
David hampir menangis jika dia tidak menyadari ada orang lain di sana selain mereka.
Heaven dan Wira sedang berjalan-jalan di lorong dekat bungalo kecil itu, David memperhatikan Heaven dari kejauhan tetapi Heaven tidak menyadarinya, sebaliknya Wira dengan cepat bisa merasakan seseorang sedang menatap mereka. Dia menatap David dari sana dengan wajah datar.
“Ingin istirahat?” tanya Wira sambil mengalihkan pandangannya dari David saat pria berotot itu berhenti menatap mereka.
Heaven menggeleng kemudian melirik dua orang di seberang mereka sambil berkata,
“Ayo lihat apa yang mereka bicarakan.”
“Aku tidak tahu kalau ternyata kau cukup tertarik pada urusan orang dewasa.”
Heaven hampir melompat dari tempatnya ketika dia mendengar suara Pulcra. Dia menoleh dan mendapati Pulcra bersama Paula berdiri tak jauh darinya dan Wira.
“Jangan ganggu ayahmu, biarkan mereka melakukan reuni untuk beberapa saat,” kata Pulcra lagi.
“Paman juga mengenalnya?” Heaven bertanya dengan terkejut.
“Ya, mereka teman lama,” jawab Paula memotong pembicaraan mereka, alhasil ia harus mendapatkan jentikan jari besar ayahnya di dahinya.
“Apa yang ku katakan tentang jangan memotong pembicaraan orang lain?”
Paula hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu-malu.
Setelah Pulcra dan putrinya pergi, Heaven dan Wira juga kembali ke kamar masing-masing setelah mereka mengantarkan Liam dan Bella ke pintu gerbang.
Meski sudah dibujuk untuk tinggal di rumah falamir mereka berdua tetap memilih untuk menyewa penginapan sebelum nantinya akan menempati asrama di akademi.
Saat itu hari sudah sore dan matahari hampir terbenam, semua orang telah kembali ke kamar mereka dan beristirahat tetapi David dan Paul masih duduk di sana. Di bungalo dengan kolam ikan di sampingnya.
“Aku tidak menyangka bahwa yang ku rawat selama ini adalah anaknya.” Helaan napas terdengar saat Paul mengatakan kata-katanya barusan.
“Tidak ada yang mengerti takdir, tapi inilah takdir.”
David menoleh dan menatap Pual yang duduk di depannya kemudian melanjutkan,
“Setelah gadis itu pergi, kau kehilangan dirimu sendiri dan hampir menjadi gila.”
__ADS_1
Paul mengangguk, dia menuangkan lagi air hangat ke dalam teko dan menyeduh lagi untuk ketiga kalinya dauh teh yang sama.
Aromanya tidak lagi menyengat dan warnanya juga tidak lagi pekat tetapi rasanya hampir sama ketika dia menyesapnya.
“Aku tahu, itu sudah lama sekali.”
“Tapi kau tidak melupakannya.”
Tangan Paul berhenti di udara saat dia menuangkan teh ke dalam cangkir milik David, Paul tidak suka teh namun di saat serius seperti ini dia tidak mungkin minum anggur. Itu akan mengacaukan pikirannya dan juga suasana.
“Lupakan, jadi ... kau akan membawanya pergi?”
Teh yang baru saja masuk ke mulutnya langsung David semburkan lagi ke wajah Paul.
Dia membanting telapak tangannya dengan keras hingga hampir membuat meja itu terbelah.
“Kau gila? Aku terkurung selama lima belas tahun di tempat sialan itu dan tidak membocorkan setitikpun informasi tentang anak itu! Jadi bagaimana bisa sekarang aku membawanya ke mulut harimau licik itu!” ucap David menggebu-gebu.
Napasnya sampai tersengal-sengal karena emosi, dia berteriak dengan keras hingga menarik beberapa atensi pelayan yang sedang lewat.
Paul di seberangnya hanya menatapnya datar. Selama hampir lebih dari dua puluh tahun dia berada di akademi, Paul tidak pernah sekalipun mendengar kabar tentang situasi di kerajaan.
“Bajingan itu tidak bisa dimaafkan!”
Paul menatap David yang mencengkeram erat cangkir di tangannya dan ada banyak kemarahan yang terlukis jelas di wajahnya.
“Kau bahkan tidak tahu, kan, kalau ternyata yang memerintahkan sekelompok orang untuk memberontak itu adalah dia?” tanya David masih dengan nada marahnya.
Matahari telah terbenam sepenuhnya dan langit telah bermandikan bintang-bintang yang cantik, tetapi di bawah sini David sedang terbakar oleh api amarah dan dendam yang telah tumbuh semakin besar selama lima belas tahun terakhir.
“Jadi Si Brengsek itu benar-benar berkhianat, ya.”
David tersentak setelah mendengat apa yang baru saja diucapkan oleh Paul. Dia menggebrak meja lagi dengan marah, kali ini meja itu hancur dan jatuh bersama semua yang ada di atasnya dan hampir menimpa kaki Paul jika dia tidak mengangkat kakinya dengan segera.
“Kau bilang apa barusan?”
Paul bisa melihat David yang sedang memelototinya dengan tajam dan segera tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
“Duduklah, aku akan ceritakan semua yang ku tahu,” pintanya.
Bukannya duduk, David malah menarik baju bagian leher Paul dan mencengkeramnya sambil berkata, “Jadi kau tahu sesuatu? Kau tahu tetapi tidak memberitahuku?!” Dia menggeram marah.
“Duduk dan dengarkan!” Paul ikut menaikkan nada suaranya, dia balik memelototi David dengan marah.
David kembali duduk sambil mendengus kesal dan menggertakkan giginya sambil terus memelototi Paul.
“Cepat katakan!”
Paul merapikan bajunya sebelum akhirnya mengatakan, “Saat itu aku memang sudah memiliki kecurigaan terhadap Roelez, tapi kecurigaan tanpa bukti hanya akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit lagi.”
“Kau ingat saat tragedi kelaparan di desa perbatasan antara Kerajaan Angin dan Negeri Api? Saat itu aku menangkap seseorang yang ternyata adalah suruhan Roelez, sayangnya saat di interogasi dia mati keracunan.”
“Dia diracuni oleh siapa? Ada penyusup lain dalam anggotamu?”
“Tidak,” kata Paul. “Dia diracuni oleh Roelez sendiri, dia menggunakan jenis racun jiwa.”
David menggeram sambil mengepalkan tinjunya. “Bajingan itu benar-benar kejam!”
“Itulah mengapa aku pernah mengatakan pada Yang Mulia Saga untuk berhati-hati, tapi dia malah tidak percaya. Dia terlalu baik dan kebaikannya yang akhirnya menjadi akibat kematiannya.”
Paul masih tidak percaya bahwa Roelez yang merupakan adik kandung dari Saga akan sampai hati menghabisi nyawa kakaknya sendiri demi sebuah tahta kerajaan.
Dia tidak bisa memikirkan akan jadi apa jika nantinya Heaven benar-benar harus ikut kembali ke istana dan mengambil kembali haknya sebagai pewaris sah.
“Ku dengar anak-anak Roelez mati karena wabah,” kata Paul.
David mencibir, “Kau yakin mereka mati karena wabah?”
David benar, sama dengan dugaannya. Anak-anak Roelez pasti bukan mati karena wabah tetapi Paul masih belum tahu pasti tentang itu. Berita ini hanya desas desus yang dia dengar dari beberapa petinggi akademi yang sempat berkunjung ke istana.
“Yah, apapun itu akan kita bahas lagi nanti,” ucap Paul sambil merenggangkan otot-otot lengannya.
Dia kemudian berdiri dan menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan David ke kamarnya.
“Jika perlu sesuatu katakan saja.” Setelah mengatakan itu, Paul pergi.
__ADS_1
Bersambung ...