
“Pergilah, anggap kalian tidak pernah datang kemari dan lupakan apapun yang kalian cari di sini. Jika tidak ....” Ekspresinya jatuh lagi dan menjadi semakin gelap dari sebelumnya.
Tetapi Riander tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa, dia dan timnya malah berbalik badan untuk melihat ke dalam kawah dan tidak memperhatikan Vuro sama sekali.
Itu membuat Vuro menjadi semakin marah. Sikap macam apa itu? Beraninya mereka tidak mendengarkannya!
“Heh, para tikus ini. Sebaiknya kalian dengarkan aku dan pergilah,” kata Vuro lagi. Tapi Rian dan yang lainnya masih sibuk melihat kawah seolah keberadaan Vuro bukanlah apa-apa.
“Kalian dengar tidak?!” teriak Vuro dengan keras.
Wajahnya menjadi merah padam karena marah. Meski begitu, mereka semua tetap tidak memperdulikannya, siapa yang akan melihat anjing buruk rupa yang menggonggong?
“Hey, haruskah kita mengurasnya?”
“Bodoh, kau pikir ini sebuah kolam?”
“Lalu bagaimana? Liam, Bella, kalian punya ide?” mereka berdua menggeleng.
Vuro hampir mati karena muntah darah ketika mendengarnya, mereka mengobrol tanpa ada yang menghiraukannya? Apakah mereka sudah bosan hidup?
Dia tidak tahan lagi, Vuro segera berlari ke arah mereka dengan tinju yang sudah melayang di udara.
Tetapi Rian dengan cepat bergeser ke samping hingga membuat Vuro kehilangan kendali dan hampir jatuh, Rian dengan cepat menarik bajunya dan melemparnya ke belakang sambil berkata, “Hati-hati, kau tidak sayang nyawa, ya?”
Vuro jatuh berguling di tanah dan menggelinding hingga ke bawah gunung, semua timnya berteriak panik dan segera menyusulnya ke kaki gunung.
Paula dan yang lainnya tidak bisa menahan tawa mereka, jadi mereka tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka sakit sekarang.
“Itu sepuluh besar akademi? Astaga, aku tiba-tiba merasa sedikit kasihan padanya,” kata Puala ketika tawanya mulai berhenti.
“Sudah tidak usah pedulikan,” kata Riander kembali menatap ke dalam kawah, “Kita lanjutkan urusan kita.”
Mereka mengangguk dan kembali memikirkan cara untuk mencari keberadaan ubur-ubur api.
Heaven melihat ke dalam kawah, tetapi tepat saat dia berbalik badan untuk melihat yang lainnya, Wira mendorongnya ke dalam kawah dengan satu tangan. Heaven bisa melihat wajah datar Wira saat dia melayan jatuh ke dalam kawah.
“Hivi!”
Heaven membulatkan matanya, dia segera menyadari bahwa dia telah jatuh ketika dia mendengar Paula meneriaki namanya.
__ADS_1
Heaven mengulurkan tangannya untuk mencari sesuatu untuk dipegang di dinding kawah tetapi tidak ada apa-apa di sana!
Heaven mencoba setenang mungkin dan mencoba mengeluarkan energinya untuk membantunya mengambang tapi seseorang telah memblokir pusat energinya!
Ada banyak percikan magma di permukaan kawah ketika tubuh Heaven tercebur dan tenggelam ke dalam magma cerah itu.
Jantung semua orang berdegup kencang!
Mereka semua melihat bagaimana Wira mendorong Heaven dan dia jatuh tenggelam ke dalam magma.
Paula tidak bisa mempercayai matanya, mereka semua tidak bisa mempercayai mata mereka!
David ada di sana dan melihat dengan jelas apa yang terjadi, dia ingin menyelamatkan anak itu tetapi dia tidak bisa bergegrak sama sekali!
Seseorang telah memblokir ruang geraknya, David sekuat tenaga mencoba melepaskan diri tetapi tidak berhasil sama sekali, sebaliknya, itu hanya membuang-buang tenaganya dengan sia-sia.
Dia ingin berteriak tetapi bahkan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya seolah-olah semua inderanya telah mati.
Riander berdiri di tempatnya dengan mata melotot, dia mengalihkan pandangannya dari kawah menuju Wira dan ekspresinya menjadi gelap sekarang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rian pada Wira.
“Jangan khawatir, ini akan memperkuat element api miliknya,” kata Wira tanpa mengalihkan pandangannya dari kawah tempat Heaven terjatuh.
“Apa?!”
“Sungguh?”
Ucap Paula dan Riander bersamaan.
Wira hanya mengangguk dan tidak menjelaskan lebih jauh, dia mengayunkan jarinya ke udara untuk menggambar pola di sana.
Mereka semua merasa bulu kuduk mereka berdiri!
Sebuah pola formasi dengan cepat terbentuk di tengah kawah dan membentuk bulat yang menutupi seluruh mulut kawah.
Setelah selesai membuat formasi pelindung, Wira berbalik dan menatap yang lainnya, dia berkedip satu kali dan David merasa semua energinya telah kembali dan dia bisa bergerak dengan bebas lagi, dia memeriksa suaranya dan ternyata juga telah normal seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Dia tidak mengatakan apa-apa tetapi saat matanya melihat Wira, ada getaran aneh di sana seperti dia telah melihat seorang dewa!
__ADS_1
Dia adalah Dewa Perang Badai yang perkasa, tetapi pemuda di depannya ini bahkan mampu mengunci pergerakannya hanya dengan sebuah kedipan mata!
“Biarkan dia berlatih dengan tenang,” kata Wira melihat ke kejauhan. “Kita punya hal yang harus diurus juga.”
Tepat setelah dia mengatakan itu, beberapa tim lainnya juga datang. Mereka semua datang ke arah yang sama, ke arah mereka!
Riander dan yang lainnya segera bersiap dalam mode tempur mereka ketika tim lainnya semakin mendekat.
“Haha, Riander! Bukan hanya kau yang menginginkan pusaka itu!” teriak Vuro dari lereng gunung.
Riander mengernyit, dia kemudian membelalakkan matanya dengan kaget ketika dia mengingat sesuatu yang penting.
Pusaka itu!
Dia kemudian menoleh untuk melihat ke arah kawah dan tampak sangat khawatir.
Dia terlalu sibuk mengurusi timnya dan membantu mereka untuk menemukan harta bagus demi kelulusan, dia lupa bahwa sepuluh besar akademi yang diutus juga memiliki misi lain.
Memperebutkan harta pusaka!
Itulah mengapa kakaknya, Oberyn, ikut dalam pengawalan para junior mereka. Jika tidak ada yang bisa menarik perhatiannya maka dia tidak akan pernah mau keluar dari akademi.
Sekelompok tim lain telah mendaratkan diri mereka di lereng gunung, hampir semua tim telah tiba di sana. Termasuk Oberyn yang kini telah kembali bergabung dengan Diego dan juniornya yang tersisa tujuh orang.
“Adikmu sepertinya lagi-lagi mendahului kita.” Diego berbisik ke telinga Oberyn. Mereka terlihat sangat akrab seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Obeyrn hanya tersenyum ketika dia merangkul leher Diego dan berbisik, “Bukan masalah, harta itu akan tetap jadi milikku.”
Mata Diego langsung menjadi berbinar cerah saat dia mendengar ini.
Dia kemudian tersenyum ketika memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah kakak beradik Chigo akan terlibat perkelahian? Apakah mereka akan saling mencakar demi sebuah daging empuk seperti seekor serigala lapar? Diego tidak sabar menantikan pertunjukannya.
“Kau sudah di sini ternyata.” Itu Amber, dia juga membawa timnya. Tetapi penampilan anggota timnya agak aneh.
“Apa yang terjadi?” tanya Rian saat dia melihat bagaimana penampilan tim enam yang dipimpin Aamber.
Amber dengan cepat melambaikan tangannya sambil tersenyum ketika dia berkata, “Tidak ada apa-apa, mereka terkadang menjadi sangat berisik jadi aku sedikit menutup mulut mereka demi kenyamananmu, em maksutku kenyamanan bersama.”
Bersambung ...
__ADS_1