The Escapade

The Escapade
Episode 47


__ADS_3

Setelah mereka selesai mengisi perut mereka, semua orang segera bergegas untuk pergi dari tempat itu karena jika di tunda sebentar lagi, maka mereka pasti akan mati membeku di sana!


David ada di sana, dia memakai pakaian milik Wira untuk sementara waktu dan juga membungkusnya lagi dengan jubah panjang yang Riander berikan karena bajunya sangat ketat.


   “Oke, sudah siap semua?” Rian sekali lagi bertanya untuk mengonfirmasi.


   “Ya!”


Mereka semua kemudian melanjutkan lagi perjalanan. Baru beberapa langkah, David tiba-tiba berkata dengan berteriak.


   “Kalian mau ke mana? Lewat sini!”


Mereka semua segera menoleh ketika mereka mendengar suara David yang mulai membaik dan tidak seserak sebelumnya. Ketika mereka semua berbalik untuk menatap David, mereka semua tercengang. Pria itu sedang membuka teleportasi!


   “Tidak perlu ongkos!” katanya saat melihat mereka semua diam di tempat dan tampak ragu-ragu.


Riander tersenyum ramah saat dia berkata, “Terima kasih.”


Mereka semua kemudian satu per satu masuk ke dalam ruang teleportasi dan mulai berteleportasi untuk pergi dari tempat menyeramkan itu.


Sepuluh detik kemudian mereka semua keluar melalui celah ruang waktu dengan keadaan yang sangat buruk!


   “Sialan, tanganku sakit.” Heaven mengaduh ketika dia keluar dari sana dan langsung duduk dengan napas yang memburu.


Mereka semua juga sama, ada banyak robekan di pakaian mereka dan mereka juga menjadi sangat lelah dengan napas terengah-engah seolah-olah mereka semua kehabisan energi karena pertempuran.


   “Kau baik-baik saja?” Bella mengangguk, tetapi tangannya mengusap pelan luka di sekitar area lengannya yang tergores.


   “Sepertinya karena kondisi ku yang belum stabil,” kata David.


Heaven menoleh untuk melihat David dan mendapatinya tidak terluka sama sekali.


"Serius?" teriak Heaven tidak percaya sama sekali ... dan terlihat agak kesal.


   “Bukan masalah,” kata Riander tersenyum.


Heaven hampir muntah darah mendengarnya, bukan masalah katanya? Mereka hampir mati sebelumnya dan dia bilang itu bukan masalah! Lelucon macam apa ini!

__ADS_1


Heaven ingin memprotes tetapi Riander buru-buru melambaikan tangannya ketika dia bangkit sambil berkata, “Ganti baju kalian, hari sudah siang kita harus cepat.”


Mereka semua kemudian pergi untuk menemukan tempat dan mengganti pakaian mereka masing, kecuali Heaven. Dia masih duduk dengan raut wajah kesal sambil mencebik.


Riander yang melihat itu berjalan mendekatinya kemudian membungkuk untuk berbisik di telinga Heaven.


“Ganti bajumu, jika tidak maka tidak ada makan malam untukmu malam ini.”


Heaven buru-buru bangkit dan berlari menyusul Wira ketika dia mendengar apa yang diucapkan Riander padanya.


Tidak ada makan malam? Itu sama baiknya dengan membunuhnya!


Melihat itu, Rian tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak sampai David mengira dia menjadi hilang akal karena badai dimensi yang baru mereka lalui.


...


Masih ada setengah hari lagi sebelum malam tiba, setelah semua beres Riander kembali memimpin rute berbekal peta miliknya yang telah ditandai khusus oleh Rian sendiri.


Tujuan ketiga mereka adalah ubur-ubur api yang hidup di kawah gunung berapi di tengah pulau. Diperkirakan sudah hidup sejak beribu-ribu tahun yang lalu dan lebih tua dari ras manapun yang ada.


Liam tidak menjawab dan tampak berpikir untuk beberapa lama sebelum akhirnya menjawab sambil menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Aku tidak tahu.”


   “Apa maksutnya itu? Ubur-ubur api bukan sekadar dongeng saja kan?” Paula mendekati mereka dan ikut dalam perbincangan.


Liam lagi-lagi menggeleng pelan, kali ini dia benar-benar tidak tahu. Dia memang pernah membaca soal ubur-ubur api di sebuah buku kuno tetapi tidak banyak informasi yang bisa diceritakan, itulah mengapa banyak orang yang menganggap bahwa keberadaannya hanya dongeng belaka.


Heaven bersama Wira di sampingnya hanya mendengarkan, sementara David di urutan paling belakang tepat berada di belakang Heaven.


   “Sudahlah, ikuti saja apa kata Senior. Dia pasti tahu apa yang dia lakukan,” ujar Paula lagi berusaha mengikis rasa tidak percaya yang lainnya meski sebenarnya dia sendiri juga agak ragu tentang hal itu.


   “Di sana!” Riander menunjuk pada gunung di depan mereka yang sudah dekat.


Dia kemudian melirik mereka dan ada senyum hangat di wajahnya ketika dia berkata, “Ayo lihat apakah itu nyata atau bukan.”


Tanpa menunggu, mereka semua melesat semakin cepat dan mendarat di puncak gunung.


Saat mereka sampai, Heaven dan yang lainnya langsung menjulurkan kepala mereka untuk melihat ke dalam kawah.

__ADS_1


Saat kepala mereka berada di tengah kawah, hawa panas langsung menyergap mereka dan membuat kulit mereka menjadi merah seketika.


   “Panas sekali,” komentar Paula saat dia menepuk-nepuk pelan kedua pipinya dan mengusapnya untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar di sana.


   “Sekarang bagaimana? Kita tidak mungkin berenang, kan?”


Pertanyaan Heaven sontak membuat Paula hampir pingsan. Berenang? Bahkan tanpa menyentuh magma cerah itu saja kulit mereka sudah hampir terbakar, bagaimana mungkin mereka akan berenang dan menyelam ke bawah sana!


   “Apa?” Heaven ikut mendelik ketika mendapat tatapan tajam dari Paula.


Sementara itu, di kaki gunung berapi yang sama, tim delapan yang dipimpin oleh Vuro juga ada di sana.


   “Senior, sepertinya ada orang lain yang telah sampai sebelum kita,” kata salah satu dari mereka.


Vuro menyipitkan matanya saat dia melihat Riander di atas sana, dia sedang menimbang-nimbang haruskan dia membawa timnya untuk mengacaukan tim Riander? Dia tersenyum sebentar saat sebuah ide muncul di benaknya.


   “Tampaknya mereka juga sedang mencari benda pusaka itu,” kata Ranra janva ketika matanya ikut naik untuk melihat ke puncak gunung.


   “Yah, apapun itu,” kata Vuro, “Itu milik kita, kan?”


Mereka mengangguk dan mata mereka di penuhi semangat yang membara. Mereka semua kemudian terbang seperti bintang jatuh dan melesat menuju Rian dan timnya.


   “Haha, lihat siap ini?”


Sontak mereka semua menoleh. Riander menyipitkan matanya ketika dia melihat siapa yang datang.


   “Ku kira siapa, ternyata peringkat terakhir akademi,” kata Riander dengan tenang.


Ekspresi Vuro langsung menjadi gelap saat dia mendengar itu. Dia tidak suka bagaimana cara Riander memanggilnya, ‘peringkat terakhir’? Dia yang menjadikannya peringkat terakhir!


Vuro masih ingat betul ketika dia kalah telak dari Riander saat itu, itu adalah sebuah penghinaan yang sangat nyata! Sangat tidak termaafkan!


Dia menarik napasnya secara perlahan ketika dia merasa gemetar karena amarah, tetapi wajahnya berangsur-angsur menjadi lebih tenang dan ada senyum di bibirnya.


   “Pergilah, anggap kalian tidak pernah datang kemari dan lupakan apapun yang kalian cari di sini. Jika tidak ....” Ekspresinya jatuh lagi dan menjadi semakin gelap dari sebelumnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2