The Escapade

The Escapade
Episode 14


__ADS_3

Riander mengangkat pedangnya dan memotong kepala monster itu dengan sekali tebas. Pedangnya yang mengkilat berlumuran cairan kental berwarna biru.


“Adik!”


Shinrain dan Oberyn menghampiri Riander yang sedang sibuk menadah darah monster ular bersisik emas ke dalam botol kaca.


“Gila! Kau membunuh monster sebesar ini sendirian!” wajah Oberyn merah padam karena terkejut.


Riander menyodorkan dua botol pada mereka dan ada senyum di wajahnya.


“Ambil ini untuk berlatih.”


Tapi Shinrain menolak. “Tidak, gunakan saja untuk dirimu sendiri.”


Dia masih marah. Bagaimana mungkin amarahnya bisa diredam hanya dengan sebotol darah monster yang menjijikan.


“Jika dia tidak mau, untukku saja!”


Dengan segera kedua benda itu sudah berada dalam genggaman Oberyn, dia menatapnya seperti harta karun berharga.


Shinrain tidak terlihat baik. Matanya menatap tajam kedua adiknya itu.


Yang satu sangat konyol yang satu menjadi sangat gila. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menghela napas.


“Mengapa kau keluar kamarmu tanpa memberi tahu siapapun?” tanyanya selang beberapa detik sementara Riander mulai menguliti ular raksasa itu.


“Salahku,” katanya singkat dan masih fokus pada hal di depannya.


Sebenarnya Riander hanya tidak mau melihat wajah marah kakaknya, itu sangat menyeramkan bahkan lebih menakutkan dari seekor monster tingkat S!


Shinrain tidak banyak bicara lagi dan mengambil botol darah monster dari tangan Oberyn.


“Hey, kau bilang tadi tidak mau! Kembalikan padaku, sialan!”


Dia tidak menanggapi protes Oberyn dan kembali ke akademi untuk segera membuat pil dan naik tingkat sesegera mungkin.


Riander sudah selesai dengan kegiatannya, dan tidak ada yang tersisa dari monster raksasa itu bahkan jika itu dagingnya sekalipun.


Semuanya sudah masuk ke dalam ruang harta milik Riander. Anak ini cukup serakah.


Oberyn merangkul Riander dengan mata berbinar.


“Adik, bisakah kau memberikan aku sebotol lagi? Dua botol tadi sudah di bawa pergi penyihir jahat,” kata Oberyn sedih.


Riander tertawa terbahak-bahak dan memberikan dua botol lagi pada Oberyn.


Suasana hatinya sedang baik, dia tidak menyangka di wilayah Akademi masih bisa menjumpai moster seperti ular sisik emas.

__ADS_1


Dia merasa sangat energik dan dengan cepat pergi ke Pusat Pelelangan Akademi untuk menukar hasil buruannya.


...


Riander tidak terlalu percaya diri sekarang, jadi dia pergi ke Pusat Pelelangan Akademi dengan menggunakan jubah untuk menutupi auranya dan topeng.


Sudah tiga minggu berlalu sejak kejadian itu dan tidak ada lagi yang membahas masalah itu, tapi Riander tetap merasa tidak bebas.


Sebagai Tuan Muda Ketiga dari keluarga Chigo dan juga peringkat 10 besar Akademi tanggung jawab dan citranya sangat ia jaga, tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal apapun.


Dia tidak pernah gagal, jadi saat dia gagal itu benar-benar menghancurkan kepercayaannya terhadap dirinya.


Tapi setelah dua minggu merenungi, dia akhirnya mengerti bahwa kegagalannya mungkin adalah awal dari keberhasilannya yang lain.


Kepercayaan diri itu bangkit kembali tapi tetap saja, dia belum siap jika harus menunjukkan dirinya lagi.


Rian terlalu berpuas diri selama ini.


Tangannya masih gemetar karena membunuh monster tingkat 1, ular sisik emas. Jika monster lemah seperti itu saja sudah membuatnya kewalahan bagaimana bisa dia bisa terus berbangga diri?


Dia sudah memutuskan. Setelah tingakatannya cukup, dia akan keluar dari akademi dan melakukan perjalanan untuk menambah pengalaman bertarung dan wawasannya. 


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Riander segera kembali ke kamarnya. Dia melepas jubah dan topengnya dan menyimpannya dengan baik di dalam lemari.


Tapi saat pintu lemari di tutup, Shinrain Chigo berdiri di baliknya dan membuat Riander terkejut hingga tubuhnya mundur kebelakang dan tersandung kaki meja. Membuatnya terjatuh di atas ranjangnya.


Dia berjalan dan duduk di salah satu kursi di dekat jendela tempat biasa Riander membaca buku.


Riander bingung dan wajahnya sedikit pucat.


“Kakak, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.


“Ada apa? Apa kau pikir aku di sini untuk menertawakanmu karena keluar dengan jubah dan topeng?” dia membuka buku di atas meja.


Wajah Riander merah padam sekarang. Kakak perempuannya ini menyindirnya dengan sangat baik. Dia menjadi gelisah.


Shinrain melihat wajah adik bungsunya dan menangkap kegelisahan itu. Dia kemudian berdiri menatap Riander dengan malas. Tangannya terlipat di depan dada.


Riander semakin gugup, gugup dan malu. Bagaimana mungkin dia bisa tidak menyadari keberadaan Shinrain di kamarnya sendiri?


“Aku datang ke sini untuk berterima kasih,” kata Shinrain tanpa basa basi.


Shinrain melemparkan botol kecil pada Riander. Saat itu di buka aroma yang sangat kuat mulai menyebar memenuhi ruangan itu.


Jantungnya berdetak sangat keras. Dia merasa darahnya mengalir begitu deras dan hampir membuatnya meledak.


“Ini ...”

__ADS_1


“Itu pil yang aku buat dari darah monstermu. Aku sudah mencobanya dan hasilnya luamayan,” kata Shinrain.


“Cukup untuk naik satu tingkat,” sambungnya.


“Tapi bukankah hanya darah monster tingkat 1?” Riander mengernyit dan tampak bingung.


Shinrain kembali duduk dan menatap Riander saat dia berkata, “memang, tapi darah monster tingkat bawah sekalipun jika digabungkan dengan bahan-bahan yang tepat itu bisa membuatnya meningkat,” jelasnya.


Riander mengangguk paham. “Jadi sekarang kakak sudah menjadi Pendekar element tingkat 9?”


Shinrain hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah memastikan Riander baik-baik saja Sinrain segera kembali dan tidak mengganggu Riander lagi.


Shinrain sebelumnya berada pada tingkat 8 pendekar element tapi sekarang sudah mencapai pendekar element tingkat akhir.


Meski hanya naik satu tingkat, kekuatannya sudah berbeda jauh dari sebelumnya.


Sementara ia hanya berada di tingkat 4. Perbedaan yang terlalu jauh. Riander harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan itu.


Selain pendekar element tingkat akhir, Shinrain juga adalah master ekselir alkimia tingkat langit menengah dan menjadi salah satu tetua di Pagoda Pill. Dia juga di anugerahi gelar ‘Dewi Ramuan’.


Segera setelah Riander menelan pil itu ledakan energi membanjiri tubuhnya.


Dia segera menyerapnya agar segera bisa menembus tingkatan selanjutnya.


Di saat yang bersamaan,


Oberyn sedang berada di restoran yang paling terkenal, Rumah persik.


Ada alunan musik yang lembut dan banyak penari wanita muda yang cantik.


“Kudengar Shinrain sekarang sudah mencapai pendekar element tingkat akhir, apa itu benar?” Itu Diego moa, salah satu teman dekatnya.


Oberyn tidak memberikan tanggapan apapun dan terus menyantap makanan di depannya.


Ekspresi Diego agak jahat sekarang, Oberyn mengabaikannya?


Dia paling benci diabaikan!


Jika bukan karena dia anak dari kepala akademi Diego pasti sudah memukulinya sampai mati.


Diego tersenyum dan tinjunya sudah mengepal tetapi dia tidak bergerak sama sekali untuk menghajar Oberyn. Dia sangat pandai mengendalikan emosinya.


“Kau harus bekerja keras untuk menyainginya, cukup berat menjadi anak dari seorang pemimpin ya?”


Sumpit Oberyn baru saja akan mengambil satu pangsit lagi, namun berhenti dan patah seketika saat matanya melirik Diego dengan ekpresi muram.

__ADS_1


Kena kau!


__ADS_2