
Ada pita yang melilit tubuh Sandor dan empat orang lainnya, mulut mereka juga ditutup oleh pita sutra dengan kencang. Ada banyak bunga di rambut mereka seolah mereka baru saja didandani untuk pentas seni.
“Adiik!” Oberyn melambaikan tangannya ke arah Rian dengan senyum lebar di bibirnya.
Matahari sudah condong ke barat dan seluruh tim telah berkumpul di satu titik, gunung berapi di tengah pulau tengkorak.
Shinrain Chigo juga sudah turun dari kapal dan berkumpul bersama sepuluh besar akademi. Victoria adalah orang yang tidak masuk dalam sepuluh besar, tetapi karena perintah Shinrain, dia turun dan menggantikannya sementara Shinrain mengawasi dari atas kapal.
“Kau sebaiknya tidak ikut dalam perebutan kali ini,” kata Oberyn saat dia menyantap daging yang dibawa Shinrain.
“Heh, kau takut tidak bisa menang dariku, kan?”
Oberyn mencibir, “Yang benar saja, siapa yang akan berani melawan penyihir?”
Api unggun mereka sontak membesar dan membuat wajah Obeyrn gosong karena Shinrain secara mendadak menambahkan daya energi ke dalam api.
“Hahaha! Wajahmu gosong.” Riander tidak bisa menahan diri dan dia tertawa terbahak-bahak. Begitu pula dengan yang lain.
Untuk saat ini, mereka masih bisa makan bersama dan tertawa bersama tapi saat waktu perebutan telah tiba, mereka secara pasti akan saling menjatuhkan demi sebuah pusaka tingkat dewa.
Pusaka tingkat dewa berarti memiliki kartu as yang setara dengan Prajurit Raga Sejati! Siapa yang tidak ingin benda bagus seperti itu?
Malam datang sangat cepat, Paula masih duduk di bibir kawah dan menolak untuk turun ataupun makan.
Dia khawatir tentang Heaven, meski mereka selalu bertengkar dan terlihat tidak akur tetapi mereka adalah teman, dia adalah saudaranya. Jadi bagaimana dia akan menjelaskan kepada ayahnya Heaven jika anak itu terluka?
“Dia akan baik-baik saja,” kata Bella menenangkannya, Paula hanya mengangguk. Dia juga berharap begitu.
Sementara itu, di dalam magma.
Heaven tidak bisa merasakan apa-apa, ketika dia membuka matanya dia bisa melihat bahwa dia sedang tidak berada di dalam magma.
__ADS_1
Heaven mengerjap beberapa kali, setelah sadar sepenuhnya, dia meraba dirinya sendiri untuk memastikan apakah dia sudah mati atau tidak.
Tepat ketika dia mulai menyentuh tubuhnya, dia sadar bahwa dirinya tidak memakai apa-apa!
“Apa-apaan ini?!” dia berteriak histeris ketika mendapati dirinya yang tidak mengenakan apa-apa.
Ruangan berkabut putih itu menutupi pandangannya tetapi dia merasa bahwa dia tidak sendirian di tempat itu. Heaven berjalan perlahan-lahan dan hati-hati menuju ke arah cahaya keemasan di depannya.
Ketika itu semakin dekat, Heaven melihat sebuah buku yang memancarkan cahaya keemasan.
Dia ingat itu adalah buku yang dia dapatkan dari ibunya wira saat itu. Dia kemudian menyadari bahwa ini adalah ruang kesadaran miliknya.
“Hey, bocah!”
Heaven terkejut dan melompat dari tempatnya ketika dia mendengar suara seseorang, dia menoleh ke kiri dan ke kanan tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Dia merasa seketika merasa takut dan berpikir mungkin itu adalah roh-roh kecil yang dia bunuh beberapa saat yang lalu dan sekarang mereka ingin balas dendam. Heaven bergidik ngeri.
“Hwaa, ampuni aku! Aku tidak akan melakukannya lagi, tidak akan. Tidak akan pernah!” dia menangkupkan kedua telapak tangannya dan terus memohon.
Suara-suara itu akhirnya menghilang, Heaven membuka matanya perlahan-lahan ketika tidak ada lagi suara aneh itu. Saat dia membuka matanya, ada cahaya oranye di balik kabut yang tebal di depannya.
“Brengsek! Apapun itu, setan atau iblis, aku akan memukulmu!” Heaven kehabisan kesabaran dan terlebih, dia malu! Dia merasa sangat bodoh jika harus menyerah di dalam lautan kesadarannya sendiri.
Heaven bangkit dan mulai berjalan dengan marah ke arah cahaya itu, ketika dia sampai dan kabut perlahan-lahan mulai menghilang.
Seekor burung dengan kobaran api di tubuhnya sedang terbang. Ekornya yang panjang menjuntai terlihat sangat cantik, sayapnya mengepak ketika dia terbang terlihat bersinar oleh api yang terus berkobar dari tubuhnya.
Heaven menjadi linglung untuk beberapa saat ketika burung api itu mengelilingi tubuhnya. Dia merasa tubuhnya secara perlahan naik ke udara, napasnya menjadi semakin cepat dan cepat.
Darahnya mengalir sangat deras ke seluruh tubuhnya dan dia tiba-tiba merasa ada luapan energi yang luar biasa mengalir di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Tepat saat itu, gunung berapi mulai bergetar. Semua orang menjadi panik dan waspada, terutama para sepulu besar akademi. Mata mereka menyala dikeremangan karena matahari yang hampir tenggelam.
Puala dan yang lainnya juga menjadi siaga. Riander mendekati mereka dan mengintruksikan untuk menjauh dan tidak ikut dalam perebutan agar mereka aman.
“Menjauh sebisa kalian, ini adalah perebutan pusaka untuk para senior. Kalian bisa terluka jika terlalu dekat.”
“Bagaimana dengan Hivi?” Paula masih khawatir. Apanya yang benda pusaka? Yang penting adalah nyawa si brengsek itu!
Wira berdiri di sana dan tidak mengatakan apa-apa, dia tidak banyak memiliki ekspresi di wajahnya. Matanya menjadi semakin berkilau di kegelapan malam. Dia dengan tenang memandang ke arah kawah dan menunggu.
Kemudian ada senyum di wajahnya. David berdiri tak jauh darinya memperhatikan semua itu. Saat sebuah senyuman hadir di bibir Wira, suara ledakan terdengar dari dalam kawah dan seseorang muncul dari sana.
Itu Heaven!
Di keremangan malam, Heaven terbang ke angkasa dan ada sayap api di punggungnya!
Rambutnya yang sepanjang bahu itu naik keatas dengan kobaran api yang menyala terang. Matanya menyala ada ada banyak magma di beterbangan di sekitarnya.
Semua orang terkejut, itu bukan benda pusaka. Itu adalah salah satu junior yang ikut dalam ujian.
“Di mana pusaka itu?”
“Tidak mungkin bocah itu yang mengambilnya, kan?”
Oberyn kehilangan kesabaran, dia terbang dan dengan cepat masuk ke dalam kawah. Semua orang menjadi lebih terkejut lagi sekarang, Oberyn masuk ke dalam magma panas itu? Sekuat apapun pertahan fisiknya itu tidak akan membuatnya bertahan lama di bawah sana!
Setelah beberapa saat terbang di udara, sayap apinya perlahan-lahan menghilang dan Heaven kehilangan kesadarannya. Wira bergerak dengan sangat cepat untuk menangkap tubuh Heaven yang jatuh dan membawanya ke kaki gunung untuk menghindari perkelahian.
Paula dan yang lainnya ikut turun ke bawah gunung sementara Riander bersiap untuk ajang perebutan.
Ketika para junior menjauh dan bersembunyi, sebuah gerbang di tengah kawah yang panas terbuka. Itu sebuah lubang hitam, tetapi mereka tidak ragu-ragu dan langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Bersambung ...