The Escapade

The Escapade
EPISODE 70


__ADS_3

   “Oh, hallo. Kalian di sini?” tanyanya pada mereka.


Keempat pria muda sangat terkejut saat melihat Erina. Mereka langsung beranjak dari sana dan langsung pergi ke kamar mereka masing-masing, menutup pintu dan menguncinya.


Erina tecengang di tempatnya. Dia baru saja datang dan menyapa tetapi murid-muridnya itu langsung pergi ketika mereka melihatnya dan bahkan mengunci diri mereka di dalam kamar.


Erina menghela napas kemudian tersenyum, senyum untuk menguatkan dirinya. Dia menaiki anak tangga kemudian mengetuk bebera pintu kamar, tapi tidak ada respon sama sekali seolah tidak ada orang di dalamnya.


   “Vince, Saya tahu kamu di dalam. Bisakan kamu keluar sebentar dan bicara padaku?”


Tidak ada repon pada pintu pertama yang diketuknya, tetapi Erina tidak menyerah. Dia melanjutkan melangkah ke pintu dengan papan nomor 124 di depan pintu itu.


Dia mengetuknya tiga kali.


“Zuma, ayo bicara padaku, hanya sebentar. Kumohon!”


Hening.


Tidak ada jawaban dari dalam setelah lama Erina menunggu, dia mengetuknya lagi tetapi tetap tidak ada reaksi apa-apa dari orang di dalam sana.


Sementara Zuma meringkuk di bawah selimut dan menutup telinganya erat-erat, dia ingin menjawab tapi dia tiak berani. Jika Sandor atau teman-temannya yang lain tahu maka mereka pasti akan menghambisinya.


Erina beralih ke pintu ketiga dengan nomor 125 yang tertulis di pintu, dia ragu-ragu sebentar tetapi kemudian berhasil meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menyerah.


Saat pintu diketuk, tidak ada jawaban apa-apa dari dalam kamar. Erina mencoba lagi meski di dalam hatinya dia hampir menyerah. Saat mencoba untuk ketiga kalinya, pintu dibuka dari dalam.


   “Hengky, bisa kita bicara sebentar?”


Orang di dalam kamar itu mengangguk pelan, dia melirik ke kiri dan kanan koridor sebelum akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar dan membiarkan Erina masuk ke dalam.


   “Hengky, mengapa kau tidak datang ke kelas hari ini?” tanya Erina ketika dia duduk di ranjang.


Hengky berbalik setelah menutup pintu, wajahnya dipenuhi teror dan tampak sangat ketakutan.


   “Bu, maafkan aku. Aku ingin tetapi mereka mengancamku, aku tidak bisa apa-apa,” katanya menjelaskan.

__ADS_1


Erina mengerutkan keningnya sedikit dan tampak bepikir. Dia tahu masalah ini serius tapi mengancam teman sekelas, bukankan itu sudah agak keterlaluan?


Erina menggelengkan kepalanya, ini harus segera diakhiri karena jika tidak bukan hanya pekerjaannya yang dalam bahaya, tapi para murid di kelasnya juga.


Mereka akan takut untuk belajar dan mungkin akan menundurkan diri dari Akademi, itu akan sangat buruk. Erina tidak bisa lagi hanya berdiam diri dan menerima, atau hanya bicara dan bicara pada mereka. Dia harus melakukan sesuatu.


Erina kemudian menatap pemuda belia yang berdiri membelakangi pintu itu, matanya menyorot pada Erina dengan ketakutan yang tergambar sangat jelas di sana.


   “Tidak apa-apa, kembalilah ke kelas besok,” kata Erina tersenyum.


Namun pria muda itu dengan cepat menggeleng dan mengatakan, “Tidak, Bu, kamu tidak mengerti.” Suaranya bergetar dan dadanya naik turun, matanya memerah menahan tangis dan takut.


   “Bu, dengarkan aku kali ini. Ini bukahlah hal kecil, kamu sebaiknya mengundurkan diri. Itu akan lebih baik.”


   “Tidak.” Erina menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa berhenti begitu saja dan aku sangat butuh pekerjaan ini.”


   “Tapi, Bu, tolong dengarkan aku ...”


   “Tidak, kamu yang dengarkan aku. Dengar Hengky, aku tahu kamu sedang membantuku tapi dengan menyuruhku berhenti itu tidak akan berarti apa-apa.”


   “Bu, dengarkan aku kali ini.”


   “Tidak,” kata Erina dengan tegas. Dia menatap pria muda itu dan bisa merasakan kecemasannya, tapi Erina tidak bisa lagi hanya berdiam diri. Dia butuh pekerjaan ini dan dia juga akan melindungi anak-anak didik di kelasnya.


   “Hengky, aku mengerti kekhawatiranmu. Kamu hanya ingin membantuku, benar kan?”


Hengky mengangguk lemah.


Erina tersenyum. “Jika kamu ingin membantuku, datanglah besok pagi ke kelas dan bergabunglah dengan yang lain.”


Hengky terkesiap setelah mendengar apa yang dikatakan Erina, dia kemudian menatap Erina dengan binggung kemudian bertanya, “Masih ada yang datang ke kelas? Siapa?”


   “Ya, kau akan tahu saat kau melihatnya, bergabunglah dengan mereka besok dan tanyakan tugas rumah yang kuberikan.”


Hengky masih terpaku di tempatnya saat Erina telah pergi dari sana, dia masih tidak bisa berpikir dengan baik setelah mengetahui bahwa masih ada orang yang berani datang ke kelas setelah Sandor memberi peringatan pada mereka.

__ADS_1


Tapi saat dia menyadarinya, Hengky tersenyum dan tiba-tiba hatinya menjadi lebih tenang.


“Pasti anaknya Tuan Paul,” gumamnya. “Hanya dia yang berani menyinggung Tuan Muda Moa yang kasar itu.”


Sementara itu, Erina kembali ke tugas keduanya. Dia melihat catatan di tangannya kemudian mencocokkannya dengan rumah di hadapannya itu. Setelah memastikan dia tidak salah alamat, Erina mengulurkan tangannya dan mengetuk pintu.


Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang membuka-kan pintu, dia mengerutkan keningnya saat melihat orang asing yang datang.


   “Siapa?” tanyanya pada Erina.


   “Hallo, Bu, Saya Erina. Saya adalah guru dari Keil, apakah dia ada di rumah?”


Wanita yang berpakaian sederhana itu diam sebentar dan memandangi Erina dari ujung kepala sampai ujung kakinya seperti memeriksa sesuatu.


Tapi di saat berikutnya, wanita itu langsung membanting pintu tebat di depan wajah Erina yang tersenyum dan dia berteriak dari dalam untuk menyuruh Erina pergi.


Setelah itu, sunyi. Tidak ada apa-apa lagi yang terdengar kecuali beberapa anak kecil yang bermain di sekitar sana.


Erina merasakan sesuatu menghantam dadanya yang membuatnya sulit untuk bernapas. Dia menarik napas dalam-dalam dan menguatkan dirinya lagi, setelah itu dia berbalik untuk menuju rumah lainnya.


Setelah hampir setengah hari dia berkunjung ke satu rumah ke rumah lainnya, tidak ada apa-apa yang bisa dia dapatkan selain kata-kata kasar dan makian saat mereka mengusirnya. Beberapa bahkan langsung menutup pintu dan jendela mereka saat mereka melihat Erina dari jauh.


   “Apa yang dikatakan anak-anak itu sampai-sampai mereka semua sangat ketakutan.”


Erina berdiri di pinggir jalan dan matanya sudah merah. Dia hampir menangis, apa yang telah terjadi sekarang mungkin salah satu cobaan hidup lainnya yang harus dia hadapi tapi ini sangat sulit baginya.


   “Heh, lihat siapa ini.”


Erina menoleh dan mendapati Sandor dan empat orang lainnya berdiri di belakangnya dengan senyum mengejek di wajah mereka.


   “Sedang apa guru kita yang cantik ini berkeliaran di bawah matahari yang terik ini?” tanya Laga menatap Erina.


   “Dia pasti datang untuk membujuk siswa-siswa lain agar mau datang ke kelasnya,” kata yang lainnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2