The Escapade

The Escapade
Episode 6


__ADS_3

“Makhluk apa itu?!” Heaven menunjuk dengan dayungnya, membuat teratai-teratai di sana ketakutan.


“Teratai ... air?” jawab wira sambil dengan polos.


“Mana ada teratai yang hidup begitu?!”


“Ada, mereka di depanmu.”


Lagi, Wira menjawab seakan tak peduli dan terus mendayung sambil bersenandung memandangi sekelilingnya.


Heaven masih dengan rasa takutnya ikut mendayung bersama Wira.


Matanya mengawasi para teratai pink itu dengan tajam hingga akhirnya menjauh dari mereka, dia menghembuskan napas lega.


“Apa kau menahan napas sejak tadi?”


“Aku bahkan tidak bisa bernapas sama sekali!” ucap Heaven.


Dadanya turun naik dengan cepat. Bernapas dengan terburu-buru.


Wira menatap Heaven dengan heran, itu hanya teratai.


Reaksi Heaven terlalu berlebihan!


Baru saja Heaven bernapas dengan normal kini napasnya kembali tertahan saat di bawah perahu kecil mereka sesuatu berenang dengan cepat.


Itu menyebabkan perahu sedikit oleng.


Heaven dengan cepat berpegangan pada kedua sisi perahu dengan wajah pucat pasi.


“Wira ... apa itu?” suaranya bergetar saat melontarkan pertanyan itu.


Belum sempat Wira menjawab, satu sirip ekor ikan besar yang agak runcing keluar dari permukaan air dan memukul-mukul bagian sisi kanan badan perahu.


Membuat goncangan pada air dan keseimbangan pada perahu menjadi terganggu. Heaven dengan panik semakin menguatkan pegangannya pada kedua sisi perahu.


Dia baru saja akan melompat dari perahu kayu itu sebelum akhirnya Wira menariknya untuk duduk kembali.


“Diam dan duduk dengan tenang.”


Wira mengatakan itu seakan makhluk di bawah mereka adalah sahabatnya!

__ADS_1


Sementara Heaven menelan air liurnya dengan susah payah, Wira mengulurkan tangannya masuk ke dalam air bersamaan dengan sesuatu yang terbang melesat dari dalam air, melintasi mereka dan kemudian menceburkan diri kembali ke dalam air.


Heaven melihatnya dengan jelas saat makhluk itu terbang di atas mereka.


Sayapnya berbulu, seperti bentuk kupu-kupu pada umumnya dengan corak unik berwarna merah kecoklatan.


Kepala hingga pinggangnya berbentuk seperti manusia normal tapi bagian bawah tubuh makhluk itu berbentuk sirip ekor ikan yang panjang dan runcing.  


“Silphy!” Wira memanggil sebuah nama dan makhluk itu kembali terbang melintas di atas mereka dengan suara melengking dan kembali masuk ke dalam air, berenang berputar mengelilingi perahu mereka.


Heaven merasa kepalanya berputar sekarang!


Wira kembali mengulurkan tangannya menyentuh air dan makhluk itu seketika muncul.


Kepalanya berada di bawah telapak tangan Wira dan dia mengelus rambut merah dominan cokelat makhluk itu dengan lembut sementara makhluk yang dipanggil dengan nama Silphy itu semakin mendorongkan kepalanya ke tangan Wira seakan ia adalah seekor anjing peliharaan yang jinak.


Heaven menatap lekat sosok Silphy. Pegangannya tak mengendur pada perahu itu.


Mata makhluk itu putih pucat dengan sudut yang agak panjang dan berwarna merah, bulu matanya panjang dan lentik juga hidungnya yang mungil dan bibirnya yang tipis merah muda, telinganya runcing dengan banyak bintik berwarna merah muda.


Heaven baru saja ingin mulai merangkak mendekati Wira tetapi pergerakannya membuat Silphy mengepakkan ekornya dan masuk kembali ke dalam air.


“Itu ... apa lagi itu?” tanya Heaven.


Wira tak menggubrisnya, kembali memasukkan tangannya ke dalam air dan bersenandung dengan nada yang aneh dan makhluk itu mulai mendekat lagi tapi tak berani keluar dari air. Hanya menatap mereka dari bawah perahu.


Dia agresif dan terlihat takut.


“Dia biasanya tidak begini.”


Wira menarik kembali tangannya, meraih dayung dan kembali mendayung perahu mereka sementara Heaven masih tepaku di tempatnya menatap Wira dengan heran.


“Itu kupu-kupu air, apa di dunia luar tidak ada hewan yang seperti itu?”


“Tidak ada.” Kini giliran Wira yang menatap heran ke arah Heaven.


“Sungguh?” Wira sungguh tak puas dengan jawaban Heaven yang seperti itu.


“Lagi pula mana ada kupu-kupu yang punya ekor! Dan lagi, dia hidup di dalam air? Itu aneh!” sungutnya tak percaya.


Sementara itu di dalam ruang rapat Akademi Atas Awan ...  

__ADS_1


Para tetua akademi sedang berkumpul.


Kepala Akademi Atas Awan, Hydra Jormungandr, duduk di kursinya dengan penuh wibawa bersama beberapa petinggi Akademi lainnya.


Mereka mengitari meja besar itu dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan.


“Apa semua sudah datang?” tanya Hydra dengan suaranya yang serak dan berat. Duduknya tegap dengan tangannya berada di atas pahanya, matanya menyusuri setiap kursi yang telah berpemilik.


“Sudah, Tetua, kita bisa memulai rapat untuk ujian kenaikan tingkat bagi para murid,” sahut salah satu tetua dengan kipas hijau ditangannya itu.


“Benarkah? Lalu kenapa ada dua kursi yang kosong?” Matanya menyipit tak senang.


“Ah, Tetua, itu adalah dua sejoli yang sering membuat onar sejak mereka masih muda. Tentu Tetua tahu siapa yang saya maksud,” ucapnya penuh dengan nada sarkasme.


“Benar sekali apa yang diucapkan oleh Pimpinan Aula Atas Awan, kelakuan mereka bahkan diturunkan ke anak-anak mereka.” Pria berjanggut cokelat dengan rambut senada ikut bicara.


 Kreak~ Suara pintu dibuka


Tampak dua orang masuk bersamaan, langkah mereka saling beriringan. Berjalan menuju kursi masing-masing dan duduk setelah saling mengucap hormat pada kepala akademi.


“Maaf, apa kami terlambat?” tanya Paul, tatapanya menyapu semua orang di sana.  


“Tentu tidak, Amor Paul, Tetua juga menunggumu sejak tadi.” Ucapannya sarat akan sindiran.


“Baiklah, rapat kita mulai,” putus Hydra.


Beberapa waktu berlalu. Mereka mengeluarkan semua saran untuk ujian tahun ini.


Saran demi saran dan perdebatan tak dapat dihindari sebelum akhirnya menemui satu kesepakatan bersama.


“Baik, sudah disepakati bahwa untuk ujian kali ini para murid harus melewati tiga sesi dan di setiap tahap akan menguji kemampuan mereka masing-masing hingga tahap terakhir yaitu melewati ujian di pulau tengkorak. Ada pertanyaan?” tanya Kepala Akademi pada yang lain.


Ini rapat terbuka tentu ia harus menerima saran dari anggota yang lain.


“Itu dilakukan tiga bulan dari sekarang, apa itu artinya anakku tidak bisa ikut serta?” tanya Paul agak cemas, alisnya bertaut kedua sikunya menopang di atas meja.


“Bukankah anakmu itu masih dihukum oleh Master di Lembah Dosa untuk menjalani pengasingan hingga tiga bulan ke depan?” Perempuan satu-satunya di dalam ruangan itu tersenyum meremehkan.


“Suanshe benar, sayang sekali anakmu tidak bisa ikut.” Suara kesedihan yang berpura-pura itu sungguh membuat Paul sangat panas. Ia akan berdiri jika tidak ditahan oleh sahabatnya, Pulcra Clearn.


Paul berusaha menetralkan emosinya yang hampir meledak, wajahnya mungkin sudah merah padam sekarang.

__ADS_1


Bersambung...


 


__ADS_2