The Escapade

The Escapade
EPISODE 76


__ADS_3

   “Tentu saja, biasanya ibu Bella yang menyiapkan makanan ini tapi setelah kami masuk akademi dan tinggal di asrama kami tidak pernah makan sup kubis lagi.” Ada sorot mata sedih di mata mereka, kemudian berganti dengan tatapan nostalgia yang melankolis.


   “Kalau begitu kalian harus makan yang banyak, tapi aku tidak yakin ini akan terasa enak.” Erina tersenyum canggung.


Mereka berdua segera menggeleng bersamaan.


   “Sup kubis akan selalu enak, meski aku tidak yakin ini akan seenak buatan ibuku,” kata Bella dengan cengiran.


   “Tidak ada yang bisa menandingi masakan ibu di dunia ini,” tutur Erina, mereka semua mengangguk. Kecuali Heaven.


Pikirannya seketika menjadi kosong saat memikirkan kata ibu. Dia tidak punya ibu, dia mungkin punya tapi dia tidak tahu siapa ibunya.


Saat dia masih sibuk melamun, pintu di belakangnya tiba-tiba dibuka dari dalam. Heaven yang bersandar di pintu langsung terjatuh saat Wira membukanya dari dalam. Dia jatuh dengan suara gedebuk yang keras.


   “Kau mau mematahkan tulangku ya?” sungut Heaven sambil mengusap pelan punggungnya yang sakit.


   “Oh, aku tidak tahu ada kau di sini,” kata Wira dengan acuh.


Heaven mendengus. Tidak tahu? Itu mustahil! Dia itu Wira, jadi tidak mungkin dia tidak menyadari bahwa ada seseorang di balik pintu.


Heaven masih ingat saat mereka di pulau tengkorak. Saat itu, jika bukan karena Wira mereka mana mungkin bisa menemukan David dan juga bunga Syufu.


Erina yang melihat Wira keluar, wajahnya langsung berubah menjadi tegang lagi.


   “Bagaimana?” tanya Paula pada Wira.


Wira berjalan ke arah mereka dan Heaven mengekorinya dari belakang.


   “Tidak ada masalah.”


Kata-kata pertama yang keluar dari bibir Wira seperti sebuah angin sejuk yang dibarengi petir bagi Erina, dia menelan liurnya dengan susah payah saat tenggorokannya terasa kering, kemudian bertanya. “Apakah ... apakah ibuku bisa sembuh?”


   “Penyakitnya cukup serius.” Sorot mata Erina sedikit menurun bersamaan dengan bahunya yang merosot kecewa. Tetapi kata-kata Wira berikutnya membuatnya membeliak dan kembali menghidupkan api harapan yang hampir padam.


   “Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh, hanya butuh waktu lebih lama.”


   “Sungguh?”


   “Hey, kau serius?” Paula dan Erina bertanya bersamaan.

__ADS_1


Wira hanya mengangguk sebagai jawaban.


   “Syukurlah, ibu ....” Erina menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan rasa haru dan bahagianya yang sekarang bercampur menjadi satu.


   “Apakah matanya juga bisa disembuhkan?”


   “Bisa.”


Erina tidak lagi bisa menahan air matanya yang sekarang menggenang di pelupuk matanya, itu jatuh begitu saja bersamaan dengan hatinya yang terasa bergetar sekarang. Ibunya sungguh akan sembuh, ibunya akan bisa sehat kembali dan bisa melihat lagi.


   “Terima kasih,” kata Erina sungguh-sungguh.


   “Ini tidak gratis,” celetuk Heaven tiba-tiba, membuat Hengky dan yang lainnya menoleh padanya. Paula pasti akan memukulnya jika dia tidak mendengar kalimat yang diucapkan Heaven berikutnya.


   “Sebagai bayarannya, kau harus mengajar kami dengan baik.”


Erina sangat terharu mendengar itu, kata-kata Heaven sangat manis. Mereka semua sangat manis. Erina bersumpah dalam hatinya bahwa dia akan membimbing dan melindungi mereka semua agar mereka mencapai semua impian mereka.


   “Aku janji,” katanya dengan nada serius.


Heaven mengangguk percaya, kemudian senyum nakal muncul di wajahnya saat dia menggosok kedua telapak tangannya dan menjilat bibirnya ketika matanya menatap makanan di atas meja.


   “Dasar payah.” Cicit Paula geram sambil mencebik pada Heaven.


Tapi heaven tampaknya tidak peduli lagi tentang apa-apa selain makanan, dia mengambil satu mangkuk kecil kemudian mulai menyendok sup kubis bening di depannya itu dan mengambil satu roti.


Saat satu sendok penuh sup kubis itu menyentuh lidahnya, Hevaen segera memuntahkannya ke tanah.


   “Apa-apaan! Ini sup kubis atau rendaman kubis? Dan ini.” Dia memukul-mukul meja dengan roti di tangannya sampai membuat suara ting yang melengking.


“Ini bahkan bisa membuat kepala seseorang benjol!”


Plak!


   “Dasar anak nakal! Tidak boleh bicara begitu!” Paula melihat Heaven meringis saat tangannya mengusap kepalanya yang baru saja ia pukul.


Paula menoleh pada Erina yang matanya kini kembali merah dan wajahnya tersenyum kecut, dia tiba-tiba menyesal, seharusnya dia memukul Heaven sebelum bajingan kecil itu menyelesaikan kata-katanya.


   “Sudah cukup!” pekik Heaven saat mereka semua menjadi ricuh untuk menghibur Erina.

__ADS_1


Heaven bangkit dari kursinya kemudian tangannya terulur untuk menumpahkan sup kubis dalam mangkuk besar itu ke tanah.


Semua orang terkejut, Erina menutup mulutnya dengan tidak percaya.


   “Hey, sialan! Apa yang kau lakukan?” Paula ingin memukulnya lagi, tapi Heaven segera melempar mangkuk keramik besar itu padanya.


   “Ini bukan makanan!” Hevaen berteriak marah dengan napas memburu.


Erina yang berdiri tak jauh darinya menutup mulutnya dan berusahan mati-matian agar air matanya tidak jatuh lagi.


Itu adalah sup kubis dari persedian terakhir mereka untuk dua hari kedepan, tapi Erina mengeluarkan semuanya untuk menjamu mereka. Tetapi Heaven malah membuangnya ke tanah dan mengatakan bahwa itu tidak layak. Dia tahu itu tidak enak tetapi ...


   “Jika ibumu sakit setidaknya beri dia makanan yang layak, gaji di akademi mungkin hanya cukup untuk beberapa minggu saja, setidaknya carilah pekerjaan lain!”


   “Diam kau brengsek!” Paula ikut berteriak pada Heaven, Bella di sebelahnya menahannya saat dia ingin memukul anak nakal itu lagi.


   “Aku tahu ... tapi hanya itu yang kami punya,” kata Erina di sela isaknya.


   “Hey, Wira, kendalikan kelakuan saudaramu itu!” Hengky juga sama marahnya dengan Paula.


Wira menaikkan pandangannya untuk melihat Heaven yang berdiri di sebelahnya, tetapi dia tetap tidak memiliki ekspresi apa-apa di wajahnya kecuali ketenangan.


Paula menggertakkan giginya saat melihat Wira tidak bereaksi apa-apa, tapi suara Heaven terdengar lagi hingga mengalihkan perhatiannya dari pria dingin itu.


   “Astaga, Bu Guru.” Heaven mengusap kasar wajahnya, membuat Erina menggigit bibir bawahnya dengan malu.


Dia tahu dia miskin tapi bisakah anak pirang ini tidak terlalu kasar, dan mereka juga tidak harus berteriak di rumahnya, kan?


   “Mulai sekarang jangan tinggal di rumah kecil ini lagi, tinggal-lah di rumahku. Ada satu bangunan tidak terpakai di sana, kalian juga tidak perlu makan-makanan aneh ini lagi. Ini bahkan tidak bisa dimakan,” katanya sambil melirik roti keras di atas meja.


Erina tercengang, Paula, Hengky dan yang lainnya juga sama-sama tercengang, sementara Wira tersenyum kecil.


Heaven adalah manusia yang baik, meski dengan cara yang agak berbeda, setidaknya itu yang Wira pikirkan tentang Heaven. Sejak mereka bertemu, Wira bisa melihat bahwa Heaven adalah orang baik itulah mengapa dia mempercayainya.


   “Ap ... apa yang kamu katakan?” Erina masih belum mengerti apa yang terjadi.


   “Aku bilang, pergi dan tinggallah di rumahku. Ibumu sedang sakit dan Wira bisa mengobatinya, akan sangat merepotkan jika kami harus ke sana dan ke sini setiap hari. Jadi kalian bisa tinggal di rumah kami,” jelas Heaven lagi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2