The Escapade

The Escapade
Episode 45


__ADS_3

Pria itu membuka matanya perlahan saat dia menerima air dari Riander dan meminumnya perlahan.


Saat air itu masuk ke tenggorokannya, rasanya sangat perih sampai dia meringis kesakitan dan kembali memuntahkan air itu, melewati bibirnya yang sangat kering.


Mereka menjadi semakin cemas, Riander mengerutkan dahinya ketika dia memikirkan berapa lama pria itu terkurung di sana sampai keadaannya menjadi seburuk ini.


Dia awalnya ingin memberinya pil penyembuh tetapi bahkan seteguk air pun tidak bisa ditelannya, lalu bagaimana bisa dia mengobatinya.


   “Biar ku coba, aku bisa sedikit ilmu pengobatan,” kata Paula segera saat dia melihat kebingungan di wajah seniornya.


Riander mengangguk dan segera menyingkir untuk memberi ruang pada Paula untuk mengobati pria itu.


Paula kemudian mengambil satu pil penyembuh dan menelannya. Dengan cepat pil itu segera terserap ke dalam tubuhnya tetapi berkat ajaran pengobatan khusus dari keluarganya, Paula mencegah pil itu untuk tidak menyatu dengan dirinya dan mengubahnya menjadi energi.


Dia duduk bersila dan mulai mengulurkan tangannya ke arah pria itu. Energi segera keluar melalui jari-jarinya dan membentuk seperti benang halus berwarna merah muda.


Paula telah mengatur ulang energi yang dia salurkan sehingga itu mengandung banyak sekali molekul-molekul kecil dari pil yang ditelannya sebelumnya.


Itu adalah teknik rahasia keluarga Clearn, sejak jaman dulu mereka adalah keluarga medis yang terkenal dan rendah hati.


Meski ayahnya menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum di akademi dan bukan memimpin paviliun obat, mereka masih melestarikan cara pengobatan mereka hingga sekarang dan mendirikan sebuah toko obat di akademi yang berkerja sama dengan paviliun obat.


Paula terus mengalirkan energinya ke dalam tubuh pria itu sampai semua molekul pilnya habis. Dia berkeringat sampai rambutnya menjadi sedikit basah dan napasnya memburu.


   “Sudah selesai,” kata Paula pada mereka. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan frekuensi napasnya kemudian melanjutkan, “Seharusnya untuk sekarang sudah tidak apa-apa.”


Dia bangkit dan menerima sapu tangan dari Bella untuk menyeka keringatnya.


   “Sudah sembuh total?” Heaven bertanya sambil berjongkok di samping tubuh pria itu dan memperhatikannya.


   “Tidak, masih belum. Lukanya sangat parah jadi butuh banyak waktu untuk membuatnya sembuh sepenuhnya.”


Heaven mengangguk kemudian berdiri dan bertanya lagi, “Sekarang bagaimana?”


Semua orang menatapnya dan ikut menjadi bingung, mereka kemudian beralih untuk menatap Riander yang terlihat melamun. Saat merasakan tatapan semua orang melihatnya, dia ikut menjadi bingung juga.


   “Bagaimana selanjutnya? Harus kita apakan pria ini? Kita juga masih harus mencari bunga syufu, tetapi tidak mungkin kita meninggakannya di sini dan tidak mungkin juga kita membawanya,” kata Heaven panjang lebar.

__ADS_1


Paula tercengang, dia kemudian berjalan mendekatinya dengan senyum nakal di wajahnya saat dia berkata, “Tumben kau bisa menggunakan otakmu.”


Heaven memelototinya dan ingin menghajarnya ketika dia mendengar apa yang di katakan Paula, tetapi yang lainnya juga mengangguk dan setuju!


Dia merengut dan mendengus, dengan kesal memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah lain.


   “Kalian ...”


Pria itu sadar dari pingsan dan langsung duduk.


Riander yang berdiri paling dekat dengan tubuhnya segera berlutut untuk membuatnya kembali bebaring. “Tetaplah berbaring, tubuh Tuan masih sangat lemah.”


Pria itu menggeleng untuk menolak tetapi Heaven dengan cepat merebahkan tubuh besarnya dengan paksa hingga membuatnya sedikit meringis.


   “Hey, Bodoh! Kau ingin membunuhnya?”


Paula memukul kepalanya dengan keras hingga menimbulkan bunyi.


Heaven sedikit meringis saat dia mengelus kepalanya yang sakit sambil berkata, “Bisakah kau berhenti memukul kepalaku? Aku bisa gegar otak nanti!”


Paula ingin memukulnya lagi tetapi pria itu bangkit dengan cepat dan meraih kedua bahu Heaven dan mencengkeramnya dengan keras.


Pria itu segera sadar ketika mendengarnya dan dengan cepat melepaskan kembali cengkeramannya dan meminta maaf berkali-kali.


   “Maaf-maaf, ku pikir aku seperti melihat orang yang ku kenal tadi,” katanya saat bahunya tiba-tiba merosot dengan kecewa.


   “Ku dengar kalian sedang mencari bunga syufu,” ucapnya.


Riander dengan cepat menjawab, “Benar, apakah Tuan memiliki pentunjuk untuk kami?”


Dia bertanya dengan sangat sopan dan bahasanya sangat formal. Bagaimanapun Riander adalah orang yang lebih muda, dia harus memiliki hormat untuk mereka yang lebih tua dan lagi, dia juga anak dari kepala akademi atas awan, setiap perilaku dan kata-katanya mencerminkan didikan yang dia peroleh dari keluarga.


Pria itu melihat mereka berenam satu persatu dan matanya berhenti cukup lama pada sosok Heaven, mata dan rambutnya terlihat sangat familiar. Dia diam beberapa saat kemudian mengangguk pelan setelahnya.


Semua orang menjadi bersemangat seketika, Bella dan Paula bahkan melompat-lompat sambil tertawa senang.


   “Itu.”

__ADS_1


Dia menunjuk pada roh-roh kecil yang ada di sekitar mereka kemudian melanjutkan, “Bunga Syufu ada di tubuh mereka,” katanya lagi.


Senyum mereka tiba-tiba menghilang dan berganti dengan kebingungan, tetapi Liam dengan cepat bersuara.


“Jadi begitu,” katanya dengan raut wajah yang tidak terkejut sama sekali.


   “Apa maksutnya begitu?” Heaven tidak mengerti sama sekali dan menjadi bingung, yang lainnya juga sama bingungnya sepertinya.


Kemudian Liam menjelaskan, “Hanya ada sedikit informasi yang tersedia tentang bunga syufu ini, karena memang tidak banyak orang yang pernah melihatnya.”


   “Menurut salah satu sumber, dia mengatakan bahwa dia pernah melihat bunga syufu dalam perjalanan pengembaraannya.


Dia mengatakan bahwa bunga syufu tidak tumbuh di tanah dan mereka juga tidak menyukai air, tetapi mereka sangat suka udara yang dingin dengan tempat yang minim cahaya atau bahkan tidak memiliki cahaya sama sekali.”


   “Tidak tumbuh di tanah, tidak suka air, lalu bagaimana cara mereka bisa tumbuh?” Heaven benar-benar tidak bisa memikirkan apapun, kata-kata Liam sangat rumit dan dia tidak bisa mengerti sama sekali.


Liam membetulkan kacamatanya sebentar sebelum melanjutkan penjelasan.


“Intinya Bunga Syufu adalah inti dari roh-roh kecil itu di mana mereka terbentuk dari energi spiritual angin dingin alami yang terjadi hanya di beberapa tempat di dunia.”


Heaven menggaruk kepalanya dan semakin tidak mengerti sama sekali apa yang di ucapkan oleh Liam, berbeda dengan Heaven, yang lainnya tampak menganggukkan kepala mereka dan mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Liam.


   “Begitu ternyata,” kata Riander sambil mengangguk.


Dia kemudian tersenyum sambil menepuk pelan bahu Liam saat dia berkata,


“Sepertinya junior kami tahun ini akan sangat luar biasa.”


   “Terima kasih, Senior,” kata Liam dengan senyum di wajahnya.


Riand mengangguk kemudian berjalan mendekat ke arah salah satu roh kecil itu, dia berbalik untuk melihat pria itu dan bertanya, “Apakah boleh?”


Pria itu hanya mengangguk pelan, tetapi itu sudah cukup. Tanpa menunggu waktu lama, Riander dan tim sepuluh segera bergerak untuk mengumpulkan Bunga Syufu.


Satu per satu roh-roh kecil itu di bantai dan saat tubuh mereka di potong ada ledakan cahaya yang memancar dari tubuh mereka yang kemudian menggumpal dan berubah menjadi bunga dengan bentuk terompet.


Bunga Syufu!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2