
Plak!
Suara tamparan itu sangat renyah.
Oberyn Chigo memegangi pipi kirinya yang kini tercetak lima jari merah cerah, dia menatap kakak perempuannya.
“Tutup mulut mu jika tidak ingin mati,” ucap dingin Shinrain Chigo memancarkan aura membunuh yang kuat.
Oberyn menundukan kepalanya dan raut wajahnya muram. Dia tersenyum dingin saat menatap Shinrain.
“Kenapa? Kau ingin membunuhku? Ayo bunuh aku! Bunuh aku!” teriaknya keras. Ia tersenyum meremehkan.
Emosi perempuan itu sudah hampir di ujung batas. Ia maju menuju Oberyn dengan langkah ringan dan melepaskan aura-nya yang menekan ruangan itu.
Oberyn masih berdiri di tempat, kedua tangannya kini membara oleh bara api.
Masing-masing dari mereka kemudian melesat cepat dengan mengarahkan tinju ke arah lawan.
Suara dentuman keras terdengar hingga ke desa di bawah kaki gunung.
Satu serangan itu meruntuhkan bangunan kamar Riander dan membuat tanah berubah menjadi cekungan besar, debu beterbangan sebelum akhirnya hilang terbawa tiupan angin.
Kedua tinju anak muda itu masing-masing telah ditahan oleh Hydra. Shinrain dengan cepat menarik tinjunya dan berlutut dengan kepala menunduk sementara Oberyn menatap orang tua di depannya itu dengan tatapan tajam.
Bukannya tak ingin menarik tangannya, tapi tinjunya tetap di tahan oleh Hydra dan dia tak mampu melepaskan diri.
“Apa-apaan orang tua ini! Dia sengaja ya?” batinnya
Hydra melirik Oberyn dengan sudut matanya, sementara Oberyn dengan cepat membuang wajahnya yang kini memerah karena marah dan malu.
“Sudah hentikan, biar aku pikirkan masalah ini,” ucap kepala akademi.
Oberyn menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggungnya saat cengkeraman Hydra mengendur.
__ADS_1
Berita tentang kegagalan tim pencari di tanah iblis yang dipimpin oleh anak angkat kepala akademi, Riander Chigo, menyebar seperti petasan yang terbakar.
Semua orang di akademi membicarakan berita ini, bahkan hingga ke desa di bawah gunung Priem dan sekitarnya.
Riander Chigo berada dalam tingkat 10 besar dari seluruh murid di akademi, juga sudah memasuki alam pendekar element tingkat 4. Itu pencapaian yang cukup besar di usianya yang masih sangat muda.
Kamar Riander Chigo
Riander berbaring di ranjangnya, tatapannya kosong menembus langit.
Pikirannya terus menggumam.
“Aku gagal,” “aku gagal”, “Riander telah gagal!”
Seseorang mengetuk pintu sebelum pintu di buka. Itu Shinrain, kakak perempuannya.
Di tangannya ada senampan yang penuh dengan makanan dan segelas air.
Ia duduk tanpa bicara dan hanya memandangi Riander yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Seolah sedang bersembunyi dari sesuatu, dan sangat takut untuk menampakkan diri.
Shinrain Chigo menghembuskan napasnya dengan berat dan kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Ia berhenti sejenak dan melirik menggunakan ekor matanya.
“Makanlah, tidak mudah membuatnya kau tau.” Setelah itu ia hilang bersamaan dengan suara pintu yang tertutup.
Riander duduk dan menatap pintu kamarnya, ada cahaya yang masuk melalui celah di bawah pintu, cahaya satu-satunya yang menerangi kamar itu.
Kantung matanya seperti panda menandakan bahwa dia sudah tidak tidur dalam waktu yang lama, tubuhnya kini juga kian kurus dan pucat.
__ADS_1
Sudah dua minggu sejak ia kembali ke akademi dan juga mengurung diri di kamarnya. Lukanya juga sudah cukup membaik meski belum sembuh total.
Ada kilatan cahaya di mata Riander, dan tatapannya menjadi tebih tajam dari sebelumnya.
Dia dengan cepat mengganti pakaiannya dan menyambar pedang panjang yang terpajang di dinding kemudian meloncati jendela kamarnya.
Sebelum pergi Riander melirik sekilas makanan di atas meja dan mengingat perkataan kakaknya. Tatapannya menjadi lebih tajam lagi kemudian dia menghilang dalam kegelapan
...
Sementara itu di gerbang timur Akademi Atas Awan
“Ada laporan apa?”
Bau arak memenuhi ruangan itu. Paul duduk di kursinya dan kondisinya tampak sangat buruk.
Dia belum sepenuhnya sadar dari sisa mabuk semalam.
“Lapor, Ketua. Riander Chigo sudah kembali ke Akademi.”
Paul membanting tangannya dan meja di hadapannya hingga hancur berkeping-keping.
“Lalu di mana anakku?” Matanya berbinar cerah.
Tapi orang di hadapannya itu tetap diam, matanya menunduk. Perasaannya mulai kacau lagi dan dia kembali terduduk di kursinya.
“Katakan dengan jelas, Tora.” Katanya menuntut.
Pria di depannya itu berlutut dengan bertumpu pada satu kaki. Mata di balik topeng itu tanpa ekspresi dan dingin.
“Riander Chigo kembali tapi tidak dengan timnya, misi telah gagal. Dia kembali dengan luka parah di sekujur tubuh.”
Suara itu sangat datar namun di penuhi dengan rasa hormat yang dalam.
__ADS_1
Paul tidak banyak bicara lagi. Dia melambaikan tangannya dan Tora segera menghilang dari pandangan.
Itu adalah Tanah Iblis, sangat wajar jika seseorang mati di sana. Tapi dia tidak pernah mengharapkan kegagalan dari tim pencari yang bahkan dipimpin oleh seorang jenius seperti Riander. Tatapannya menjadi kosong.