The Escapade

The Escapade
Episode 34


__ADS_3

 


Dia berjalan mendekati ketiga lainnya yang sudah berada di tepian danau bersama Riander.tapi baru beberapa langkah, suara derap kaki dari arah belakang terdengar dan mengalihkan perhatian mereka semua.


Itu Oberyn dan Diego bersama tim mereka. Mereka berjalan dengan santai saat mereka mendekati Riander dan timnya.


“Hoho, sepertinya adik kecilmu mendahului kita,” kata Diego pada Oberyn yang berdiri di sampingnya.


Riander mengerutkan dahinya, tetapi setelah mendengar bagaimana Diego menyebut mereka dengan kata ‘kita’ dia segera menyadari bahwa mereka berada di pihak yang sama!


Kedua tim menjadi satu kesatuan, entah demi lulus ujian atau demi keutungan. Tetapi sejurus kemudian dia mengerti, itu pasti demi keutungan. Baik satu pihak maupun keduanya, pada akhirnya hanya keuntungan yang mereka cari.


Tapi pada akhirnya kemenangan hanya milik satu orang dan bukan dua.


“Biarkan saja, aku tidak tertarik,” kata Oberyn sambil tersenyum saat dia menatap Riander.


Tetapi seseorang dari timnya dengan cepat menyela, “Tapi kami menginginkannya!” Dia berkata seolah-olah mereka bisa mengambilnya dengan mudah tanpa harus peduli dengan keberadaan Riander dan yang lainnya.


Heaven mengepalkan tinjunya dan terlihat sangat marah, begitu juga dengan Paula, Bella dan Liam. Mereka sama marahnya.


Mereka adalah yang pertama menemukannya, bagaimana bisa tim yang baru datang ingin mengambilnya begitu saja di depan mata mereka?! Mereka sungguh tidak tahu malu!


Riander ingin bicara tetapi Wira dengan cepat menghalanginya sambil tersenyum penuh arti saat dia berkata, “Jika mereka mau, mereka bisa mengambilnya.”


Semua orang terkejut, termasuk Oberyn. Itu adalah benda berharga yang sangat bernilai tetapi mereka benar-benar membiarkan orang lain mengambilnya begitu saja meski merekalah yang pertama menemukannya.


Oberyn tidak peduli sama sekali, tetapi Diego dan yang lainnya tidak! Ada kilatan cahaya saat mata mereka tertuju pada daratan kecil di tengah danau.


“Pergi! Ambil benda itu!” Diego tidak bisa menunggu lagi dan segera memberi perintah.


Semua anggotanya mulai terbang melesat menuju tengah danau. Heaven ingin menghentikan mereka tetapi Wira segera mencegahnya dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat.


Heaven mengernyitkan dahinya dan tidak mengerti sama sekali, tetapi sesaat kemudian suara auman dari tengah danau terdengar bersamaan dengan jeritan manusia yang memilukan.

__ADS_1


Semua orang merasa bulu kuduk mereka berdiri.


Itu monster tingkat Hewan Purba!


Diego dan Oberyn segera menuju ke daratan kecil di tengah danau itu untuk menyelamatkan anggota tim mereka.  


Tetapi kehadiran mereka malah memancing amarah naga raksasa itu semakin menjadi dan gerakannya menjadi semakin brutal. Salah satu junior yang sedang bergelantungan pada tangan kiri Diego itu digigit dan hanya menyisakan separuh tubuhnya yang kini jatuh ke dalam air.


Kepanikan segera terjadi dan ada darah di mana-mana. Air danau berubah menjadi genangan darah dan suasana menjadi semakin mencekam.


“Cepat! Cepat pergi dari sini!” Diego berteriak keras pada anggotanya yang masih hidup.


Suasan semakin kacau saat naga itu mengamuk dan air danau berubah menjadi gelombang besar layaknya tsunami.


Oberyn berdecak dengan kesal, dia melempar anggota timnya yang masih menggelantung di tangan dan kakinya ke pinggir danau. Dia kemudian berbalik dan satu tinjunya dilepaskan tepat di wajah monster naga itu.


Aumannya menjadi semakin keras saat mereka berdua sama-sama mundur. Tetapi monster itu tidak terluka sama sekali. Oberyn menjadi serius sekarang dan ada kobaran api dalam tinjunya saat dia menjadi semakin cepat.


Dia terbang melesat dengan kecepatan yang luar biasa dan kembali melepaskan tinju keduanya sementara monster itu juga melesat kearahnya dengan kecepatan yang sama.


Diego tidak bisa menelan keterketejutanya. Tinju kedua Oberyn setidaknya mengandung delapan puluh persen atau mungkin sembilan puluh persen dari kekuatannya. Fisik Oberyn sangat istimewa tetapi itu bahkan tidak meninggalkan goresan apapun!


Dia menelan air liurnya dengan susah payah. Matanya kemudian beralih menatap Riander dan berniat meminta bantuannya.


“Rian! Riand!” Dia berlari menuju Riander sampai terjatuh saat kakinya tersandung batu hingga menimbulkan suara gedebuk yang keras.


Semua orang menatapnya termasuk anggota timnya sendiri. Mereka tidak bisa mempercayai mata mereka sendiri, Diego merangkak menuju Riander dan segera memegangi kakinya seakan takut Riander pergi. 


“Tolong! Tolong selamatkan aku!” Dia berlutut saat dia terus memegangi kaki Rian dengan wajah yang penuh dengan ketakutan.


Dia benar-benar merangkak seperti anjing dan memohon!


Diego tidak peduli lagi dengan Oberyn, Si Bodoh itu mungkin sudah mati dicabik-cabik monster naga itu! Satu-satunya harapan adalah dengan memanfaatkan Riander dan timnya untuk mengalihkan perhatian naga raksasa sementara dia pergi dari sana.

__ADS_1


“Mengapa? Bukankah kalian ingin mengambil Kerang Darah Dewa yang ada di sana?” tanya Wira dengan tenang saat dia menunjuk ke tengah danau.


“Tidak! Tidak! Itu milik kalian, itu milik kalian bagaimana mungkin kami mengambilnya!”


Dia menjadi semakin panik saat mendengarnya dan segera beralih memeluk kaki Wira, tetapi Wira tidak peduli sama sekali.


Riander tampak cemas saat dia menoleh untuk melihat ke arah danau yang kembali tenang saat kabut akibat pertempuran perlahan menghilang.


Tanpa menunggu lagi, dia segera terbang ke seberang danau untuk memeriksa keadaan kakaknya.


Sementara mata semua tim sepuluh masih menatap Diego yang berlutut sambil memeluk kaki Wira dan tidak membiarkannya pergi sama sekali.


Beberapa menit yang lalu Diego masih sangat arogan dan berniat merebut harta yang mereka temukan. Tetapi sekarang dia sedang berlutut di depan mereka dengan keadaan yang sangat menyedihkan!


Mereka semua ingin memukulinya tetapi Heaven punya rencana lain saat dia memasang seringaian menyeramkan di wajahnya.


Dia maju dan berdiri di samping Wira. Matanya berubah menjadi sangat jahat saat melihat Diego yang mendongak untuk menatapnya.


“Ingin kami menolong kalian?”


Diego segera mengangguk. Tetapi saat melihat senyuman aneh yang Heaven tampilkan dia menjadi gugup seketika. Dia berusaha menelan air liurnya dengan susah payah saat kerongkongannya terasa kering karena terlalu gugup.


“Bagaimana jika kami tidak ingin membantu?”


Diego tercengang dan jantungnya hampir terlepas dari tempatnya! Bagaimana jika mereka tidak membantu? Tentu saja dia pasti mati!


Diego benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, dia benar-benar ingin menangis saat ini juga. Tapi di detik berikutnya dia menyadari sesuatu.


Dia segera menoleh pada anggota timnya dan memaksa mereka memberikan token milik mereka dan segera kembali berlutut di depan mereka.


Apa itu harga diri atau apa itu poin? Tentu saja nyawanya lebih penting!


Bersambung ...

__ADS_1


 


__ADS_2