The Escapade

The Escapade
EPISODE 66


__ADS_3

 


   “Siapa orang itu? Katakan padaku, cepat!” Shinrain kehilangan kesabarannya, energi yang terkandung dalam suaranya membuat api pembakaran semakin berkobar besar untuk beberapa detik.


Riander segera menenangkannya sebelum Shinrain benar-benar hilang kendali atas dirinya sendiri karena masalah ini.


   “Baiklah, tenang dulu,” bujuk Rian.


“Iya, itu benar. Ada salah satu dari junior kita yang baru bergabung ke akademi, dia memiliki keterampilan itu, dia bahkan memberikanku dan kakak kedua Pil Penyembuh Tingkat Tinggi dengan mudah.”


   “Namanya?”


Riander, dan dua orang lainnya bisa merasakan kecemasan dalam nada suara Shinrain. Gadis yang begitu dingin utu biasanya sangat stabil, tetapi sekarang dia telah berubah menjadi seperti gadis biasa yang penuh rasa cemas dan itu hanya karena satu hal saja.


   “Kakak, tenang dulu,” kata Riander.


Shinrain tidak memperdulikan apapun lagi, dia hanya ingin mendapat jawaban dari pertanyaanya.


Dia melambaikan tangannya ke udara dan tampak tidak peduli, dia semakin mendesak Riander untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya.


Riander hanya menghela napasnya dengan lelah, dia memandang Oberyn yang berdiri tak jauh darinya dan Oberyn hanya mengangkat kedua bahunya tidak berdaya.


   “Namanya Wira, Wira falamir.”


Shinrain menjadi lebih tenang setelah tahu siapa yang mereka maksut. Siapa yang tidak tahu pemuda berambut perak itu? Selain ketampanannya, dia juga telah menggungcang akademi dengan menjadi juara pertama dalan ujian akademi di pulau tengkorak.


   “Berita ini benar kan?” ada kerutan di wajah Shinrain saat dia menanyakan hal ini, dan suaranya menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


   “Tenang saja, aku bisa jamin. Tapi aku tidak jamin dia akan mau berbagi rahasia denganmu.”


   “Kenapa?” tanya Shinrain mengernyit tak senang.


Riander mengangkat kedua bahunya kemudian menjelaskan, “Dia sedikit ... misterius, dan lagi dia baru saja bergabung. Kurasa akan lebih baik jika kakak membiarkan mereka fokus pada pelajaran mereka dulu.”


   “Tidak.” Semua orang menoleh pada Oberyn.


“Apa? Jangan lihat aku! Apa kalian pikir si penyihir ini akan mentolerir ini dan membiarkan kesempatan untuk naik tingkat begitu saja?” dia mendengus dingin.

__ADS_1


Riander tahu itu, Amber tahu itu. Shinrain tidak akan akan menyia-nyiakan sedikitpun celah yang ada untuk bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi, gadis itu keras kepala dan sangat ambisius. Tidak aneh jika Shinrain akan mulai mengejar Wira mulai sekarang.


   “Anak itu ... kalian yakin?” Shinrain bertanya lagi dengan ragu-ragu.


   “Karena kau tidak percaya lalu kenapa kau tidak melihatnya sendiri?” tanya balik Oberyn dengan arogansi di wajahnya.


Shinrain memandangnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya mendengus dingin dan pergi dari sana. Oberyn, Riander dan Amber menghembuskan napas mereka secara bersamaan saat Shinrain sudah tidak terlihat lagi.


   “Dia pasti akan mengejarnya sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan,” kata Riander.


Oberyn mengangguk setuju, dia kemudian beralih menatap Amber sementara gadis itu mengerjapkan matanya dengan bingung.


Dia tersenyum sebentar sebelum akhirnya berbalik dan pergi.


   “Baiklah, aku pergi, tidak ganggu kalian lagi!” kata Oberyn sambil melambaikan tangannya saat dia berjalan ke arah luar.


Riander dan Amber menjadi salah tingkah saat mereka mendengar itu, tapi Amber dengan cepat terkikik kecil di tempatnya saat semburat merah muda kembali menghiasi kedua pipinya.


   “Aku akan selesaikan dengan cepat,” kata Rian mengalihkan perhatian mereka dari perkataan Oberyn.


Tapi Amber dengan cepat menjawab, “Tidak! Tidak perlu buru-buru, aku ... aku akan menunggumu.”


Heaven sedang mengancingkan baju bagian atasnya saat Wira berdiri di pintu dan bersandar di sana.


   “Berapa lama lagi?” tanya Wira.


Heaven adalah orang yang pertama bangun di antara mereka tapi dia adalah yang paling lambat dalam bersiap. Dua jam penuh dan Heaven bahkan belum menyisir rambutnya!


   “Ya, ya sedikit lagi. Kita tidak akan terlambat jika kau menungguku beberapa menit lagi!”


Wira menggelengkan kepalanya, dia bahkan tidak mengatakan apa-apa tapi Heaven mengomelinya seperti dia baru saja marah karena Heaven sangat lambat.


   “Selesai, ayo pergi!” serunya, melihat sekali lagi ke cermin dan membetulkan beberapa helai rambut kuningnya yang dibiarkan sedikit tergerai di bagian depan wajah.


Dia juga memasang lencana junior dengan lambang naga itu di kerah bajunya.


Kemudian mereka berdua turun dan langsung pergi tanpa makan, Paul tidak ada di rumah, dia pergi mengurus pekerjaannya dan David ikut dengannya, jadi suasana rumah sedang dalam kondisi yang sangat baik sekarang.

__ADS_1


Saat mereka keluar, Liam dan Bella sudah ada di depan gerbang utama dan menunggu di sana sejak lama.


   “Hari ini adalah hari pertama kita,” kata Liam saat mereka mulai bejalan.


   “Aku sedikit gugup.” Bella meremas jari-jarinya sendiri.


Tapi Heaven tampaknya tidak memiliki masalah sama sekali, dia menggenggam apel di tangannya dan mulai memakannya saat mereka berjalan menuju akademi. Wira di sebelahnya juga tidak memiliki ekspresi apa-apa di wajahnya yang tenang.


   “Hai, semua!” Paula datang dengan senyum di wajahnya.


   “Wah, Paula, kau merubah gaya rambutmu!”


Heaven menoleh untuk melihat penampilan baru Paula. Rambut cokelat yang biasanya dikuncir kuda itu hari ini dibiarkan begitu saja mengantung sampai ke bagian pinggang.


   “Yah, itu lebih baik dari buntut kudamu yang biasa,” komentarnya setelah menelan potongan terakhir apel.


   “Diam kau!” sungut Paula marah, kemudian tertawa renyah.


Dia hanya ingin mencoba gaya baru, sejak dia keluar dari kamarnya semua orang mulai mengomentari penampilan barunya. Ibunya bahkan tidak berhenti menatapnya saat mereka makan bersama sebelumnya.


Ibunya bilang dia sangat cantik dengan penampilan barunya, begitu juga Pulcra. Mereka bahkan akan menyewa seorang pelukis untuk membuat lukisan khusus dirinya, Paula hampir saja menangis karena semua hal itu. Dia hanya merubah gaya rambutnya, bukan melakukan hal luar biasa apapun.


   “Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau merubah gaya rambutmu?”


   “Tidak ada, hanya ingin mencoba gaya baru saja.” Paula kembali tersenyum lebar.


Liam yang berjalan di samping Bella menggeleng cepat, dia membetulkan kacamatanya sebentar kemudian mengatakan, “Wanita biasanya tidak suka perubahan yang tiba-tiba, jika mereka merubah penampilan mereka entah itu pakaian, rambut ataupun aksesoris, itu biasanya disebabkan oleh beberapa hal.”


   “Beberapa hal?” gumam Bella.


   “Ya, misalnya karena ... ingin menyamai kecantikan idolanya lain atau sedang jatu-”


   “Hei, sudahlah. Dia hanya mengubah gaya rambutnya saja karena dia bosan dengan yang lama, itu saja, kenapa kalian repot-repot dengan pemikiran rumit kalian itu.”


Heaven menyela dan langsung menggerutu. Itu hanya gaya rambut, jadi apa bedanya dengan merubah gaya berpakaian atau gaya makan? Semuanya hanya karena alasan bosan atau ingin coba yang baru, itu saja. Tidak lebih.


Paula mengangguk setuju dan memberikan dua jempolnya untuk Heaven.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2