The Escapade

The Escapade
Episode 42


__ADS_3

“Baik, maaf merepotkan lagi kalau begitu,” kata Riander.


Draco hanya mengangguk kecil kemudian memanggil Joe dan menyuruhnya untuk menyiapkan tempat tinggal sementara bagi mereka.


Malam itu, berkat Heaven dan yang lainnya para penduduk klan manusia kadal bisa merasakan lagi rasa luar biasa dari buah nobilis yang biasanya hanya mereka makan setiap setengah tahun sekali.


Rainder dan tim-nya telah menjadi figur baik yang patut dicontoh untuk generasi mendatang. Dranxi juga membuat syair puisi untuk mengenang kebaikan mereka karena perintah ayahnya.


Dranxi, perempuan dari klan Lizardman itu sangat mahir dalam sastra dibandingkan dengan penduduk yang lainnya.


Keesokan paginya ...


   “Terima kasih, pahlawan!”


   “Kami tidak akan melupakan jasa kalian!”


   “Datang lagi, ya!”


"Hati-hati di jalan!"


Para penduduk klan mengantar kepergian mereka hingga ke perbatasan rawa, Heaven dan yang lainnya juga dibekali beberapa makanan dan buah-buahan untuk bekal perjalanan mereka.


...


   “Pemimpin klan Lizardman mengatakan kalau Bunga Syufu berada di sekitaran daerah ini,” kata Riander saat mereka menyusuri hutan gelap yang penuh lumut dan jamur.


Udara di hutan itu sangat dingin dan lembab, tempat yang sangat cocok untuk tumbuhnya jamur dan lumut. Tetapi bukan itu yang mereka cari.


   “Memangnya seperti apa bentuk Bunga Syufu itu?” tanya Heaven saat dia memeluk dirinya sendiri karena hawa dingin, sementara Wira tetap bersikap biasa saja seolah itu bukan apa-apa. Tetapi yang lainnya merasa mereka akan mati karena kedinginan!


   “Bunga Syufu atau sering disebut juga Bunga Terompet Halusinasi, sesuai namanya, bunga itu berbentuk terompet. Panjangnya beragam dan mereka tumbuh berkelompok, menurut buku yang ku baca Bunga Syufu mengandung serbuk yang mampu membuat orang berhalusinasi,” Jelas Liam.


   “Setangkai Bunga Syufu bisa membuat hampir sepuluh orang dewasa menjadi gila karena halusinasi berlebih. Bahkan pernah ada kasus yang menyebabkan kematian,” tambah Bella dan mendapat anggukan dari Liam.


Heaven mengangguk saat dia menggosokkan kedua telapak tangannya dan mencoba menyalurkan kehangatan di sana.


   “Syufu oh Syufu, di manakah dikau berada?”


Heaven hampir kehilangan akalnya karena temperatur yang semakin dingin, semakin mereka masuk maka semakin turun temperaturnya. Itu membuat tulang mereka menggigil!


   “Lima kilometer arah barat,” ucap Wira tiba-tiba.


   “Bunga Syufu?”

__ADS_1


   “Bukan, manusia.”


Jawaban dari Wira mematahkan semangat Heaven yang baru saja muncul, dia kembali berjalan gontai dengan patah hati.


Riander menatap Wira yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.


Sejauh ini, hanya Wira yang tidak pernah tampak tertarik dengan apapun yang mereka dapatkan dan juga dia tidak pernah ikut dalam pertarungan langsung.


   “Kau yakin itu manusia bukan monster?” tanya Paula yang berdiri di samping Riander.


Wira mengangguk pelan, dia diam untuk beberapa menit ketika matanya menyorot ke arah barat yang gelap kemudian melanjutkan, “Dia sedang terluka parah."


Semua orang terkejut. Mereka kemudian ikut mengalihkan pandangan mereka mengikuti arah mata Wira tetapi hanya ada kegelapan di sana.


Mereka menjadi bingung, apakah Wira sedang berhalusinasi? Bella dan Liam dengan segera memegangi kedua tangan Wira dan menahannya setelah mereka mengonfirmasi satu sama lain.


   “Apa yang kalian lakukan?”


   “Tidak apa-apa, Wira, tenangkan dirimu oke,” kata Bella sambil terus memegangi lengan kirinya.


Wira mengernyit tapi kemudian dia segera menyadari bahwa mereka mengira dia sedang berhalusinasi dan mencoba menghilangkan efek itu.


Terbukti saat mereka berdua memegangi kedua lengannya sambil menutup hidup mereka masing-masing dan saling mengangguk.


   “Aku tidak berhalusinasi, tidak ada Bunga Syufu di sini,” terang Wira dengan tenang, tetapi Liam dan Bella tidak berniat melepaskannya dan terus waspada saat mereka menahan kedua tangannya.


   “Tapi kan---”


   “Sudah-sudah, ayo kembali ke tujuan kita,” kata Riander melerai mereka.


Meski begitu, dia tetap diam-diam melirik Wira dan penasaran bagaimana bisa dia memiliki indera setajam itu.


Daripada bertanya, Riander lebih memilih diam dan membiarkan waktu yang akan memberinya jawaban. Dia tersenyum saat memikirkannya dan mulai semakin penasaran terhadap Wira.


   “Bunga Syufu juga ada di sana,” kata Wira lagi saat mereka baru akan mulai berjalan.


Semua orang menoleh lagi padanya tetapi ada keraguan di mata mereka saat mereka menatapnya.


Wira mengerti sulit bagi manusia seperti mereka untuk memahaminya, dia tersenyum dan ingin mengatakan sesuatu tetapi Heaven dengan cepat mengatakan,


   “Tunggu apa lagi? Ayo jalan!” katanya ketika semua orang tampak mematung di tempat.


Dia tersenyum lebar dan sangat percaya diri, lebih dari itu dia percaya pada Wira. Heaven tidak peduli pada yang lain saat mereka memanggilnya di belakangnya sementara dia sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Masuk ke dalam hutan sebelah barat yang sangat gelap dan dingin, itu seperti lorong yang sangat gelap dan menakutkan. Heaven yang tadinya sangat bersemangat di antara teman setim-nya yang lain sekarang menjadi seperti anak kucing yang ketakutan.


Semua keberaniannya hilang saat merasakan dingin yang luar biasa dari tempat itu.


Dia mendekatkan dirinya pada Wira kemudian berbisik, “Kau yakin benda yang kita cari ada di sini?”


Wira meliriknya sambil mengangguk, kemudian tersenyum kecil saat mengingat tingkah Heaven yang awalnya sangat berani mengambil langkah awal tetapi sekarang ...


Beberapa waktu berlalu dan mereka terus berjalan hingga kelelahan, tetapi mereka tidak menemukan satupun dari keberadaan Bunga Syufu yang mereka cari.


   “Seberapa jauh lagi?” Heaven hampir menyerah dengan kakinya, dia juga mulai merasa lapar sekarang.


Bella menyeka keringat di dahinya saat dia berhenti berjalan dan mengeluh, “Aku lelah.”


   “Tahan dulu, ini bukan tempat yang tepat untuk isti—”


   “Aaaa, apa itu?!”


Sebelum Riander sempat menyelesaikan kalimatnya, Bella berteriak dengan tubuh gemetar.


Dia berjalan paling depan di antara rombongan, Liam segera menghampirirya dan menenangkannya. Paula juga memberinya botol air dan membiarkannya minum.


   “Setan!” Heaven meloncat dari tempatnya ketika dia melihat apa yang dilihat oleh Bella.


Riander menyipitkan matanya saat dia memperhatikan makhluk kecil transparan di depan mereka.


   “Bodoh!” Paula berteriak dengan keras karena geram.


   “Kau pikir dengan naik ke atas pohon roh kecil itu tidak bisa mendekatimu?”


Heaven hanya tersenyum polos sambil memeluk dahan pohon tempatnya berpijak, sementara Riander berjalan perlahan untuk mendekati roh kecil berbentuk asap berwarna biru itu.



   “Tenanglah, aku tidak jahat,” katanya ketika dia mengulurkan tangannya untuk mencoba meraih asap kecil di depannya.


Tetapi roh kecil biru itu langsung menghilang saat tangannya hampir sampai. Riander mengedarkan pandangannya, begitu pula dengan yang lainnya.


Heaven yang melihat itu juga celingukan dan saat dia tidak melihatnya lagi dia menghela napasnya lega. Akhirnya setan kecil itu hilang entah kemana.


   “Huff, sudah hilang,” kata Heaven dengan lega.


Wira mendongak ke arah Heaven ketika dia mendengar suaranya tetapi kemudian dia dengan cepat berkata, “Lihat sebelah kiri mu.”

__ADS_1


Bersambung ...


 


__ADS_2