
“Setelah poin terkumpul. Apakah akan langsung kembali atau---?”
“Tidak, tidak.” Paula segera menyela.
“Sangat sulit untuk bisa keluar dari akademi, aku ingin menikmati beberapa hari lagi dan menjelajahi pulau ini,” sambung Paula.
Sementara yang lainnya mengangguk setuju.
Saat mereka kembali maka itu akan menjadi akhir dari kehidupan santai mereka, jadi mereka ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memanjakan diri.
Riander mengerti dan segera setuju. Dia juga ingin mencoba menjelajah dan memburu beberapa darah monster untuk di bawa pulang.
Pegunungan milik akademi tidak memiliki banyak monster di atas tingkat tiga, sementara dia butuh pengalaman bertarung langsung dan bukan hanya sebatas materi di dalam kepala.
Sementara itu, di dalam kapal
Para tetua sedang duduk dengan santai sambil menikmati teh dan makan kue saat mereka mengawasi para peserta dari cermin kristal informasi.
Trioner mendesah karena bosan saat dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Sudut mata Trioner berkedut saat memperhatikan tim yang dipimpin Riander.
“Shinrain, mengapa kau tidak turun dan mengumpulkan bahan obat juga?” tanya salah satu tetua sambil mengelus lembut janggutnya yang mulai beruban.
“Tidak.” Dia menggeleng.
Dia duduk dengan tenang di kursinya tetapi matanya terus memperhatikan setiap sisi yang ditampilkan oleh kristal di depan mereka.
“Adikmu itu, ku dengar sudah naik tingkat lagi ya?” Suya Bumi, Wakil Pimpinan Obat itu bertanya setelah menyesap minumannya.
Shinrain menoleh dan bertanya, “Siapa?”
Dia tertawa kemudian bertanya lagi.
“Memangnya kau memiliki berapa adik?” Suya memainkan rambut panjangnya yang hitam dan mengkilap seperti sisik ular yang licin.
“Dua.”
Semua orang di ruangan mulai merasakan temperatur ruangan yang mulai turun drastis saat kedua wanita itu bicara.
Tidak ada yang berani menyela. Mereka diam-diam menelan saliva dan menegang di tempat masing-masing tanpa berani bergerak sedikitpun.
Pertempuran dingin antarwanita sebenarnya jauh lebih menyeramkan daripada dikepung oleh musuh di meda perang! Itu lebih mengerikan dari pertarungan yang sebenarnya.
__ADS_1
“Saya lupa bahwa Anda memiliki satu adik laki-laki lain,” kata Suya terdengar bersalah tetapi itu tidak asli sama sekali.
Shinrain mengerti kemana tujuan pembicaraan ini tetapi dia tetap tanpa ekspresi dan sangat tenang. Meladeni wanita ular itu hanya akan membuatnya kehabisan energi dengan sia-sia.
“Tim sepuluh yang dipimpin Riander tampaknya akan keluar lebih dulu,” kata salah satu Tetua saat melihat angka skor poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota tim.
“Menurutku tidak begitu.” Trioner menyangkal tanpa membuka matanya.
Boni Yura menggeleng. “Kelompok sepuluh isinya hanyalah anak-anak yang mengandalkan keberuntungan. Sudah cukup bagus jika mereka bisa mengumpulkan cukup poin untuk lulus ujian.”
“Benar! Isinya hanya orang-orang payah.” Dia melirik Shinrain saat dia mengatakan itu.
Suya menggelengkan kepalanya pelan seolah dia putus asa dan tim sepuluh tidak memiliki harapan sama sekali meski mereka bisa lulus ujian.
“Bagaimana menurtmu, Shinrain?”
Shinrain Chigo melirik Trioner sebentar kemudian dengan tenang menjawab, “Aku tidak yakin mereka akan keluar secepat itu.”
Dia mengangkat cangkirnya dan menyesapnya sebentar untuk membasahi tenggorokannya.
“Tiga diantara mereka adalah tiga teratas di ujian sebelumnya dan dua lainnya memiliki banyak pengetahuan. Mereka kombinasi yang sangat cocok,” katanya menjelaskan.
Trioner tersenyum dalam hati saat mengingat kejadian pada hari ujian pertama beberapa waktu lalu. Dia dengan malas bergerak mencari posisi paling nyaman dan mulai tertidur di kursinya.
Pada saat yang sama
Diego meminta kelompoknya untuk bergabung dengan tim Oberyn agar lebih memudahkan mereka dalam memenuhi target poin dan saling menjaga satu sama lain. Tetapi sebenarnya, dia memiliki tujuan lain.
Penghinaan yang Oberyn lakukan padanya hari itu masih segar di kepalanya. Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya.
“Hey sudah kubilang cari sesuatu yang bernilai saja, untuk apa kau memungut bunga liar itu!”
Junior laki-laki itu menjadi bingung untuk menjelaskan.
“Tapi, senior ... Bunga ini masuk dalam spesies yang unik,” katanya dengan ragu-ragu.
Diego menahan tawanya dan menggigit bibirnya saat dia melihat bagaimana Oberyn membulatkan matanya dengan kaget. Dia masih seperti Oberyn yang biasanya, bodoh dan ceroboh.
“Kau serius?” Dia mendekati pemuda itu dan menatap lekat pada bunga ungu di tangannya.
“Iya.” Junior itu mengangguk yakin kemudian melanjutkan,
__ADS_1
“Bunga ini sering disebut bunga mayat karena biasanya tumbuh dari kerangka mayat yang sudah hancur.” Dia menunjuk pada beberapa serbuk putih yang ada di akar bunga itu yang berasal dari pengapuran kerangka.
Semua orang bergidik saat melihat tanah bahkan Oberyn melompat kecil saat matanya melihat sisa tengkorak kepala manusia yang sebagian tertimbun tanah.
Oberyn tidak pandai dalam hal kepemimpinan jadi Diego mengambil kesempatan untuk mengambil alih tugas Oberyn dengan senang hati. Jika hal ini beredar maka dia akan mendapatkan lebih banyak prestise.
Semua presonil tim bekerja dengan sangat baik sampai larut malam. Mereka bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ingin segera menyelesaikan ujian, terlebih lagi mereka ingin segera keluar dari tempat itu!
Pagi berikutnya di Pulau Tengkorak.
Semua tim kembali bergerak demi mencapai target poin bahkan ada banyak yang tidak tidur demi menyelesaikan ujian.
Tim gabungan Oberyn dan Diego juga bergerak, pagi-pagi sekali saat matahari belum terbit mereka sudah mulai berjalan menembus dingin dan hutan yang berkabut karena embun pagi.
Berbeda dengan tim Oberyn, tim Riander berangkat agak siang karena Heaven yang tidur sampai siang.
“Hey, semalaman aku menjaga kalian! Lima menit lagi saja.” Dia kembali merebahkan diri untuk melanjutkan tidur tetapi Paula segera menarik tangannya hingga dia berdiri.
“Menjaga apanya, Senior yang begadang semalaman demi menjaga kita, bukan kau!” Paula memarahinya saat dia menyeret Heaven untuk melanjutkan misi ujian mereka.
Sementara yang lain mengekori mereka sambil tertawa.
Setelah satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di lokasi pertama yang sudah ditandai oleh Riander.
Itu sebuah danau, airnya yang jerni memantulkan bayangan langit biru pagi itu. Itu seperti sebuah cermin raksasa dengan permukaan danau yang tenang.
Itu sangat tenang hingga Riander merasa gelisah dalam hatinya. Saat di Tanah Iblis dia juga merasakan perasaan yang sama tetapi kali ini dia tidak akan ceroboh lagi.
Matanya menjadi semakin tajam dan wajahnya seketika menjadi sangat serius saat pandangannya menyapu seluruh area itu dengan waspada.
Berbeda dengan Riander yang terlihat tegang, kelima anggota lainnya menjadi sangat bersemangat saat mereka melihat betapa cantiknya tempat itu.
Banyak bunga bermekaran yang tumbuh di sepanjang tepian danau dengan air yang begitu sejuk saat disentuh.
Heaven melihat sekeliling dan matanya terpaku pada objek di tengah danau. Wira berdiri di sebelahnya dan membisikan sesuatu.
Setelah mendengar apa yang dikatakannya, Heaven otomatis membulatkan matanya dengan tidak percaya. Tetapi saat dia melihat bagaimana Wira mengangguk, Heaven segera yakin bahwa itu benar-benar harta berharga!
Dia berjalan mendekati ketiga lainnya yang sudah berada di tepian danau bersama Riander. Tapi baru beberapa langkah, suara derap kaki dari arah belakang terdengar dan mengalihkan perhatian mereka semua.
Bersambung ...
__ADS_1