The Escapade

The Escapade
EPISODE 71


__ADS_3

Erina menggigit pipi bagian dalamnya karena marah. Dia kesal karena mereka mempermainkannya, tapi dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin untuk menghajar muridnya sendiri, kan?


   “Aku tidak mengerti mengapa kalian melakukan ini,” kata Erina setelah mendapat ketenangannya kembali. “Tapi sebaiknya kalian hentikan dan kembali ke kelas besok pagi, jika tidak ...”


   “Jika tidak?”


   “Jika tidak maka aku mungkin akan melaporkan hal ini pada Kepala Akademi.”


Mereka tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ini.


   “Oh, kau sedang mengancam kami?” Laga bertanya dengan seringaian yang menghiasi wajahnya, dia menatap Erina dari ujung kepala sampai kakinya sambil menjilat bibirnya sendiri.


Erina menggeleng ketika dia mengatakan, “Aku tidak peduli apa yang ada di pikiran kalian, kembalilah besok. Lagipula kalian sudah setuju dengan waktu satu bulan yang kuberikan, jadi kenapa kalian masih mengangguku?”


Ansel menaikkan satu alisnya.


“Mengganggumu? Kau serius? Anak perempuan itu menghajarku! Dia bahkan berani menampar Sandor!"


   “Aku tidak peduli pada kelasmu, ataupun dirimu tapi gadis itu benar-benar telah memukulku di depan banyak orang! Jadi anggap saja ini adalah bayaran untuk itu.” Wajah Aansel merah padam saat dia berteriak. Sandor di sebelahnya hanya menatap Erina dengan wajar meremehkan.


   “Itu tidak benar, Ansel.” Erina menggelengkan kepalanya, mencoba menjelaskan.


Ansel hanya mendengus saat mendengarnya.


Erina ingin mengatakan lebih banyak lagi tapi Sandor dengan cepat mengangkat tangannya untuk menyuruhnya tidak bicara lagi.


Dia kemudian mengatakan, “Dengar, jika kau ingin kami kembali ke kelas.” Dia melirik keempat temannya sebelum akhirnya melanjutkan, “Datanglah ke Bloody Rose malam ini.”


Setelah mendengar itu, mereka semua tertawa gembira sementara Erina mendelik kaget.


BloodyRose adalah sebuah gedung besar yang biasanya hanya bisa disewa dengan harga tinggi, tidak semua orang bisa masuk ke tempat itu tapi mereka ingin dia datang ke sana malam ini seperti tempat itu adalah milik mereka.


   “Malam ini adalah waktu yang tepat untuk menentukan apakah kelas akan dilanjutkan atau tidak, jadi jangan tidak datang, ya!”


Mereka semua pergi setelah mengatakan itu, sementara Erina masih mematung di tempatnya. Dia tahu tempat macam apa Bloody rose itu, itu adalah sebuah rumah kotor yang dibalut dengan kemewahan, itu adalah tempat di mana para pria biasanya mencari kesenangan.

__ADS_1


Erina menenangkan dirinya dan mengatur napasnya yang mulai tidak stabil karena amarah. Mereka ingin dia datang ke tempat seperti itu? Mereka bisa bermimpi!


Tetapi jika dia tidak datang maka Erina tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah ini, jika dia ingin menyelesaikan masalah ini maka dia harus memulainya dari akarnya terlebih dulu, dan itu adalah Sandor dan teman-temannya.


Malam tiba dengan cepat.


Erina tiba di Bloodyrose. Itu adalah sebuah rumah makan klasik dengan gaya khas kerajaan angin, dua buah patung naga dengan ukuran besar terpajang di depan gerbang masuk.


Erina baru saja masuk saat seorang pelayan wanita berpakaian sangat minim datang menghampirinya. Dia kemudian menuntun Erina menuju ruangan di mana Sandor dan yang lainnya berada.


Setelah melewati beberapa lorong dengan pencahayaan yang remang, mereka sampai di sebuah taman luas di dalam bangunan itu. Taman itu sangat besar dan banyak bunga mawar di sana, juga beberapa lampu yang menghiasinya.


Di tengah taman terdapat sebuah bangunan megah yang agak kecil, tetapi itu lebih besar sepuluh kali lipat dari rumah kecil milik Erina.


   “Masuklah,” kata pelayan wanita itu setelah dia membuka pintu. Dia masuk terlebih dahulu dan membiarkan Erina di belakangnya.


...


Saat ini, Heaven dan Wira sedang makan malam. Meja makan menjadi lebih ramai setelah Paul dan David bergabung.


David juga mengambil tempat duduk di depan Paul. “Itu memang salahmu, jika kau tidak bisa melakukannya maka jangan lakukan!”


Mereka bertengkar karena David merasa keberatan dengan keberadaan Tora yang mengurusi urusan Paul, bukankah Paul yang seharusnya menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi dia malah mempercayai orang lain.


   “Hey, itulah enaknya menjadi bos. Kau hanya perlu duduk dan memberi perintah, jika kau tidak suka, kau bisa menghukum mereka sesukamu.” Paul mencibir.


   “Huh, suatu saat kau akan menyesal telah mempercayai orang lain,” kata David.


Paul menaikkan satu alisnya dan terlihat sangat tidak senang, dia kemudian melempar satu buah anggur ke mangkuk sup milik David, membuat pria dengan bekas luka di sepanjang matanya itu melotot.


   “Tidak semua orang memiliki sifat buruk sepertinya,” kata Paul menjelaskan tetapi David tidak peduli dan lebih memilih fokus pada makan malamnya.


Sementara Heaven dan Wira hanya saling memandang dan menggelengkan kepala mereka dengan heran. Sejak kedatangan David, rumah menjadi lebih ramai, terutama karena mereka selalu bertengkar bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.


Tepat saat David baru saja ingin memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya, seorang penjaga datang.

__ADS_1


   “Oh, ya ampun. Tidak bisakan aku makan dengan tenang?!” David mengumpat dari kursinya dan membuat Heaven tertawa.


   “Ada apa?” tanya Paul.


   “Tuan, seseorang datang mencari Tuan Muda. Dia bilang dia adalah teman sekelasnya.”


Paul menatap Heaven dan Wira dengan heran, kemudian menyuruh mereka untuk menemuinya.


   “Temui dia, ajak dia makan malam juga,” kata Paul.


Keduanya mengangguk kemudian keluar untuk melihat siapa yang datang.


   “Apa itu Paula?”


Heaven melambai dengan cepat, “Tidak mungkin, di rumah ini tidak ada yang tidak bisa mengenalnya.”


Itu benar, karena mereka adalah teman sejak kecil jadi tidak mungkin dia tidak dikenali oleh orang-orang di rumah itu dan lagi, Paula selalu datang di setiap kesempatan jadi sangat mustahil jika penjaga itu tidak mengenal Paula. Dia bilang itu teman sekelasnya, jadi mungkin itu adalah Bella atau Liam.


   “Mungkin itu mereka.”


Tapi saat mereka melihat siapa yang datang, Heaven memiliki kerutan yang dalam di antara alisnya.


   “Maaf menganggumu, kau Heaven?”


   “Aku Heaven, ada apa mencariku?”


Hengky menarik napasnya yang terengah-engah sebelum akhirnya menjelaskan maksut kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan dari Hengky keduanya tidak menunggu lagi dan segera pergi.


   “Apa yang dipikirkan wanita itu? Apa dia gila?” Heaven mengoceh dengan marah.


   “Tidak, dia hanya ingin kelasnya berjalan normal dan para siswa bisa belajar dengan baik tanpa kecemasan.”


   “Aku akan pergi menjemput Paula, kalian pergi duluan.”


Wira dan Hengky pergi terlebih dulu sementara Heaven akan memanggil Paula. Dia tahu ini adalah masalah yang sangat penting bagi gadis itu, Paula pasti akan menghukum siapapun yang berbuat semena-mena terhadap kaum wanita dan dia akan membela mereka dengan semua yang dia bisa.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2