kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, kau Oberyn Chigo, anak kedua Hydra?” Oberyn tidak menjawab dan hanya menyipitkan matanya dengan tidak senang.
Tetapi pria di depannya ini kemudian membuka topengnya untuk memperlihatkan wajahnya, Oberyn terkesiap saat melihat wajah pria itu.
Ada luka bakar yang hampir menutupi seluruh wajahnya, ketika pria itu tersenyum luka di kulitnya menjadi retak dan mengelurkan darah.
Dia tidak meringis, sebaliknya pemimpin itu tersenyum semakin lebar tapi Oberyn hampir muntah saat melihatnya.
Pemimpin itu mengusap pelan wajahnya dengan telapak tangan sambil memejamkan matanya.
Setelah dia membuka matanya lagi, dia menatap Obeyrn dan berkata dengan suara lirih, “Kau tahu, dulu aku memiliki wajah yang tampan sepertimu. Kulitku sangat putih dan halus.”
Dia menggulung lengan bajunya untuk memperlihatkan perbandingan kulit lamanya dengan wajahnya yang sekarang telah rusak.
“Lihat, sangat bagus bukan?” dia menyentuh kulit lengannya kemudian bergantian pada wajahnya yang rusak.
“Ini semua karena ayahmu! Bajingan itu membuatku kehilangan segalanya. Dia merebut kedudukanku, hartaku, dan wanitaku!”
Dia menatap Oberyn dengan tatapan membunuh, tidak ada lagi senyum di wajahnya. Semua itu telah hilang dan hanya ada aura pembunuhan yang memancar darinya.
Pimpinan pria bertopeng itu kemudian mengangkat tangannya ke langit dan sebuah pedang petir muncul.
“Sekarang, biarkan aku mengambil sesuatu yang paling Hydra sayangi sebagai kompensasi.”
Setelah mengatakan itu, dia bergerak secepat kilat dan langsung mengarahkan pedangnya ke jantung Oberyn.
Oberyn yang terkejut mencoba mengelak tapi pimpinan itu sangat cepat. Ujung pedangnya mengenai dada Oberyn dan melukainya tetapi tidak sampai mengenai jantung. Darah segar segera mengucur dan membasahi baju tanpa lengan miliknya.
Tidak hanya sampai di situ, pimpinan pria bertopeng itu kembali bergerak dengan sangat cepat dan menyerang Obeyrn lagi.
__ADS_1
Riander, Shinrain dan Amber ingin membantu tapi sekelompok pria bertopeng itu terus saja menghalangi mereka dan tidak membiarkan mereka pergi. Mereka telah ditakdirkan untuk mati hari ini!
“Kakak, bertahanlah!” Rian berteriak pada Obeyrn tetapi tentu saja dia tidak bisa mendengarnya. Tidak ada kesempatan untuknya memikirkan apapun selain terus bergerak dan mengelak.
Oberyn benar-benar kewalahan sekarang, banyak luka goresan di tubuhnya dan ada robekan di mana-mana di baju tanpa lengan yang dia pakai.
“Hahaha, Hydra! Lihatlah bagaimana dendamku hari ini terbalaskan! Lihatlah bagaimana aku akan mengambil nyawa anak yang paling kau cintai ini!”
Anak kesayangan? Oberyn meludah ke sampingnya dengan wajah penuh teror. Dia benar-benar tidak mengerti omong kosong apa yang dibicarakan pria buruk rupa itu. Tapi pimpinan itu tidak membiarkannya memiliki kesempatan bahkan untuk menarik napas.
Dia kembali menyerang Oberyn dan mengayunkan pedang petir miliknya. Saat senjata kesayangannya itu hampir mengenai Oberyn, cahaya emas langsung memancar dari tubuh Oberyn dan membuatnya terpetal.
Saat dia bangkit untuk melihat, ada bayangan cangkang kura-kura hijau yang menyelimuti tubuh anak itu.
Oberyn menyeka mulutnya setelah dia memuntahkan banyak darah dan menatap pria itu. Dia kemudian berteriak dengan marah, “Kau ingin bertarung, kan? Maka ayo bertarung!”
Tapi pria di depannya itu memiliki ekspresi yang sangat sulit diartikan, wajahnya berubah menjadi segelap malam dan aura pembunuhan semakin membumbung tinggi meluap dari dirinya.
“Beraninya kau menggunakan itu,” kata pria itu dengan nada geraman rendah.
Oberyn hanya mengeryitkan dahinya tidak mengerti, tapi dia tidak peduli.
Oberyn tanpa menunggu apa-apa lagi segera melesat terbang ke arah pria itu untuk menghajarnya. Dia sebelumnya telah memojokkan Oberyn ke tembok hingga hampir menimbulkan rasa putus asa dalam dirinya.
Tapi kali ini Oberyn tidak akan membiarkan rasa takut itu datang lagi, dia tidak boleh takut pada orang lain tapi orang lainlah yang harus takut padanya!
“Matilah!” Oberyn mengulurkan tinjunya dengan kekuatan penuh dan menghantam langsung pria itu.
Debu pekat segera mengepul ketika pimpinan itu jatuh ke tanah dengan suara yang sangat keras. Shinrain dan yang lainnya menoleh ke arah Oberyn setelah mereka berhasil mengalahkan semua pria bertopeng itu.
Shinrain mengelurkan tiga botol pil obat penambah energi dari cincin penyimpanan miliknya dan memberikannya pada Amber dan adik bungsunya untuk mengembalikan energi yang hilang.
Oberyn masih melayang di atas sana dengan napas terengah-engah dan tubuh penuh luka. Dia batuk beberapak kali dan ada banyak darah yang keluar dari mulutnya, tapi Oberyn tidak menunggu untuk pulih sama sekali.
__ADS_1
Dia segera berbalik dan terbang lebih tinggi untuk mengambil pusaka tombak durnaga.
Bersambung ...