The Escapade

The Escapade
Episode 36


__ADS_3

“Hey hati-hati!” seru Oberyn saat dia mengomeli Riander.


Riander tidak peduli dan tidak bisa diganggu sama sekali saat matanya memeriksa pil di tangannya dengan teliti. Setelah memastikan sesuatu, dia menghembuskan napasnya dengan berat.


Dia menatap Wira dan bertanya, “Kau yang membuatnya?”


Wira mengangguk sebagai jawaban tetapi Riander merasa kulit kepalanya seperti mati rasa. Dia berkali-kali menatap pil di tangannya dan Wira secara bergantian dengan tatapan tidak percaya sama sekali.


Sekali lagi, Riander terlihat menghela napasnya. kemudian tanpa ragu menelan pil itu lalu kembali menyandarkan diri pada batu dibelakangnya.


Terlalu banyak kejutan yang terjadi hari ini, kepalanya terasa berputar.


"Sepertinya kakak pertama akan memiliki saingan berat mulai sekarang," kata Rian dalam hati.


Heaven melihat ekspresi Riander dan hanya tertawa geli dalam hatinya. Itu hanya pil, mereka semua juga tampak tidak percaya Wira yang membuatnya, tetapi dia tidak terganggu sama sekali. Mereka belum melihat semuanya, mereka belum tahu seberapa luar biasanya saudaranya itu.


...


Malam tiba dengan cepat.


Mereka masih berada di daratan dengah danau dan sedang menunggu untuk makan malam. Setelah Oberyn dan Riander menelan pil pemberian Wira, luka mereka sembuh denga cepat. Tetapi untuk malam ini, mereka akan beristirahat dengan baik untuk menghadapi hari berikutnya.


“Mutiara Kerang Darah Dewa ini, bagaimana kita membaginya?” tanya Liam tiba-tiba sambil menoleh pada mutiara sebesar bola kaki di sebelahnya.


“Tidak tahu, apa harus dibelah?”


“Bodoh!” Paula segera memukul Heaven saat mendengar pertanyaannya.


Harus dibelah? Itu mutiara bukan sebuah apel!


“Apa? Aku kan hanya bertanya!” Heaven merajuk saat dia memalingkan wajahnya dan enggan menatap Paula yang sekarang tampak benar-benar ingin menelannya hidup-hidup.


Sementara mereka memikirkan cara membagi mutiara, Wira sudah selesai dengan masakannya. Bau harum dari masakannya benar-benar memabukkan dan membuat perut mereka semakin keroncongan.

__ADS_1


“Selamat makan!”


Heaven makan dengan senang dan matanya tidak beralih dari potongan daging kerang miliknya. Itu benar-benar enak meski hanya di bumbui dan dimasak dengan sederhana. Wira benar-benar koki handal di timnya, atau bahkan di seluruh kota Skydray. 


Oberyn makan sangat banyak hingga sekarang perutnya terasa begah. Dia sudah memakan hampir semua makanan terkenal di kota tetapi ini pertama kalinya dia merasakan makanan yang seperti ini.


Setelah semua orang selesai mengisi perut mereka, saatnya mendiskusikan pembagian mutiaranya. Oberyn tidak peduli tentang hal kecil itu, setelah merasa kenyang matanya segera terasa berat dan dia tertidur dengan cepat.


Tetapi Riander dengan cepat mengatakan, “Kalian serap energinya, kita masih punya tiga tempat lagi yang masih memiliki barang bagus.”


Semua orang terlihat bingung saat mereka saling memandang, tapi Heaven dan Wira tetap tidak bergeming. Paula mengangkat tangannya untuk bertanya.


“Apa senior yakin barang berharga lainnya masih ada di sana?”


“Iya, bagaimana kalau tim lain sudah menemukannya lebih dulu?” Bella ikut bersuara dan di angguki juga oleh Liam.


Riander tertawa sambil menggelengkan kepalanya saat dia berkata, “Jangan khawatir, tempat itu tidak banyak diketahui orang. Lagipula kita akan bergerak cepat sebelum yang lain bisa menemukannya.”


Setelah mendengarnya mereka mau tidak mau menuruti perkataan Riander dan mulai menyerap energi dari Mutiara Darah Dewa, kecuali Wira. Dia hanya duduk di tempatnya dan membiarkan Heaven mengambil bagiannya untuk naik tingkat.


Keesokan harinya ...


Mereka segera berangkat setelah menghabiskan sisa daging kerang semalam, sementara Oberyn mengambil jalan sendiri.


Menuju tujuan kedua, mereka memiliki dua jalur. Jalur pertama adalah Rawa Gas Beracun dan jalur kedua adalah Hutan Mistik.


“Kita punya banyak tanaman herbal penangkal racun, sebaiknya lewat rawa saja,” saran Bella menatap mereka menunggu jawaban.


“Tapi jarak antara Hutan Mistik dan tempat yang kita tuju lebih dekat,” kata Liam saat dia menghitung jarak melalui peta.


Bella memutar bola matanya ke arah Liam.


“Tapi tidak pernah ada orang yang kembali hidup-hidup setelah mereka memasuki tempat itu, tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Itu sangat misterius.”

__ADS_1


“Itu sebabnya kita harus lewat sana, semakin sedikit tersentuh manusia akan semakin bagus.”


Liam terus berpikir untuk masuk ke Hutan Mistik sementara Bella menyarankan untuk melalui Rawa Gas Beracun. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang ingin mengalah.


Yang lain menjadi bingung saat melihat mereka bertengkar. Liam dan Bella memiliki pengetahuan yang luas di antara mereka berlima, jadi saat mereka bertengkar itu menjadi sangat rumit untuk yang lainnya.


“Berhenti bertengkar. Kita akan tetap lewat Rawa itu, kau mengerti?” Bella mencapai batasnya dan tidak ingin bertengkar lagi. Dia pergi dengan kesal dan meninggalkan yang lain di belakangnya.


Liam ingin membantahnya tetapi saat melihat betapa kesalnya gadis itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera menyusulnya.


Sisanya hanya saling memandang dan tidak tahu yang mengatakan apa, Riander juga tidak berani menyela sama sekali dan hanya menggaruk kepalanya dengan canggung.


Bertarung kata melawan wanita adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa pria menangkan.


Tidak ada yang mengatakan apa-apa selama perjalanan, mereka hanya memperhatikan bagaimana Liam membujuk Bella terus menerus sepanjang jalan tetapi tampaknya gadis bermata hijau itu tidak berminat sama sekali.


“Bell, maafkan aku. Oke?” Liam terus mengikuti langkah Bella dan tidak membiarkan jarak mereka menjadi jauh.


Mereka sudah memasuki kawasan rawa yang lembab dan berkabut. Ada banyak bebatuan dan juga beberapa pohon tumbang di sana jadi mereka tidak perlu turun langsung ke dalam rawa untuk bisa menyeberanginya.


“Tidak peduli!” kata Bella dengan ketus saat dia semakin mempercepat langkahnya. Tetapi saat kakinya menginjak batu berikutnya, batu itu langsung tenggelam dan dia akan jatuh jika Liam tidak dengan cepat menariknya kembali.


“Kau tidak apa-apa?”


Bella menoleh untuk melihat wajah Liam yang penuh kekhawatiran. Dia kemudian menyesal karena bersikap berlebihan sebelumnya, Liam bahkan masih menyelamatkannya walau sebelumnya sikapnya sangat kekanankan.


“Maaf,” kata Bella dengan kepala tertunduk.


Paula dan yang lainnya berada di belakang dan memperhatikan mereka. Sementara Liam menggelengkan kepalanya, saat mata mereka bertemu, jantung Liam berdetak kencang dan dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat wajahnya menjadi merah karena malu.


“Hey kalian! Ayo cepat jalan,” teriak Paula saat dia merasa menjadi patung di belakang mereka. Bella dan Liam menjadi salah tingkah, mereka dengan cepat berbalik dan melanjutkan langkah mereka dengan hati-hati.


Mereka sudah bisa melihat ke seberang rawa saat kabut menjadi sedikit memudar karena sinar matahari. Tetapi tak lama kemudian, Riander berteriak dan mengejutkan mereka semua.

__ADS_1


“Waspada, ada musuh!”


Bersambung ...


__ADS_2