
“Hahaha!”
Dia menoleh untuk melihat ternyata Tcesni yang menertawakannya, dia berjalan dan duduk bersama mereka dengan pakaian basah dan wajah cemberut
“Berhenti tertawa! Lagipula kapan kau datang?” tanyanya dengan kesal.
Tangannya dengan intens menarik teko dan menuangkan teh hangat itu untuk dirinya sendiri, namun saat teh itu mengenai lidahnya itu sudah di semburkan keluar lagi oleh Heaven.
“Pahit!” protesnya.
Bagaimana bisa Wira minum teh yang begitu pahit? Itu bahkan membuat lidahnya mati rasa karena pahit dari teh yang tak terduga.
“Aku sudah lama di sini, kau terlalu fokus.”
Heaven tidak mengubris dan sibuk menuangkan air ke dalam cangkirnya dan meminumnya.
“Ngomong-ngomong, soal pintu keluar itu aku agak ... bisakah kita keluar dengan jalan lain?” Heaven bertanya dengan ragu-ragu.
Tcesni melirik Wira sekilas dan dia tampak tidak peduli dan masih menikmati teh dan makan camilannya seolah-olah ini bukan apa-apa.
Dia kemudian mengeluarkan satu buku dan meletakannya di atas meja. Membuka satu halaman yang sudah ditandai.
“... Ini adalah informasi yang mencatat tentang formasi 7 batu pelindung,” terang Tcesni dengan perlahan.
“Itu yang memisahkan Dunia Kaca dan Dunia Luar.”
“Karena jalan keluar pertama terlalu beresiko, maka jalan yang tersisa hanya ini,” katanya lagi.
Heaven melihat apa yang ditunjukkan Tcesni padanya dan segera mengerutkan kening. Dia tidak paham sama sekali! Ini terlalu rumit untuk otaknya yang kecil!
“Tujuh batu harus di letakkan di tujuh tempat yang berbeda di setiap sudut tempat ini dan itu harus di aktifkan secara bersamaan. Jika tidak semuanya akan sia-sia.”
Tcesni diam sebentar sebelum kemudian menatap Wira dengan pandangan yang dalam.
“Tuan, Anda ...”
Wira melambaikan tangannya untuk menginstruksikan bahwa Tcesni bisa melakukannya sendiri. Dia tetap pada posisinya dan menikmati tehnya dengan baik.
Mereka sedang membahas tentang pintu formasi yang akan di buka dan Tuannya itu tetap terlihat tidak peduli dan tidak tertarik sama sekali. Apakah Wira benar-benar sudah menyerah?
Bukankah ini yang paling diinginkan oleh Tuannya selama ini?
Jadi jika benar kali ini juga akan gagal juga tidak ada salahnya mencobanya bukan?
Tcesni benar-benar merasa frustrasi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tau harus mengatakan apa dan akhirnya hanya menghela napas pasrah.
...
“Oke, mengerti!” setelah beberapa lama akhirnya Heaven sedikit paham dengan penjelasan Tcesni.
__ADS_1
Malam harinya ...
Wira sedang memasak sementara Heaven mempersiapkan meja makan, menata piring, sendok, serbet, dan alat makan lain.
Setelah Tcesni kembali ke pohon kehidupan, mereka juga pulang ke rumah. Wira tidak banyak bicara, seperti biasanya dan hanya tersenyum.
Mereka makan malam dengan cepat setelah itu segera kembali ke kamar masing-masing. Malam di lalui dengan tenang dan hanya sesekali terdengar suara lolongan serigala dan beberapa suara hewan nokturnal lainnya.
Keesokan harinya
Heaven bangun pagi-pagi sekali dan berniat memasak sesuatu untuk sarapan mereka.
Sayangnya Wira sudah hampir siap dengan masakannya.
“Kau bangun sangat awal hari ini,” kata Wira saat melihat Heaven.
Heaven duduk dan tersenyum malu. Dia berniat memasak sesuatu untuk mereka karena merasa tidak enak dengan Wira.
Dia sudah lama di sini dan tidak pernah ke dapur sama sekali. Wira menyiapkan semuanya sendiri.
“Aku tidak tidur dengan baik semalam, jadi ku pikir aku akan membuat beberapa hidangan baru. Cobalah.”
Wira mendorong satu mangkuk sup ikan dan Heaven mencobanya dengan antusias.
“Aku heran, darimana kau belajar banyak hal tentang masakan?”
Wira mengambil tempat duduk di depan Heaven dan menuangkan air minum untuknya.
“Dari ibuku,” jawabnya setelah diam beberapa lama.
Wira tersenyum. “Benar, dia sangat cantik.” Matanya menjadi sangat teduh saat ia mengingat wajah cantik itu.
“Habiskan makananmu dan ikut aku.”
Dia tidak berkata lagi dan segera meninggalkan Heaven untuk makan.
...
“Kita akan kemana?”
Mereka sudah ada di atas perahu dengan Shilpy sebagai kemudi hidup. Heaven sudah terbiasa dengan Shilpy setelah beberapa kali bepergian dengannya.
“Mengambil langkah awal untuk membuka pintu formasi,” kata Wira singkat.
Mata Heaven langsung berbinar cerah. Dia hendak berdiri saat perahu menjadi oleng dan membuatnya hampir terjatuh.
“Tenang sedikit.” Wira terkejut dan berpegangan pada sisi perahu saat itu menjadi oleng. Sementara Heaven hanya memamerkan deretan giginya.
Setelah perahu menepi, mereka berdua turun. Tapi Shilpy tidak pergi melainkan menunggu di sana.
__ADS_1
“Kita sebentar di sini?” Heaven tidak tahan untuk tidak bertanya saat mereka melintasi jembatan dari kayu besar berlumut yang agak licin.
“Ku rasa begitu.”
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan rumah dengan pancaran warna merah muda yang lembut.
Wira mendorong pintu besar itu dan langsung masuk dengan diikuti oleh Heaven.
Di dalamnya seorang pria sedang duduk dan menyeduh teh. Ada tiga cangkir di atas meja yang sudah terisi seolah tahu dia akan kedatangan tamu hari ini.
Tanpa banyak bicara Wira duduk dan langsung ke intinya.
“Besok formasi batu pelindung akan di buka.” Wira menatap tanpa ekspresi di wajahnya.
“Ambil bagianmu,” katanya lagi tetap tanpa ekspresi.
“Oh, kau di sini untuk meminta bantuanku? Tidakkah kau berniat menyenangkanku dulu?” tanya pria bertelinga kambing itu. Rambut merah mudanya seperti permen gulali yang manis dan lembut. itu terlihat sangat halus saat semilir angin membuatnya terbang.
Wira tidak bicara lagi dan berjalan menuju pintu.
Dia berhenti sejenak kemudian berbalik, “Aku di sini untuk memberitahu bukan meminta sesuatu darimu. Segala yang ada di sini adalah milikku, termasuk nyawamu.”
“Bagaimana bisa kau mengklaim ini milikmu, ini milik wanita itu, yang mengorbankan hidupnya ...”
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, satu batang es tajam terbang dan menancap tepat di dinding di belakangnya.
Wira tidak meleset tetapi sengaja melakukan itu sebagai peringatan!
Pria berambut merah muda itu menelan salivanya dengan susah payah.
“Ingat batasanmu, Charles.” Suaranya yang tenang membuat Charles bergidik.
Dia membungkuk sedikit saat dia dengan sopan berkata, “Ya, Tuan.”
Wira tidak di sini untuk bermain atau berdiskusi ataupun meminta bantuan. Dan jikapun Charles menolak terlepas dari apapun yang di minta Wira, dia bisa melupakan untuk melihat matahari besok.
Setelahnya, mereka pergi dan menuju tujuan berikutnya.
Hutan Bunga Anggrek.
Setelah sampai di darat Shilpy langsung pergi karena perjalanan berikutnya tidak akan melalu jalur air lagi. Jadi Wira menyuruhnya pergi.
“Selamat datang, Sang Pewaris.”
Elf wanita itu memiliki kulit yang putih dan terlihat sangat halus, dia menunggangi seekor serigala cokelat yang sangat besar.
Di tangannya sebuah tongkat berhias bunga anggrek biru mengelilingi batu kristal yang memancarkan cahaya energi yang sangat kuat.
Setelah mengatakan tujuannya, Wira dan Heaven pergi ke tujuan berikutnya. Masuk ke pedalaman hutan yang rimbun.
“Kenapa diam saja?” tanya Wira pada Heaven.
__ADS_1
“Aku lapar.”