
Semua yang berada di dekatnya langsung mengerumuni Wira untuk mengucapkan selamat, juga ada banyak murid perempuan dan bahkan senior perempuan mereka yang langsung datang mengelilinginya.
Heaven hampir tidak bisa bernapas di tengah himpitan orang-orang itu.
Tetapi Wira hanya diam di tempatnya berdiri dan tidak merespon sama sekali, Paula menjadi gemas sendiri. Tidak bisakah dia menjadi orang normal sehari saja? Kenapa begitu dingin!
“Tenang anak-anak, tenang!”
Namun suara Hydra tenggelam diantara jeritan dan teriakan para murid perempuan yang gila karena pesona Wira.
Rambut peraknya yang terbang sesekali saat angin meniupnya terlihat seperti sutera alami yang sangat cantik, itu benar-benar memabukkan sampai mereka merasa hampir pingsan karena meleleh oleh pesonanya.
“Astaga, dia sangat populer, ya,” komentar Bella.
Paula, Bella dan Liam bahkan juga Heaven sudah berdiri di luar kerumunan, mereka tidak sanggup lagi berada di sana. Orang-orang di depan mereka seperti telah kerasukan dan menjadi gila, aula menjadi sangat berisik dan menjadi lebih ramai lagi.
Trioner menggenggam erat tinjunya dan tampak sangat kesal.
Jika mereka menunggu kehebohan itu berhenti baru melanjutkan acara maka itu tidak akan pernah terjadi, para gadis itu ... dan sepertinya bukan hanya para gadis, terlalu mabuk dalam pesona Si Peringkat Satu yang kelewat tampan.
“Diam kalian semua!”
Semua orang terlonjak kaget, termasuk para tetua yang ada di sana. Pekikan Trioner benar-benar ampuh, kerumunan itu seketika hening dan mulai tampak berangsur-angsur menjadi lebih tenang.
“Bagus, seperti itu. Sekarang kita bisa lanjutkan upacaranya,” kata Trioner dan acara dilanjutkan.
“Wira Falamir,” panggil Hydra setelah Wira berjalan ke hadapannya dan berdiri di sana.
“Apa yang kau inginkan untuk hadiahmu?”
“Apa Saya bisa memilih?” tanyanya.
Hydra mengangguk, “Ya, tentu saja.”
Wira tampak berpikir sebentar. Dia bingung harus mengatakan apa, dia tidak membutuhkan apa-apa lagi__setidaknya untuk sekarang__dia memiliki semua yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkannya.
Setelah beberapa saat diam, Wira kemudian mengangkat pandangannya untuk melihat Hydra dan berkata, “Bisakah Saya menyimpan permintaan ini untuk nanti?”
__ADS_1
Hydra sedikit tercengang tapi kemudian mengangguk untuk setuju. Hydra tidak menyangka bahwa itu akan dikatakan Wira, tidak ada yang bisa menolak hadiah tetapi anak angkat baru Paul itu benar-benar mengejutkannya.
Wira kembali ke tempatnya semula setelah mendapatkan lencananya, berdiri di samping Heaven yang telah menghabiskan biskuit dari kotak makannya.
“Aku haus sekarang,” keluhnya berusaha menelan liur.
“Aku tidak bawa air.”
Heaven melambaikan tangannya cepat. “Lupakan, aku bisa tahan sampa semua ini selesai.”
Selanjutnya, sepuluh besar akademi maju.
“Misi kalian sangat sukses, selain mengawal para calon junior kalian juga berhasil mengambil pusaka tingkat dewa dari pulau tengkorak.” Kata Trioner.
“Sayangnya dua diantara kalian harus kehilangan nyawa mereka. Dao Zhura, empat besar dan Bauzi, enam besar.
Mereka akan dikenang sebagai orang yang memiliki keberanian, akan diadakan upacara kematian yang layak untuk mereka nanti. Selain itu ...” Trioner berhenti sebentar untuk melirik kepala akademi sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara lantangnya.
“Aku, kami semua para tetua, sangat terkejut dengan beberapa pergeseran yang terjadi dalam sepuluh besar akademi. Obeyrn Chigo, Delapan Besar Akademi, telah berhasil mengalahkan tujuh lainnya dan menjadi peringkat pertama akademi.”
Keheningan sempat terjadi untuk beberapa saat. Oberyn Chigo, tidak ada yang mengira bahwa dia ternyata sangat hebat.
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Oberyn Chigo, anak kedua Hydra itu mampu mengalahkan tujuh besar seorang diri dan menjadi peringkat pertama di akademi.
“Wah-wah, Ketua, anakmu ini benar-benar hebat!”
“Oberyn ini sebenarnya mampu, kenapa tidak dia lakukan dari dulu saja?” kata Trioner sambil tertawa terbahak-bahak.
“Haha, dia benar-benar mirip dirimu waktu muda!” teriak tetua yang lain.
Hydra hanya tersenyum tipis tapi dalam hatinya, dia sangat bangga pada Oberyn. Apalagi setelah mendengar kata ‘mirip dirimu’ dari mereka, Hydra hampir hilang kendali atas dirinya dan menangis.
“Lanjutkan, Tetua Trioner,” kata Hydra dengan tenang seolah-olah semua hal tadi tidak memengaruhinya sama sekali.
Trioner mengangguk sebentar kemudian melanjutkan. “Untuk itu, Oberyn Chigo akan ditetapkan secara sah sebagai peringkat pertama akademi!”
Bersamaan dengan terlontarnya kata-kata itu, Peringkat pertama akademi yang baru, Oberyn Chigo, maju ke depan.
__ADS_1
“Selamat untukmu, untuk peringkat pertama dan juga telah memenangkan misi sambilan. Sangat mengesankan!”
“Terima kasih, Tetua.” Oberyn menerima gelar barunya, tetapi dia tidak terlihat antusias. Berbeda dengan para juniornya dan rekan-rekan lainnya yang terlihat sangat bersemangat, dia hanya memasang wajah datar sambil sesekali tersenyum kecil.
Upacara selesai saat hampir menjelang tengah hari, tidak ada pesta atau perayaan apapun kecuali upacara resmi sebelumnya.
Pihak akademi merasa itu tidak penting dan hanya akan menyia-nyiakan waktu saja, jadi mereka menolak untuk mengadakannya. Selain itu, festival panen akan segera tiba. Mereka bisa berpesta saat festival diadakan.
Oberyn tiba di kamarnya dan langsung berbaring di sana. Dia menoleh dan melihat foto keluarga yang terpajang di dinding di atas pintu kamarnya kemudian menghembuskan napas kasar.
Dia baru saja akan tidur saat tiba-tiba ketukan pintu menyadarkannya lagi.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban, Oberyn mengerutkan keningnya bingung. Tidak ambil pusing, dia kembali memejamkan mata untuk tidur, tapi ketukan itu datang lagi dan lebih keras dari sebelumnya.
“Siapa itu?”
Hening, tidak ada suara lagi. Oberyn menghela napasnya, dan memijit keningnya. Mungkinkan dia berhalusinasi karena terlalu lelah? Saat dia masih sibuk dengan isi pikirannya, suara ketukan terdengar lagi.
Tidak lama, hanya tiga kali ketukan keras kemudian hening kembali datang. Detik berikutnya, saat Oberyn bangkit dari kasurnya dan duduk, seseorang menendang pintunya.
Seseorang menghacurkan pintu kamarnya!
“Kau tuli, ya?!” Itu Shinrain, kakak tertuanya yang mendobrak pintu kamarnya dengan kasar.
Oberyn tidak dalam suasana hati yang baik sekarang, wajahnya datar dan dingin. Shinrain sangat jarang melihat adik keduanya itu memasang ekspresi seperti itu.
“Kenapa? Seharusnya kau senang karena berhasil mencapai puncak akademi,” kata Shinrain berjalan masuk.
Dia berjalan ke arah jendela dan membukanya. Kenapa saat dia datang ke kamar adik-adiknya, itu selalu gelap? Tidakkah mereka merasa pengap, padahal hari masih siang bolong. Apakah itu kebiasaan anak laki-laki?
“Bukan urusanmu,” jawab Oberyn ketus.
Tidak mendengarkan, Shinrain hanya memandang kosong ke arah luar jendela, dia menyandarkan tubuhnya pada bingkai jendela. Berusaha menemukan sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaanya ... atau mengisi kekosongan yang dia rasakan.
“Kau ingin tahu kebenaran tentang yang dikatakan pria bertopeng itu?”
__ADS_1
Bersambung ...