
“Jadi bagaimana, Senior? Haruskan kita mendiskusikan cara untuk---”
Riander mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya hingga dia tidak bisa bicara lagi selain mengeluarkan suara tercekik yang tajam.
Semua orang terkejut. Kapan dia bergerak? Mereka bahkan tidak bisa melihatnya dengan jelas kapan Riander bergerak. Dia seperti angin!
Junior itu mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Riander dan mulai memberontak saat dia tidak bisa bernapas.
Semua anggota tim Amber mulai bersiap untuk menyerang tetapi saat Rian melirik mereka, mereka menjadi beku di tempat!
Mereka ketakutan hingga tidak bisa bergerak sama sekali dan kaki mereka mulai bergetar.
Wajah junior itu menjadi merah saat dia mulai tidak bisa bernapas hingga napasnya menjadi sesak.
Riander mengendurkan cengkeramannya dan pria itu jatuh. Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai terbatuk-batuk saat Rian membungkuk dan menepuk wajahnya dengan pelan.
“Harus sopan pada yang lebih tua,” katanya dengan tenang saat dia berbalik dan membawa tim-nya pergi.
Amber menatapnya saat punggung Riander perlahan menghilang ke kejauhan dan wajahnya merona.
Dia menahan senyumnya sangat lama!
Jadi saat tim lain pergi dia mulai melompat dengan gembira dan matanya dipenuhi dengan kebahagiaan.
Setelah beberapa kali tarikan napas untuk menormalkan jantungnya yang berdetak hebat, dia melirik anggota tim-nya dan matanya dengan cepat berubah menjadi setajam belati.
Sebelum mereka sempat memprotes, Amber lebih dulu mengeluarkan senjata miliknya. Itu sebuah pita panjang yang diikat pada tongkat sebagai pegangan.
Pita sutera yang halus itu segera melilit tubuh mereka dan Amber segera menyeret mereka memasuki hutan.
Sementara itu,
Tim Riander sudah mulai memasuki kawasan hutan yang rimbun. Ada banyak pohon-pohon besar dengan dahan lebat hingga menutupi sebagian cahaya matahari dan menimbulkan bercak acak di tanah.
Riander kemudian menampilkan peta dari token miliknya saat mereka berkumpul membentuk lingkaran.
“Tempat yang dilingkari tanda merah adalah area yang kemungkinan memiliki banyak harta karun berharga sementara yang disilang adalah tempat yang tidak boleh kalian masuki,” jelas Riander sambil menunjuk pada peta.
“Wah, Senior! Kau bahkan sudah menandai beberapa tempat bagus untuk kami.”
“Kau yang terbaik!” Paula mengacungkan dua jempolnya pada Riander.
Mereka dipenuhi dengan antusiasme yang tinggi saat mereka semua mulai mengambil langkah menuju tempat pertama.
__ADS_1
Paula mulai melihat sekeliling saat mereka memasuki kawasan hutan yang semakin rimbun.
Ada banyak pohon-pohon besar yang menutupi cayaha matahari hingga meninggalkan bercak-bercak cahaya di tanah.
Paula mengendus di sepanjang jalan.
“Kau seperti anjing.” Heaven terkekeh saat melihat betapa konyolnya dia sejak mereka keluar dari Akademi.
Paula tidak bisa diganggu, sebaliknya dia terus mengendus ke berbagai arah mencari sumber aroma yang diciumnya.
Setelah menemukannya, dia dengan cepat menunduk untuk mengambil sesuatu dari tanah dan berteriak histeris.
“Lihat!” Paula memperlihatkan rumput ditangannya pada mereka seperti itu adalah harta yang berharga.
Mereka segera mendekat tetapi Heaven tampak tidak peduli sama sekali dan meletakan tangannya di belakang kepala. Itu hanya rumput, selain mirip anjing, Paula juga seperti sapi yang suka rumput.
Dia terkekeh geli saat memikirkan kesamaan mereka.
“Wah, itu rumput Hukxin!” Bella Star, berteriak histeris.
“Rumput Hukxin adalah salah satu tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, mereka tidak termasuk langka tetapi sangat sulit dibudidayakan, itulah mengapa harga jualnya sangat tinggi. Akademi kita bahkan hanya memiliki beberapa di paviliun obat.” Riander menjelaskan dengan tenang pada mereka.
Heaven tercengang. Itu tampak seperti rumput biasa di luar tetapi sebenarnya adalah barang berharga!
Dia berdecak ketika melihat bagaimana gadis berambut cokelat itu memamerkan miliknya padanya dengan gembira.
Riander bertepuk tangan saat dia berkata, “Waktu masih panjang. Kalian juga pasti menemukan sesuatu. Ayo semangat!”
Dia agak berbeda dari sebelumnya. Riander menjadi lebih tenang dan lebih bersahabat, pelajaran beberapa waktu lalu tidak akan dia lupakan.
Dia masih ingat dengan jelas bagaimana keadaannya saat berada di Tanah Iblis. Dia begitu terpojok hingga hampir mati berkali-kali sebelum akhirnya berhasil kembali hidup-hidup.
“Hey, Paula, ayo megendus lagi. Apakah ada tanaman herbal lain di sekitar sini?”
Heaven berjingkat saat gadis itu memelototinya dan mencubit pinggangnya dengan keras.
"Mengendus kepalamu!"
Bella hanya tertawa kecil saat melihat mereka sementara Wira terlihat tidak tertarik sama sekali.
Sore harinya, Riander cukup terkejut saat mereka menunjukan perolehan poin masing-masing dari token mereka.
Kelompok 10 yang dipimpinnya ini adalah kelompok sisa karena teman-temannya yang lain sudah memilih tim yang akan mereka bimbing.
Mereka bilang kelompok terakhir ini hanya berisi orang-orang payah jadi mereka membiarkan Riander yang mengambilnya.
__ADS_1
Dia tersenyum geli. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi yang lainnya saat mengetahui bahwa kelompoknya sudah hampir memenuhi setengah dari target poin mereka bahkan hanya dalam satu hari.
Sementara yang lain beristirahat, Riander mengawasi sekitar untuk memastikan tidak ada hewan buas berbahaya yang mendekat.
Dia naik ke atas batu di ujung tebing dan pandangannya menyapu seluruh daerah itu. Riander menyipitkan matanya sebentar, hutan lebat itu tidak sesederhana kelihatannya.
“Senior, ayo bergabung dan makan bersama kami!”
Riander menoleh untuk melihat Bella melambaikan tangan padanya saat dia tersenyum cerah seperti langit senja.
“Baik, aku datang.”
...
Liam menyalakan api unggun dengan kekuatannya saat ranting-ranting di depannya sudah ditumpuk menjadi satu.
Sementara Bella dan Paula menyiapkan makanan, Heaven tampak bersantai di bawah pohon saat dia melihat betapa sibuknya mereka.
Tangannya memainkan cincin penyimpanan yang terpasang di jarinya saat dia melirik Wira di sebelahnya. Tetapi dengan segera memalingkan wajahnya saat Wira menatapnya.
Heaven masih tidak habis pikir bagaimana Wira bisa begitu santai saat memakai pita itu. Dia merasa pusing dan memijit pelipisnya karena memikirkan itu.
“Belum satu hari tapi kalian sudah hampir memenuhi setengah dari target poin. Aku terkejut!” kata Riander saat mereka mengelilingi api unggun dan makan malam.
“Itu semua berkat Liam dan Bella!”
“Betul, mereka memiliki pengetahuan yang luas,” kata Heaven.
Mereka berdua menjadi salah tingkah. Tidak ada yang pernah memuji mereka sebelumnya, itu membuat mereka tidak mengerti harus bersikap bagaimana.
“Terima kasih,” kata Bella dengan wajah yang merona.
Mereka berdua adalah teman dekat sejak kecil, Bella dan Liam juga mendaftar ujian bersama. Mereka berasal dari desa di bawah kaki gunung, itulah mengapa banyak orang yang meremehkannya.
Mereka miskin dan tidak memiliki dukungan apapun jadi tidak ada yang bisa mereka andalkan kecuali diri mereka sendiri.
Riander melirik mereka berdua dan menyadari rasa tidak nyaman di hati mereka. Jadi dia segera mengalihkan perhatian semua orang dan mulai berbicara.
“Setelah poin terkumpul. Apakah akan langsung kembali atau---?”
“Tidak, tidak.” Paula segera menyela.
“Sangat sulit untuk bisa keluar dari akademi, aku ingin menikmati beberapa hari lagi dan menjelajahi pulau ini,” sambung Paula.
__ADS_1
Sementara yang lainnya mengangguk setuju.
Bersambung ...