
“Bagus, Ujian dimulai!”
Para calon murid resmi dibagi menjadi tiga bagian dengan tiga guru berbeda yang akan menguji mereka.
Heaven, Wira dan Paula masing-masing segera menempati regu mereka. Mereka tidak berada di satu tim yang sama tetapi tetap saling memberi dukungan.
“Jangan kecewakan aku, Hivi!” Paula melambaikan tangannya sebelum bergabung dengan yang lain.
“Kalian juga!” Teriak Heaven pada mereka berdua sebelum akhirnya mereka masuk ke regu masing-masing.
Heaven masuk ke dalam regu dengan guru tes, Boni Yura, Wakil Pimpinan Aula Bela Diri. Sementara Wira masuk ke dalam regu dengan guru tes, Tetua Trioner serta Paula dengan guru tes, Eyhar Bhupa.
Heaven sedang berdiri dan memerhatikan sekitarnya saat ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Dia hampir jatuh, Heaven menoleh dan mendapati Sandor berdiri di sana dengan tatapan jijik.
“Menyingkir, dasar sampah!” Dia mendorong Heaven saat dia mencoba melewatinya.
Heaven dengan tenang berkata, “Kualitas energiku lebih baik darimu, jika aku sampah maka kau ....” Dia tidak melanjutkan kata-katanya tetapi itu seperti sebuah bom kotoran yang dia lemparkan tepat ke muka Sandor.
Sandor segera menjadi marah. Udara mematikan segera menyebar saat dia berbalik dan menarik kerah baju Heaven dengan kasar.
“Sebaiknya tutup mulutmu, brengsek!”
Dia menghempaskan Heaven ke tanah dengan kasar dan secepatnya berjalan menjauh dari kerumunan saat bisikan-bisikan beberapa dari mereka terdengar menghinanya.
Heaven tidak dapat menahan senyumnya lagi. Dia tersenyum puas karena kemarahan Sandor membuatnya terlihat seperti anjing yang ekornya diinjak.
“Selanjutnya!”
Heaven melangkah maju saat gilirannya tiba. Guru tesnya, Boni Yura, menyipitkan matanya saat melihat Heaven.
Dia menjadi agak ragu sebentar saat mereka berdua berdiri di depan batu besar berlabel 100kg.
“Coba ... coba kau angkat itu.” Matanya menunjuk pada batu besar di depan mereka dengan agak ragu.
“Jangan terlalu dipaksakan,oke? Jika tidak bisa juga bukan masalah,” katanya lagi saat tidak yakin dengan anak di depannya.
Heaven tidak mengatakan apa-apa dan mulai menyentuh batu dihadapannya. Mereka dilarang menggunakan energi apapun kecuali kekuatan dari otot mereka sendiri.
Sudah banyak yang gugur dalam ujian kedua tetapi mereka juga tidak terlalu kecewa, bisa menyelesaikan ujian pertama sudah cukup bagus karena pihak akademi sangat ketat dalam seleksi.
__ADS_1
Boni Yura melotot sampai catatan di tangannya terjatuh saat melihat apa yang ada di depannya. Heaven sebenarnya bisa mengangkat itu dengan mudah?
Banyak dari mereka yang menggosok mata mereka dengan tidak percaya. Dia mengangkat itu hanya dengan satu tangan? Apakah seringan itu?
“Heaven Falamir, lolos menuju tahap selanjutnya,” kata Boni Yura setelah diam cukup lama.
Kekaguman mulai tumbuh di hati mereka untuk Heaven. Beberapa orang tampak bersemangat dan optimisme tinggi. Jika Heaven bisa maka itu tidak akan terlalu sulit bagi mereka, kan?
Mereka satu persatu mulai kehilangan rasa cemas yang ada sebelumnya dan ada banyak juga yang mulai meremehkan ujian itu.
“Berikutnya!”
Satu orang maju dengan kepala tegak dan ada banyak kesombongan diwajahnya. Dia mendengus dingin saat melirik Heaven yang kini sudah duduk di bawah pohon di salah satu sudut aula tidak jauh dari posisi tempat tes.
Heaven tidak peduli sama sekali. Dia mengeluarkan satu buah apel dari sakunya dan mulai menggigitnya dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang lain.
“Heaven, jangan sombong!” teriak Horland.
“Lihatlah dengan baik sebelum kau berlutut padaku!”
Heaven tidak bereaksi sama sekali, dia bahkan tidak meliriknya. Itu membuat Horland marah.
Ada senyum jahat saat dia mengulurkan satu tangannya untuk mengangkat batu itu, tapi ekspresinya segera berubah seketika.
Dia melihat kerumunan dan tersenyum canggung saat semua mata memandangnya.
“Sialan! Kok berat sekali sih?” Dia menggerutu dalam hatinya dan mengutuk Heaven yang diam-diam tertawa melihatnya.
“Bajingan kecil ini!”
Heaven mempermainkannya!
Dia terus mengutuki Heaven dalam hati sambil terus berusaha keras mengangkat batu itu. Horland mengerahkan semua kekuatannya untuk mengangkat batu dengan berat seratus kilogram tetapi itu bahkan tidak bergeser satu inci pun!
Wajahnya sudah merah karena lelah dengan napas yang tidak teratur.
“Hey gendut, sebenarnya kau bisa atau tidak? Jika tidak menyingkirlah! Masih banyak yang ingin mencoba,” kata salah satu pria dengan rambut cokelat.
“Iya, dasar payah. Mundur saja jika tidak bisa!”
__ADS_1
“Oi cepatlah, waktunya hampir habis. Dasar babi!”
“Diet dulu sana! Lehermu tenggelam tuh.”
Suara dari kerumunan menjadi semakin ramai dan itu semua mengejeknya! Wajahnya semakin menjadi merah dan dia sekarang semakin mirip dengan seekor babi.
Sisa tiga belas orang termasuk dirinya dan dua belas lainnya benar-benar menghinanya? Dia memang tidak memiliki latar belakang yang kuat, tidak seperti para tuan muda dan murid berbakat lainnya.
Setelah beberapa saat batu itu tetap tidak bergeser dari tempatnya, jadi Horland segera melepaskan tangannya yang kini memerah. Dia tidak ingin mendengar lagi kata-kata kasar itu tetapi kini dia sadar beginilah yang dirasakan Heaven setiap hari.
Awalnya mereka adalah teman baik tetapi karena beberapa hal akhirnya dia menjauhi Heaven dan memilih untuk memusuhinya juga. Dia melirik ke bawah pohon tempat Heaven duduk sendiri sebelumnya dan ingin menghampirinya.
Namun saat melihat apa yang terjadi dia segera berbalik dan pergi.
Heaven bersama beberapa calon murid yang mengerumuninya, mereka tampak sangat akrab di sana sementara dia menderita banyak hinaan. Dia tidak sanggup lagi dan segera pergi dari sana.
Heaven sadar itu tetapi dia tidak peduli, itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri dan Heaven tidak ingin berteman dengan orang-orang seperti itu.
“Paula sialan!” Dia mengumpat pelan saat sebuah kerikil mengenai kepalanya.
Paula berjalan ke arahnya dan tersenyum.
“Bagaimana hasilmu?”
“Tidak buruk.”
Mereka mengobrol sebentar di sana, setelah duduk beberapa waktu mereka berdua memilih untuk melihat kondisi Wira, bagaimanapun dia adalah orang baru di tempat yang asing.
Ada satu kerumunan besar yang tampak heboh, sekumpulan orang-orang ini berkumpul seperti sedang melihat atraksi yang keren.
Mereka berdua saling menatap bingung kemudian segera menerobos sekumpulan sapi itu. Mereka sangat ribut dan benar-benar mirip sekumpulan sapi.
Pria di tengah kerumunan itu mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi dengan beban berat satu ton seperti mengangkat satu mangkuk bakmi!
Paula tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berteriak.
“Itu Wira!” dia menggongcang kedua bahu Heaven dengan keras hingga isi kepalnya ikut bergetar.
Bersambung ...
__ADS_1