The Escapade

The Escapade
Episode 58


__ADS_3

   “Kau sudah kembali.”


   “Ya, Tuan.”


Paul mengangguk melihat Tora telah kembali. Dia meneguk seteguk besar anggur dari botolnya sebelum akhirnya mengatakan, “Bagus, kalau begitu urus masalah di bagian timur akademi, huk ...”


Tora bisa mendengar sendawa Paul dalam mabuknya, Pual telah menahan seharian untuk tidak minum jadi malam harinya dia akan minum sampai tertidur.


   “Mengerti.” Setelah mengatakan itu, Tora menghilang lagi di antara bayangan malam.


Malam berlalu dalam keheningan, hanya suara beberapa serangga nokturnal yang terdengar.


...


Heaven masih tidur di kamarnya ketika dia mendengar suara keributan dari lantai bawah. Dia perlahan membuka matanya dan mulai meregangkan semua ototnya yang terasa kaku.


   “Siapa yang pagi-pagi buta begini membuat keributan,” katanya sambil menguap.


Rambut pirang sampanye miliknya yang sebatas bahu itu, sangat berantakan setelah dia bangun. Bekas air liur ketika dia tidur juga terlihat mengering di sudut bibirnya.


   “Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun?” tanya seorang pelayan wanita dari luar pintu setelah beberapa kali ketukan.


   “Ya, aku akan segera turun!” jawab Heaven.


Dia dengan malas bangkit dari kasurnya dan mulai membersihkan diri, matanya beberapa kali terpejam karena merasa masih sangat mengantuk. Setelah selesai, Heaven langsung turun.


Suara keributan itu masih terdengar dan bahkan menjadi lebih keras lagi saat Heaven keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Wira yang berdiri di depan tangga menuju lantai bawah.


   “Ada apa?”


Wira menoleh sebentar kemudian matanya menunjuk ke bawah, di mana Paul dan David sedang bertengkar karena permainan catur mereka.


   “Tolol! Kau salah main bidak!” David berteriak dan menyingkirkan buah catur yang baru saja di geser oleh Paul.


   “Hey, curang! Jangan ganggu milikku!” tangan Paul menarik lagi buah yang tadinya sudah di singkirkan oleh David.


 David menggeram kesal dan mulai memaki lagi saat tangannya terayun dan mengambil buah lagi. “Itu memang sudah mati! Dasar bodoh!”


   “Kau yang bodoh!” teriak Paul juga.


   “Kau bodoh! Dasar bodoh!”


   “Brengsek!” Paul membanting papan permainan mereka ke lantai sampai buahnya berhamburan ke mana-mana.

__ADS_1


   “Apa? Ingin bertarung denganku?” David ikut berdiri dan menantang Paul.


   “Kau pikir aku takut? Dasar bau!”


Heaven dan Wira saling memandang kemudian menggelengkan kepala mereka dengan tidak berdaya. Ini masih pagi dan rumah sudah seperti kapal yang baru saja pecah, semua berantakan dan berserakan di lantai.


   “Berhenti kalian, dasar orang tua!” teriak Heaven saat dia menuruni anak tangga bersama Wira.


   “Lihat apa yang sudah kalian lakukan? Benar-benar payah!” katanya lagi sambil berteriak dan menunjuk ke berbagai arah.


David yang sudah kesal tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia ikut berteriak.


   “Diam! Anak kecil tidak perlu ikut campur urusan orang tua!”


   “Hey! Jangan berteriak pada anakku!”


   “Kalian berdua benar-benar orang tua yang bodoh!” kata Heaven dengan keras hingga kata-katanya menggema di ruangan itu.


   “Apa katamu?” David dan Paul berteriak bersamaan.


Heaven segera menutup mulutnya saat melihat ekspresi gelap di wajah dua orang di depannya itu, belum sempat dia melarikan diri.


Heaven sudah di tarik oleh keduanya dan mereka bertiga terlibat adu pukul dan bergumul di lantai. Mereka saling menggulung membentuk sebongkah kapas.


Heaven, David dan Paul. Mereka bertiga sudah duduk di meja makan dengan banyak lebam dan benjol di wajah mereka, terutama Heaven, wajahnya bahkan sudah tidak dapat dikenali lagi karena bengkak.


Mereka duduk di kursi dengan tangan di atas paha, menunduk seperti seorang anak yang ketahuan telah melakukan kesalahan dan takut dihukum.


Di seberangnya, Wira duduk dengan wajah datar tetapi tatapannya sangat tajam seperti itu adalah sebuah belati tanpa wujud.


   “Ekhem, bu-bukankah kalian harus segera pergi ke akademi untuk pembagian lencana kelas?” tanya Paul dengan gugup.


Lima belas menit yang lalu, mereka hampir mati kedinginan karena Wira tiba-tiba saja menyebarkan energinya ke seluruh ruangan yang membuatnya beku. Lantai bahkan sampai licin saat itu.


   “Ya, ya. Kami akan pergi,” ucap Heaven ketika sang ayah menyenggolnya dengan sikutnya.


Setelah Wira ikut pergi bersama Heaven, Paul dan David menghembuskan napas mereka dengan lega seperti baru saja lolos dari kematian.


   “Di mana kau menemukan anak itu?” tanya David setelah napasnya menjadi cukup normal.


   “Lembah Dosa, dia menyelamatkan Heaven ketika dia diasingkan beberapa bulan lalu.”


Keduanya tidak jadi makan karena sudah kenyang dengan kegugupan, David memilih melatih diri di bungalo pribadi milik Paul untuk memulihkan kekuatannya sementara Paul kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Sementara itu, di Akademi Atas Awan


Dua puluh delapan peserta ujian yang lulus telah berkumpul di Aula utama, juga para senior mereka yang mendampingi mereka saat ujian.


   “Hivi!”


Heaven selalu bergidik ketika mendengar nama panggilan itu, entah kenapa. Hanya saja merasa agak geli, Paula memberikan nama panggilan yang menurutnya manis untuk Heaven tetapi tentu saja itu membuat Heaven muak setiap kali dia mendengarnya.


   “Selamat pagi!”


   “Selamat pagi, Paula terlihat sangat ceria hari ini,” kata Bella.


Paula semakin melebarnya senyumnya hingga semua giginya terekspos.


   “Tentu saja, hari ini adalah pembagian lencana untuk kita. Aku sangat bersemangat!”


   “Iya, aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam,” sahut Liam sama antusiasnya.


Dua puluh delapan lainnya juga sama-sama memiliki antusiasme yang jelas tergambar di wajah dan mata mereka.


Di setiap tahunnya, setelah Akademi menguji setiap peserta dengan ujian yang beragam dan lulus maka mereka akan diresmikan secara sah menjadi murid mutlak dan akan membawa nama Akademi Atas Awan kemanapun mereka melangkah.


Tahun ini Akademi memutuskan untuk melakukan tiga tahap pengujian, setelahnya para pejuang tangguh yang berhasil akan mendapat lencana khusus berlambang naga, sesuai dengan lambang kerajaan.


Murid Akademi memiliki tiga tingkat kelas, kelas pertama adalah kelas bagi para pemula berisi Tahap Pembangunan Fondasi dan Tahap Penyatuan Energi.


Tingkat kedua yaitu mereka yang telah berhasil naik ke Tahap Pendekar Element, pada tahap ini mereka akan terus berjuang untuk menembus tingkat puncak yakni tingkat sembilan.


Kelas tertinggi adalah tingkat Master Element, jika seorang murid sudah mampu menembus tingkat Master Element maka dia memiliki hak istimewa. Mereka sama dengan para guru yang mengajar atau bisa juga menjadi asisten para tetua. Sebagian dari mereka dikirim ke kerajaan untuk mengabdikan diri.


   “Dua puluh delapan orang, sedikit sekali,” ucap Paula ketika melihat daftar nama di papan informasi di Aula.


   “Itu bahkan dua kali lipat saat ujian kami tahun lalu.”


Heaven dan yang lainnya menoleh untuk melihat Amber yang datang bersama Riander.


   “Benarkan?”


Amber mengangguk sambil tersenyum. “Sungguh, untuk apa aku berbohong.”


Bella meringis prihatin. “Tidakkah itu terlalu sedikit?”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2