
“Dengan banyak gadis tentunya,” kata Diego lagi.
"Jangan bilang kalau kau tidak ingin lagi berteman dengan kami setelah kau menjadi siswa nomor satu di akademi."
Oberyn hanya memandangi mereka yang sekarang tertawa keras seperti orang gila.
Para sampah ini benar-benar tidak berguna, oberyn menggelengkan kepalanya dengan prihatin.
“Hey ada apa? Jika ada masalah katakan saja, eh tidak-tidak. Akan lebih baik jika kau bercerita dengan gadis-gadis cantik.” Mereka tertawa lagi dan lebih keras dari sebelumnya.
Jika itu dulu, Oberyn tidak keberatan bergabung dalam kegilaan yang sedang terjadi ini. Tetapi dulu dan sekarang itu berbeda, dia bukan lagi anak bodoh yang hanya tahu bersenang-senang saja.
Saat Oberyn masih memperhatikan mereka tertawa, pesanannya datang. Beberapa gadis muda yang merupakan pelayan di sana mengantarkan makananya dan menatanya di atas meja, menuangkan minuman sambil tersenyum nakal.
“Tuan muda Chigo, Saya mendengar bahwa Anda sudah berhasil memenangkan misi perebutan di Pulau Tengkorak, juga tentang aksi hebat Anda yang mengalahkan sepuluh besar akademi sendirian,” kata salah satu dari pelayan yang paling dekat dengan Oberyn, tangannya dengan terampil menuangkan minuman dan memberikannya pada Oberyn.
“Sisy, jika kau melihat bagaimana dia melakukannya saat itu maka aku yakin kau akan semakin tergila-gila pada Tuan Muda pujaanmu itu,” kata Diego dengan senang.
Gadis pelayan itu tersenyum. “Bahkan tanpa hal-hal seperti itu pun, Saya akan tetap mengangumi Tuan Oberyn,” ucapnya sambil terus tersenyum.
Tapi Oberyn tidak terlalu peduli. Sisy, gadis itu didorong sedikit saat Obeyrn ingin mengambil beberapa potong daging untuk di makan.
Sisy melongo melihat itu, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya sejak Oberyn datang kemari, dia adalah pelayan favorit Oberyn jadi dia adalah satu-satunya gadis pelayan yang tidak pernah Obeyrn abaikan.
Tapi apa yang terjadi hari ini? Apakah karena posisi oberyn yang sekarang semakin meninggi jadi dia tidak lagi peduli padanya atau apakah karena Oberyn merasa dia sudah bosan jadi dia mengabaikannya? Sisy meremas pakaiannya tanpa melepas senyumnya.
“Tuan Muda Chigo, apakah Anda ingin mencoba menu baru kami?” tany Sisy dengan suara lembutnya.
“Apa? Apakah itu sebuah menu yang belum pernah ada?” tanya Diego cepat, matanya menatap Sisy seolah dia adalah seekor harimau kelaparan dan Sisy adalah daging yang segar.
Sisy tersenyum kemudian menjawab, “Ya, ini adalah menu andalan kami sekarang. Juru masak kami melakukan perjalanan ke kerajaan beberapa waktu lalu dan dia telah memperlajari beberapa masakan dia sana.”
__ADS_1
“Tidak, aku sudah kenyang.”
Sisy melihat Oberyn yang langsung berdiri setelah dia mengatakan menolak dan langsung pergi setelah membayar. Diego dan beberapa temannya yang duduk di sana untuk saling berpandangan dengan heran.
“Ada apa dengannya?”
“Tidak tahu, tampaknya suasana hatinya sedang buruk hari ini.”
Diego tertawa di tempat duduknya, dia melambaikan tangannya kemudian menunjuk pada Sisy yang masih terpaku di tempatnya. “Sepertinya Oberyn tidak tertarik lagi padamu.”
“Tapi tenang saja, kau tetap gadis paling cantik di sini dan aku suka itu,” katanya lagi.
Wajah Sisy merona cantik setelah mendengarnya, dia kemudian dengan cepat beralih pada Diego dan menuangkannya minuman untuknya.
“Tuan Muda Moa, apakah Anda ingin menambah pesanan?” tanyanya.
“Ya, aku tidak keberatan memesanmu.”
Oberyn kembali ke kamarnya, dia tidak tahu harus pergi kemana jadi dia kembali.
Setelah pintu ditutup, Oberyn pergi ke samping tempat tidurnya. Berdiri di sana dan menyalakan lilin, setelah lilin menyala dan cahaya remang-remang menerangi kamar itu, Oberyn menarik tuas kecil yang ada di balik lemari kecil di samping tempat tidurnya.
Setelah tuas itu ditaris dan bergerak dengan suara klik kecil, ranjang tempat tidurnya bergeser dan lantainya terbuka.
Sebuah tangga menuju lantai lain di bawah tanah, ruang rahasia yang secara pribadi dibuat sendiri oleh Oberyn. Oberyn membawa lilin di satu tangan dan tangan lainnya meraih sebuah buku di dalam laci, buku dengan sampul dari kulit hewan yang sudah terlihat sangat usang dan kotor.
Dia secara perlahan turun ke bawah dengan menuruni satu persatu anak tangga, anak tangga yang membentuk melingkar. Setelah sampai, dia meletakkan lilin dan juga buku itu di sebuah meja kecil kemudian menyalakan beberapa lampu.
“Sayang sekali,” katanya mengeluh saat tangannya meraih lagi buku usang itu dan duduk di satu ranjang tanpa kasur di ruangan itu.
Ruangan bawah tanah yang biasa dia gunakan untuk berlatih, selama bertahun-tahun Oberyn telah melakukan banyak hal untuk membuat dirinya berkembang, dia tidak mengungkapkannya keluar karena dia pikir itu akan seru.
__ADS_1
Akan sangat menyenangkan saat sesuatu yang kita anggap tidak berbahaya ternyata adalah sebuah ancaman yang luar biasa. Itu akan menjadi seperti bom yang meledak dan ledakannya sangat dahsyat.
Setelah membolak-balik beberapa kali, dia berhenti pada satu halaman dan matanya menjadi berkilau. Kemudian tatapannya berubah seperti baru saja menemukan harta karun.
Obeyrn menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan saat matanya menjadi sangat tajam. Wajahnya langsung menunjukan ekspresi serius.
“Saatnya melanjutkan,” kata Obeyrn menatap buku di depannya itu.
“Tapi ini akan menyakitkan.” Sebuah suara datang dari dalam buku. Suara seorang perempuan, tapi Oberyn tidak terkejut sama sekali.
“Tidak ada kekuatan yang akan diperoleh tanpa rasa sakit,” katanya lagi pada buku itu.
Buku dengan kertas yang sudah agak menguning itu sedikit bergerak, seperti sedang tertawa ... atau mendesah lelah.
“Baiklah, lakukan seperti yang tertulis di buku, selanjutnya aku yang akan menunjukannya.”
Oberyn mengangguk, tangannya mengambil buku itu dan memindahkannya pada satu meja panjang di tengah ruangan. Itu adalah arena latihan khusus yang telah diberi pembatas agar ledakan dan setiap suara yang ada tidak terdengar sampai keluar.
“Aku masih tidak paham kenapa kau melakukan semua ini,” kata suara dari buku itu.
Oberyn masih fokus pada setiap gerakan di tergambar di dalam halaman buku, mengikuti setiap gerakan, mengayunkan tangan, melompat, menendang, dan meninju.
“Kenapa memangnya? Ini sangat asik,” jawab Oberyn terengah-engah, matanya masih melihat lembaran usang di buku dan memperhatikan teknik yang tergambar di sana.
“Kau seperti orang tua yang licik, menyembunyikan apa yang mampu kau lakukan dan bertindak seolah-olah kau adalah anak payah.”
Oberyn menghela napas dan memandang dalam ke arah buku, tapi dia tidak mengeluarkan kata-katanya untuk waktu yang lama. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dan mengendikkan badannya, kemudian melanjutkan fokusnya pada apa yang ia pelajari.
Setelah berjam-jam berada di ruang bawah tanah, Oberyn naik kembali ke kamarnya dan dengan hati-hati menyimpan buku kuno ajaib itu di tempatnya semula.
Saat dia berjalan melintasi cermin, dia mundur beberapa langkah dan menatap intens pada cermin. Dia meringis kecil saat melihat ada banyak luka goresan di punggung dan tangannya.
__ADS_1
Bersambung ...