
“Itu benar, tapi jika Kepala Akademi mengetahu bahwa mereka melakukan ini karena alasan diskriminasi maka mereka pasti akan langsung dihukum,” timpal Heaven melipat tangannya di depan dada dengan senyum bangga pada dirinya sendiri.
“Dasar bodoh! Kepala Akademi tidak akan mungkin semudah itu untuk ditemui, dia itu Pemimpin A3 bukan tukang jahit yang bisa kau temui seenaknya!” Paula memukul kepala Heaven dengan keras sampai anak itu meringis kesakitan.
“Aku tahu!” jeritnya dengan tangan yang mengusap-usap kepalanya.
Bella duduk di kursinya dan tanganya terus diremas-remas dan wajahnya telihat gugup. Dia tidak seharusnya memberitahu mereka, jika dia tidak memberitahukan hal ini maka mereka tidak akan menjadi pusing untuk masalah ini. Bella sungguh ingin menangis sekarang.
Tapi sebuah tangan tiba-tiba terulur dan menggenggam jari-jarinya yang bertautan. Itu Liam.
Dia tersenyum dan mengangguk kecil, dia mengerti apa yang dipikirkan gadis itu jadi dia dengan cepat meredakan kegelisahan yang Bella rasakan.
Bella punya hati yang sensitif, dia akan merasa bersalah setelah melihat Erina tampak sedih dari kursinya.
“Tidak! Tidak boleh.”
Liam dan Bella menoleh ketika mendengar suara Erina yang sedikit berteriak. Dia sudah berdiri di depan mereka dan berjalan mondar mandir di sana.
Dia berhenti kemudian menatap mereka dan berkata, “Kita tidak boleh menganggu Kepala Akademi, aku yang akan mengurus ini,” katanya dengan tegas.
Erina menarik napasnya kemudian berbicara lagi. “Dengarkan aku, masalah ini biar aku yang urus. Kalian fokus saja pada latihannya, mengerti?”
“Tapi, Bu, mereka tidak akan mendengarkanmu!”
“Lalu, apakah mereka akan mendengarkanmu?” tanya Erina balik pada Paula, membuat gadis dengan gaya rambut barunya itu terdiam.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya,” katanya lagi. Dia menatap Paula dan ada permohonan yang tergambar jelas di sana.
Paula tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia kehabisan kata-kata dan dia juga tidak mampu melakukan apa-apa sekarang.
Sandor dan teman-temannya, mereka semua terlalu arogan! Mereka bahkan mengancam siswa lain untuk tidak datang hanya karena masalah sepele!
Paula menggigit pipi bagian dalamnya sampai berdarah dan mulutnya terasa asin sekarang.
__ADS_1
“Jika kau-em maksutku Bu Guru Erin bisa mengatasinya sendiri, maka Bu Guru pasti sudah melakukan itu sejak awal,” kata Heaven dengan nada sesopan mungkin.
Dia melirik Paula sebentar dan menghela napasnya lega karena gadis itu tampaknya tidak mendengarnya. Jika dia mendengarnya sebuah pukulan pasti sudah mendarat di kepalanya dengan mulus.
Paula selalu mengedepankan kesopanan pada yang lebih tua, Heaven akan babak belur jika tidak bicara sopan pada orang yang lebih tua dari mereka jika Paula mengetahuinya.
“Ya, kau benar,” kata Erina dengan sedih. “Tapi aku juga tidak bisa diam saja, kan?”
Dia berbalik badan dan kembali ke mejanya untuk meraih buku miliknya, dan menuju pintu keluar.
“Tenang saja, aku akan menangani ini. Sekarang pergi ke perpustakaan dan cari buku untuk dipelajari, akan kulihat hasilnya tiga hari kemudian.” Dia pergi setelah mengatakan itu.
Heaven, Wira dan ketiga orang lainnya masih duduk di kursi mereka dan tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama.
Meski Heaven tidak terlalu bisa mengerti mengenai hal-hal rumit ini tetapi dia sangat paham apa yang sedang terjadi, Erina tidak akan bisa menangani mereka sendirian.
Setidaknya itu yang ada dipikirannya selain makanan, untuk saat ini. Sandor dan yang lainnya tidak akan membiarkan Erina mengajar dengan tenang, dia berjanji selama sebulan penuh, jika dia tidak bisa membuat keempat belas murid di kelasnya menerimanya sebagai penanggung jawab mereka maka dia akan mengundurkan diri.
Mereka semua setuju, tetapi Ansel, Sandor dan yang lainnya tidak akan membiarkannya mencapai tujuan itu. Mereka akan mempersulitnya dan bahkan akan mempermainkan guru wanita itu. Mereka sangat keterlaluan!
“Apa? Dia tidak ingin kita membantunya jadi biarkan saja. Tiga hari lagi dia akan menagih tugas kita, jadi sebaiknya kita belajar. Itu yang saat ini bisa kita lakukan,” papar Heaven dengan suara keras. Dia sedikit kesal.
“Kau pikir dia bisa melakukannya?” tanya Paula, membuat Heaven menoleh.
Itu benar. Dia tahu itu, mereka semua tahu itu tidak akan terjadi. Erina tidak mungkin bisa menanganinya sendirian, mereka semua tahu bahwa masalah ini sangat serius tetapi mereka juga tidak bia melakukan apa-apa.
Heaven kemudian menoleh pada Wira, mulutnya terbuka dan tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi kemudian tidak ada kata-kata yang keluar dari sana. Heaven segera menutup mulutnya dan berdiri.
“Ya, apapun itu. Bu Erin pasti tahu apa yang dia lakukan.”
...
Heaven, Wira dan Paula pergi ke perpustakaan Akademi setelah makan siang.
__ADS_1
“Di sini!” Bella melambaikan tangannya pada mereka dari meja di pojok ruang perpustakaan.
Ada banyak rak-rak penuh buku yang memenuhi ruangan besar itu dan ada sekitar lima puluh meja besar untuk tempat membaca di sana.
“Sudah menemukan sesuatu?” tanya Paula saat dia menjatuhkan bobotnya di kursi di samping Bella.
Bella mengangguk antusias, dia menunjukkan bukunya pada mereka.
“Aku sudah menemukannya,” katanya dengan gembira.
Tetapi Heaven mengerutkan keningnya dengan bingung, dia tidak tahu buku apa yang telah dipilih oleh Bella untuk dipelajari.
“Ini adalah buku yang paling lengkap tentang ramuan yang ada di sini,” jelasnya pada mereka, matanya berbinar tanpa henti saat menatap buku bersampul hijau ditangannya itu.
“Sejak kecil Bella sudah bermimpi akan menjadi seorang ahli ramuan terkenal yang hebat.”
“Kau juga, kan?”
“Tentu saja, aku akan selalu mengikutimu sampai kapanpun.”
Paula dan yang lainnya saling memandang dan tersenyum mengejek di belakang mereka. Cinta macam apa ini?
Sementara Heaven, Paula dan ketiga lainnya sibuk di perpustakaan, Erina sedang membereskan beberapa hal di kamarnya.
Dia menghembuskan napasnya perlahan, Erina sudah memutuskan langkah-langkah apa saja yang akan dia lakukan untuk mengatasi kenakalan anak-anak itu.
“Baiklah, pertama-tama mari kita kunjungi mereka yang tinggal di asrama.” Dia menghembuskan napasnya sekali dan kemudian siap untuk pergi.
Erina sedang menuju gedung asrama putera di bagian timur Akademi, setelah mengisi data diri dan menjelaskan keperluannya pada penjaga, dia akhirnya masuk.
Asrama putera saat itu sangat sepi, ada banyak bangunan bertingkat dua yang merupakan asrama bagi para siswa laki-laki yang ingin tinggal di sana.
Erina menyusuri lorong sebelum akhirnya naik ke lantai dua dan menemukan beberapa orang sedang duduk di anak tangga.
__ADS_1
“Oh, hallo. Kalian di sini?” tanyanya pada mereka.
Bersambung ...