
Mata ibunya buta karena menangis sepanjang waktu ketika ayahnya meninggal dunia ketiak ayahnya pergi berdagang.
Sejak kematian ayah mereka, ibunya bekerja menjadi buruh pemetik teh, terkadang juga membantu menjaga hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Setelah Erina dewasa, dia yang mengambil alih semuanya dan menyuruh ibunya istirahat total.
“Sudah banyak tabib yang memeriksa ibuku, apakah ... apakah memang masih bisa sembuh?”
“Er, suruh mereka pulang saja. Ibu tidak apa-apa.” Suara serak dan lemah dari ibunya mengalihkan pandangan mereka semua.
“Paula, kau bisa?” tanya Heaven.
Paula diam untuk beberapa waktu, dia tidak tahu dia bisa atau tidak. Selama ini dia tidak mendalami ilmu medis, selain dari kemampuan medis dasar dan teknik turun-temurun dari keluarganya.
“Aku harus memeriksanya dulu,” ucap Paula. Dia mungkin tidak bisa tapi dia tidak akan bilang begitu saat dia bahkan belum mencobanya.
Heaven mengangguk. “Bagus, lakukan.”
“Oke.”
Paula mendekati perempuan tua yang merupakan ibu dari gurunya itu, dia menelan air liurnya dan menjadi gugup. Setelah menarik napas dalam-dalam, Paula mulai mengulurkan tangannya untuk mulai memeriksa.
Paula bisa merasakan kulitnya sangat dingin seperti es, kulit yang keriput itu benar-benar sangat dingin. Setelah itu dia mulai memeriksa mata wanita itu, maniknya berwarna abu-abu. Paula mengerutkan keningnya.
Setelah pemeriksaan kasar, Paula mencoba memeriksa dengan menggunakan teknik rahasia keluarganya. Benang-benang merah muda mulai terbentuk di ujung jari-jarinya dan masuk ke dalam mata wanita itu, selama sepuluh menit dia memeriksa, keringat membasahi kening dan punggungnya juga menjadi basah.
“Bagaimana?” Bella dengan cemas bertanya.
Paula menoleh pada mereka kemudian menggeleng pelan, Erina yang melihat itu menutup mulutnya dangan kedua tangan saat tangisnya akan pecah lagi. Bella di sebelahnya dengan segera memeluk Erina untuk menenangkannya.
“Ayo bicara di luar,” ujar Paula.
...
“Aku tidak bisa, penyakitnya sangat serius dab sudah terlalu parah,” katanya setelah mereka keluar dari kamar itu.
“Apa benar-benar tidak bisa?” tanya Bella dengan suara lirih.
__ADS_1
Sementara Erina tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir, membentuk parit kecil di kedua pipinya. Meski dia mencoba untuk tersenyum dia tetap tidak bisa menghentikan kesedihan yang menjalar di hatinya.
“Tidak apa-apa, sudah banyak tabib yang mencoba tetapi gagal. Jadi itu tidak masalah,” katanya tersenyum pada mereka.
“Bu, kami tidak membutuhkanmu untuk menghibur kami,” kata Liam dan diangguki oleh mereka semua.
Erina menggigit bibirnya dan menatap sedih pada murid-muridnya itu. Dia tahu seharusnya dia yang dihibur tetapi itu tidak perlu, sama sekali tidak.
Erina sudah terbiasa dengan harapan yang tak kunjung sampai. Masalah selalu datang di hidupnya, tetapi ini menyangkut ibunya, jika ibunya pergi menyusul ayahnya lalu bagaimana dengan dirinya?
Heaven melihat kesedihan itu, dia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua. Jika ibunya Erina juga pergi, maka Erina akan sedirian. Dia hanya memiliki ibunya dan dua adiknya, ibunya adalah segalanya bagi erina jadi Erina pasti akan sangat hancur jika ibunya mati.
Heaven menoleh untuk menatap Wira yang berdiri di sampingnya, Wira juga melihatnya. Seperti mengerti, dia mengangguk.
“Tidak masalah, Wira bisa mencobanya.”
Semua orang menoleh pada Heaven yang sekarang sedang memamerkan giginya.
“Maksutmu? Dia bisa?”
“Paula mungkin tidak bisa tapi Wira belum tentu tidak bisa.” Heaven mengangkat kedua bahunya dengan santai.
“Mungkin. Jadi bagaimana?” tanya Heaven menatap Erina.
Erina terlihat ragu-ragu tetapi kemudian mengangguk pelan.
“Bagus, kalau begitu silahkan.” Heaven mengulurkan tangan, mempersilahkan Wira masuk.
Saat dia masuk, Paula dan Erina juga ikut melangkah untuk masuk ke dalam tetapi segera dicegah oleh Heaven.
“Tidak, dia butuh ketenangan. Biarkan dia mengobatinya sendirian,” kata Heaven dengan tangan terentang. Dia kemudian berbalik untuk menutup pintu dan berdiri di sana untuk berjaga-jaga.
Paula bilang bahwa penyakitnya sangat parah, jadi mungkin Wira akan menggunakan sihir atau apapun itu agar bisa membuat wanita tua itu sembuh.
Heaven tahu Wira membutuhkan privasi, jadi dia akan berjaga di depan pintu agar tidak ada yang masuk.
Paula dan yang lainnya saling memandang dengan heran.
__ADS_1
“Sudahlah, ini bukan masalah besar untuk Wira. Jadi sebaiknya kalian siapkan makanan karena saat dia selesai mengobati dia pasti akan kehabisan energi dan kelaparan.”
“Heh, itu hanya alasanmu. Sebenarnya kau yang lapar, kan?”
Heaven hanya terkekeh pelan sebagai jawaban. Hengky datang ke rumahnya ketika mereka sedang makan malam, Heaven bahkan merasa perutnya kembali kosong sekarang setelah mereka mengalami keributan di Bloody rose.
“Akan aku siapkan makanannya, sebentar.” Erina berlalu dari hadapan mereka dan berjalan menuju dapur.
Sejujurnya dia hanya ingin menangis sendirian, dia tidak bisa menunjukkan dirinya yang lemah dihadapan mereka. Bagaimanapun dia adalah penanggung jawab anak-anak itu, apa yang akan mereka pikirkan jika Erina terus menangis di depan mereka.
Adik-adiknya sudah tidur, kamar mereka ada di sebelah dapur jadi Erina tidak berani mengeluarkan suara saat dia menyiapkan beberapa potong roti dan semangkuk besar sup kubis.
Itu adalah makanan persediaan mereka sampai dua hari kedepan, tetapi karena Heaven dan anak-anak muridnya yang lain ada di sini, dia tidak mungkin tidak menjamu mereka.
Ini pertama kalinya dia mengajar, dan mereka adalah murid pertama yang berkunjung kerumahnya. Senyum erina sedikit terlihat di bibirnya saat dia memikirkan hal ini, dia ingin semua murid di kelasnya datang dan berkunjung ke rumah kecil mereka ini suatu hari nanti.
Tetapi Erina tahu itu hampir mustahil, hampir semua murid di kelasnya adalah anak orang berada di Kota Skydray jadi mereka akankah mau mengunjungi rumahnya yang bobrok dan sangat kecil itu?
Ia menggelengkan kepalanya, itu bukanlah hal yang harus dia pikirkan sekarang. Setelah selesai, Erina membawa nampan berisi makanan itu ke atas meja yang saat ini sedang dikelilingi oleh Bella, Heengky, Liam dan Paula. Sementara Heaven masih berdiri membelakangi pintu dan menjaganya.
“Makannya sudah siap,” kata Erina dengan riang.
“Maaf, kami hanya punya ini,” katanya lagi merasa tidak enak.
Tetapi mata Bella dan Liam langsung berbinar cerah.
“Wah, sup kubis!”
“Kita sudah lama sekali tidak makan ini, kan?”
Bella mengangguk, wajahnya dipenuhi senyuman, Liam juga memiliki senyum di wajahnya.
Erina mengerutkan keningnya sambil tertawa kecil.
“Kalian suka ini?”
Dia tidak mengira reaksi yang dia terima akan sebagus ini, sup kubis itu sangat bening dan tidak keruh sama sekali.
__ADS_1
Itu lebih mirip potongan kubis layu yang diberi air dan bukan sup yang seharusnya penuh dengan bumbu dan rempah. Tetapi Liam dan Bella terlihat sangat antusias seolah mereka baru saja melihat makanan paling enak di dunia sedang disediakan di depan mereka.
Bersambung ...