The Escapade

The Escapade
Episode 29


__ADS_3

“Kalian harus menjauhinya, mengerti?”


Setelah selesai berbicara, dia segera kembali kekamarnya dan berbaring di sana. Perutnya sakit sekarang dan membuatnya tidak bisa banyak bergerak, Paul tidak menyangka masakan Wira begitu enak.


Dia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh mengingat banyak kejadian di masa lalu. Itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus berputar.


Paul menghembuskan napasnya kemudian duduk di ranjangnya saat matanya menatap ke arah rak buku di satu sudut kamar.


Dia berpikir untuk beberapa saat ketika matanya melihat rak buku itu tetapi sesaat kemudian dia kembali merebahkan dirinya dan langsung tertidur dengan lelap.


Sementara kediaman Falamir sangat tenang, berbeda dengan kediaman Moa.


Sin Moa duduk di kursi kepala keluarga dengan muka yang lebih gelap dari langit malam itu. Sandor sudah tergeletak tak sadarkan diri di depannya. Dia meringkuk seperti seekor anjing yang baru saja mati di jalanan.


“Bawa sampah ini pergi!”


Dua penjaga segera masuk dan buru-buru menyeret Sandor keluar.


Sin Moa menyandarkan punggungnya yang masih bergetar karena amarah. Matanya setengah terpejam saat mengingat bagaimana Paul dengan bangga meliriknya setelah sebelumnya dia mencercanya tentang anaknya.


Sandor tidak gagal dalam ujian tetapi dia gagal memuaskannya. Dia ingin anaknya melebihi anak Si Banteng Merah sehingga dia bisa menginjak-injak harga diri Paul sesukanya hatinya.


Tetapi anaknya itu tampaknya tidak terlalu bisa diandalkan.


“Sekarang bagaimana?” Salah satu dari mereka yang duduk di sana bertanya dengan serius, wajahnya tidak jauh beda dengan Sin.


“Jika bisa, aku ingin membunuh mereka sekaligus!” Vienzo Gor, salah satu petinggi akademi itu berkata dengan marah.


Sin melirik mereka dan mendengus dingin saat dia mengatakan, “Memangnya kau bisa?” ejeknya pada mereka.


Mereka semua saling memandang satu sama lain tetapi tidak ada yang bicara. Sin benar. Mereka tidak berani, mereka tidak punya nyali untuk itu. Dan lebih penting, mereka hanya punya satu nyawa!


Wajah semua orang menjadi semakin muram. Mereka tidak berani gegabah karena saat Paul memutuskan untuk membunuh mereka, maka dia akan melakukan itu bahkan tanpa jejak sekalipun!


Dia disebut Si Banteng Merah bukan tanpa alasan. Pria gila itu sangat ganas dan kejam seperti banteng gila di tengah medan perang!


“Kita tidak akan mengambil tindakan apa-apa?”


“Operasi besarnya akan segera dimulai.”


Kata-kata yang keluar dari mulut Sin Moa membuat jantung semua orang berdetak hebat.

__ADS_1


Operasi besar akan segera dimulai!


Itu akan menjadi badai yang akan memporak-porandakan Akademi Atas Awan, dan badai itu datang dari dalam Akademi itu sendiri!


Akademi Atas Awan adalah salah satu dari tiga akademi besar lainnya di wilayah kerajaan Angin. Juga merupakan salah satu pondasi utama kerajaan Angin dan pemasok generasi muda jenius di negeri mereka.


Itulah mengapa banyak sumber daya yang dimiliki oleh Akademi baik milik pribadi ataupun milik negara. Semua itu ditujukan hanya untuk satu hal, generasi muda mereka.


Tapi itu tidak akan lama lagi!


Duri beracun di dalam daging akan segera bereaksi dan akan membuatnya busuk dan hancur sampai keintinya.


“Kapan semua itu akan dimulai?” Tia Moa, kakak tertua Sin Moa itu tampak agak cemas saat memasuki Aula pertemuan rahasia mereka.


Sin meliriknya sedikit dan wajahnya langsung terangkat. Dia tersenyum saat dia berkata, “Segera.”


Semua orang yang ada di sini adalah mereka-mereka yang memiliki urusan pribadi dengan Paul. Terutama Sin Moa, dia punya dendam yang sekental darah pada bajingan gila itu!


Tia duduk di salah satu kursi dengan wajah yang lesu. Matanya sangat sayu dan dia terlihat tidak sehat sama sekali.


“Kau tidak seharusnya memukuli anakmu begitu keras.”


“Dia bisa mati.”


“Ingat, kau hanya punya satu anak,” kata Tia sebelum dia bangkit dari kursinya dan berjalan pergi.


Sin masih menutup matanya dan tampak ia tidak peduli sama sekali.


“Sin, apa yang diucapkan kakakmu benar. Jika Sandor mati kau juga tidak akan punya pewaris lagi.” Dior Wind ikut memperingatkannya.


“Aku tidak peduli, aku masih cukup kuat untuk menghasilkan beberapa pewaris lagi,” katanya acuh.


Dior tertawa terbahak-bahak. “Tapi wanita yang kau pilih tidak akan bertahan sampai hari berikutnya.”


“Itu karena dia terlalu kasar,” kata Lucas Star setelah menyesap tehnya sedikit.


“Operasi akan segera dimulai. Jangan bermain-main lagi,” kata Sikan setelah diam sangat lama.


Dia berdiri dan pergi. Setelah mengambil beberapa langkah dia kembali menoleh dan berkata dengan nada serius,


“Rencana ini sudah dibuat serapi mungkin, jika ada yang menghalangi ... langsung bunuh mereka.”

__ADS_1


Hawa dingin seketika menguar dari Sikan saat dia mengatakan itu.


“Termasuk Paul?”


“Siapapun tanpa terkecuali!”


Dia pergi setelah mengatakan itu.


Yang lain saling memandang untuk bertanya. Tetapi tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Suasana menjadi hening seketika.


Sin menegakan tubuhnya dan menatap mereka yang tersisa saat sebuah senyum kecil melintas di bibirnya


“Kudengar ujian terakhir diadakan di pulau tengkorak,” kata Sin Moa mengangkat gelas miliknya dan mengaduknya pelan di udara.


Mereka menatapnya dan segera mengerti apa yang dipikirkan kepala keluarga Moa itu.


“Itu waktu yang tepat untuk membunuh beberapa orang.” Aura mematikan tiba-tiba memancar dari Sin Moa.


Mereka mengangguk dan melanjutkan mendiskusinya beberapa hal lagi hingga larut malam.


Pagi hari berikutnya, Heaven kembali berlatih sampai siang.


Berbeda dengan tahap pertama dan kedua, babak ketiga ujian akan diadakan di luar Akademi. Dan mereka hanya diberi waktu satu hari untuk mempersiapkan diri.


“Terus, jangan berhenti!” teriak Wira dari garha sebelah saat melihat Heaven berhenti memukul wajan besi berisi pasir panas yang dipanggang dengan api di bagian bawahnya.


Dia kesal tetapi dia tidak punya pilihan, Wira melatihnya dengan sangat keras tetapi dia tidak boleh protes sama sekali.


“Hey aku lapar!” Dia berteriak frustrasi dan tangannya sudah merah dah agak bengkak sekarang.


Dia menoleh untuk melihat Wira yang sedang duduk santai sambil menikmati camilannya. Dia sangat kesal tetapi tidak berani protes, jadi dia meninju wajan pasir panas itu dengan keras berkali-kali sampai pasir itu beterbangan ke udara sebagai gantinya.


Saat dia menatap perutnya yang terus berbunyi dan kemudian mendongak, matanya melihat Paul yang berjalan di lorong paviliun dan ide mulai muncul di kepalanya.


“Ayah!” Heaven melambaikan tangannya dan tersenyum lebar saat Paul melihatnya dengan bingung.


Wira menyemburkan teh dari mulutnya. Dia kemudian tersenyum kecil saat menyadari betapa cerdiknya anak itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2