The Escapade

The Escapade
Episode 20


__ADS_3

Wira menggeleng dengan cepat dan berkata, “Aku bahagia, aku bahagia bersamamu ibu.” Dia mulai menangis dan air matanya semakin deras.


Kemudian mata wanita itu melirik Heaven. Dia tersenyum dengan lembut dan berjalan menuju Heaven, jantung Heaven bergetar hebat saat wanita itu sudah berada di depannya.


“Darah Phoenix, Kau memiliki hubungan yang erat dengan Wira.”


Perkataannya membuat semua mata melihatnya. Zmey menyipitkan matanya dengan tajam saat dia melihat penampilan anak manusia itu.


“Tolong jaga Wira kami dengan baik, dan kumohon untuk memberikan satu tetes darahmu lagi untuk menggantikan rohku.”


“Baik!” Heaven segera menyanggupinya. Hanya satu tetes kan? Itu tidak akan membuatnya kehabisan darah.


Dia kemudian mengangguk dan mengarahkan jarinya pada kening Heaven dan cahaya keemasan segera masuk menembus otaknya.


Itu sebuah buku jurus! Jurus yang sangat hebat!


Dia merasa jiwanya terguncang hanya dengan melihat cahaya itu.


“Tidak banyak waktu lagi.” Dia berbalik untuk melihat anaknya lagi.


Anak yang selama ini dia lindungi dan jauhkan dari dunia ini, pada akhirnya tetap harus hidup dengan bebas dan menemukan kebahagiannya. Dia hanya berharap Wira-nya bisa hidup damai dan tidak lagi menderita lagi.


Dia menempelkan dahinya untuk bersandar pada dahi putranya. Untuk beberapa saat mereka seperti terbang ke dalam dimensi lain dengan banyak bayangan dan orang-orang.


“Itu semua adalah informasi tentang siapa ayahmu dan siapa dirimu sebenarnya,” katanya setelah beberapa saat.


Wira tampak ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi akhirnya memilih bertanya langsung.


“Apakah ... dia masih hidup?” dia bertanya dengan sangat hati-hati.


“Ibu tidak tahu.”


Cahaya dari tubuhnya perlahan memudar dan menjadi semakin transparan. Tatapan semua orang menjadi semakin gelisah.


Tetapi wanita itu tetap tenang seolah ini bukan apa-apa, ia menatap putranya dengan saksama untuk terakhir kalinya.


Air mata mulai menetes dengan senyum yang semakin mengembang. Wira tidak mengatakan apa-apa dan menyentuh wajah ibunya seperti dia bisa menyentuhnya.


“Selama kau hidup kau boleh kehilangan apapun kecuali satu hal, jangan pernah kehilangan hati nuranimu.” Itu kata terakhirnya sebelum dia menghilang untuk selamanya.


Tangisan Wira berubah menjadi raungan kepiluan, suaranya begitu sedih dan menyayat hati mereka yang mendengarnya. Feyang terpaku di tempatnya dan mengatupkan giginya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


Bahu semua orang berguncang karena kehilangan, bahkan Heaven sedang sesenggukan. Dia tidak pernah menyangkan akan mengalami hal seperti ini.


Dia tidak pernah tahu siapa orang tuanya, tetapi tatapan wanita itu membuat hatinya menghangat untuk beberapa saat. Dia kemudian teringat ayahnya, bagaimana kabar pria itu sekarang? Apakah dia sedang mabuk di ruangannya? Atau sedang memukuli orang-orang untuk melampiaskan kemarahannya?


 


...


Heaven sedang mengemasi beberapa barangnya untuk berangkat besok.


“Akhirnya selesai juga.” Dia meregangkan tubuhnya dan menatap keluar jendela.


Tcesni dan yang lainnya sedang berpesta di halanam depan. Mereka memanggang beberapa daging dan meja penuh dengan aneka makanan dan minuman.


“Hahaha, akhirnya tempat ini ramai kembali setelah sekian lama!” Charles tertawa terbahak-bahak dan wajahnya merah karena mabuk.


“Diamlah kambing tua! Kau sangat berisik,” kutuk Zmey kesal. Dia menatap dengan jijik pada Charles di sebelahnya.


“Kau kasar sekali, itu tidak baik,” kata Charles terdengar sedih.


“Lihat! Sudah berapa banyak kerutan yang muncul karena kemarahanmu.” Dia menunjuk dan memperhatikan wajah Zmey dan terlihat prihatin.


Zmey dan Charles terus saling membalas sementara Freya dan Tcesni memasak beberapa hidangan lagi, dan sisanya mengobrol dengan santai.


Tetapi pada akhirnya, Wira mengizinkan mereka untuk mengadakan pesta malam harinya setelah dibujuk beberapa kali.


Heaven segera bergabung dengan mereka setelah dia menyelesaikan pekerjaannya. Matanya langsung berbinar cerah saat melihat begitu banyak makanan di atas meja. Bau dari minuman anggur seribu tahun itu sangat menggoda.


Heaven tidak tahan lagi dan dengan cepat mengambil posisi untuk menuangkan secangkir anggur untuk dirinya sendiri.


Rasa manis itu segera meleleh dalam mulutnya saat dia meminumnya, itu seperti mentega yang dipanaskan. Lidahnya akhirnya termajakan lagi setelah beberapa waktu terakhir terus meminum teh pahit favorit Wira.


“Kau tidak mau minum ini?” Tcesni datang dengan satu cangkir besar berisi cairan kental berwarna hijau.


Heaven menggeleng cepat sementara yang lainnya mengalihkan pandangan mereka dan meneguk liur dengan susah payah.


“Jangan lihat aku aku hanya batu, aku hanya batu.”


“Charles.” Panggilan Tcesni membuat Charles bergidik dan seluruh tubuhnya merinding. Dia mau tidak mau menoleh dan tersenyum canggung pada Tcesni.


“Aku memerasnya dengan susah payah.” Dia terdengar sangat sedih. “Lihat, jariku bahkan belum tumbuh kembali karena aku memotongnya!”

__ADS_1


Charles ingin muntah saat Tcesni memperlihatkan jari tangannya yang terpotong dengan cairan hijau yang masih menetes dari sana. Dia segera berlari ke balik pohon dan memuntahkan semua isi perutnya.


Tcesni beralih menatap Zmey dengan senyum yang menyeramkan dan berhasil membuat Zmey hampir mati ketakutan.


“Aku lupa ada urusan, aku pergi dulu!” dia dengan cepat terbang dan pergi dari tempat itu.


Tcesni terlihat kecewa dan menoleh pada beberapa yang tersisa kemudian berjalan gontai untuk kembali memanggang daging.


Sisanya menghembuskan napas lega saat melihat Tcesni menyerah untuk membuat seseorang meminum darahnya.


“Ngomong-ngomong, di mana Wira?” tanya Heaven


Sejak tadi dia tidak melihatnya. Pesta ini untuk Wira tetapi dia bahkan tidak ada di sini, bagaimana itu bisa di sebut pesta tanpa bintang utamanya?


Freya datang dengan beberapa makanan manis di tangannya dan buah-buahan segar.


“Entahlah, sejak tadi aku juga tidak melihatnya.”


“Aku melihatnya berjalan ke arah sana,” tunjuk Tiamat dengan tangannya yang memegang paha sapi panggang yang besar.


“Mungkin dia di kolam kaca?” tanya Feyang.


“Silahkan nikmati hidangannya!” kata Tcesni. Di tangannya terdapat satu piring ikan bakar dengan aroma harum.


Dia membawanya pada Shilpy yang berada di tepi sungai dekat meja dan menyodorkan piring itu hingga Shilpy bisa melihatnya. Mata Shilpy melotot dan dia dengan segera menyelam ke dalam air.


Tcesni memberikan ikan bakar pada Shilpy yang jelas-jelas separuh ikan? Tcesni ini benar-benar psikopat!


Shilpy gemetaran di bawah sana sementara dia tertawa terbahak-bahak hingga air mata keluar dari sudut matanya.


Di sisi lain pada waktu yang bersamaan


Wira berdiri di bawah pohon dan memandangi bulan penuh malam itu, wajahnya tanpa ekspresi. Angin yang berhembus membuat beberapa helai rambutnya beterbangan, matanya terlihat berkilau di bawah sinar bulan purnama.


“Wira!”


Dia menoleh untuk melihat Heaven yang berlari ke arahnya dengan wajah berseri.


“Ada apa?”


“Kenapa kau di sini?” tanyanya saat napasnya terengah-engah karena berlari.

__ADS_1


“Kau sendiri, kenapa kemari?” Wira selalu menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan lain.


Heaven menegakkan tubuhnya dan menghela napas saat ritmenya mulai stabil sambil berkata, “Mereka semua gila! Bagaimana bisa aku bertahan pada pesta yang seperti itu?!” Heaven menggerutu.


__ADS_2