
Shinrain ada di sebelahnya saat mereka berjalan bersama menuju tempat Riander dan tidak mengatakan apa-apa, dia mengacuhkan Oberyn seolah-olah dia tidak ada di sana dan Shinrain hanya berjalan sendirian.
“... Aku sebenarnya sangat baik, kan? Aku membantu kalian tanpa pamrih, lho.”
“Oh, benarkan? Kau membantuku tanpa pamrih? Tanpa mengharapkan apa-apa, begitu?”
“Yup, benar sekali!” kata Oberyn mengangguk tegas.
“Kalau begitu kembalikan dua botol pil yang baru kau ambil.” Raut wajah Shinrain seketika berubah menyeramkan saat dia berbalik untuk menghadap Oberyn dan meminta kembali miliknya.
Obeyrn berdiri di tempatnya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat saat dia mengatakan, “Tidak, tidak, kau salah. Aku tidak mengambilnya tapi kau yang memberikannya padaku.”
“Jika kau lupa biar aku ingatkan, Kau yang memberikannya. Kau, bukan aku,” terang Oberyn pada Shinrain.
Tapi dia langsung menutup mulutnya dengan tangan saat kepalan tangan Shinrain melayang di udara dan hampir mengenainya, tapi ternyata itu menghantam langsung ke pohon di belakangnya, Oberyn bisa merasakan angin dingin yang menyentuh telinganya saat tenaga gadis di depannya itu melewatinya.
Shinrain melanjutkan langkahnya, diikuti Oberyn yang mengekor. Dia tidak berani mengatakan apa-apa lagi dan lebih memilih untuk diam, jika tidak maka tinju sebelumnya pasti tidak akan meleset lagi.
Saat mereka sampai di kediaman Riander, bungo itu sangat sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Mereka akan kembali karena mereka pikir Rian tidak ada di dalam jika mereka tidak mendengar suara dentingan besi dari dalam bungalo kecil itu.
“Adik, kau di dalam?” Oberyn bertanya dengan berteriak saat dia megikuti Shinrain masuk ke dalam bungalo.
Saat mereka masuk, benar-benar tidak ada orang di sana. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti asal sumber suara dentingan besi itu.
Oberyn membuka lebar matanya saat mereka menemukan asal suara. Itu Riander, dia sedang membuat senjata, membakar sebatang besi kemudian membentuknya, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.
Riander sedang bertelanjang dada ... dan bentuk badannya sangat bagus! Itu benar-benar sangat bagus hingga Oberyn merasa sedikit iri.
Amber ada di sana, duduk tak jauh darinya dan terus memandangi Riander sambil tersenyum.
“Ekhem!”
Suara deheman keras Oberyn langsung membuyarkan pandangan Amber yang sejak tadi tak teralihkan dari Riander, begitu juga dengan Rian, dia baru menyadari ada orang lain di sana selain dirinya dan Amber karena terlalu fokus pada pekerjaannya.
“Kakak, kalian di sini? Ada masalah apa?” Riander dengan cepat bertanya saat dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
__ADS_1
“Apa? Kau pikir kami hanya akan menemuimu jika ada masalah?” Oberyn mencibir.
Tapi shinrain tidak repot-repot dengan semua hal konyol itu, dia memiliki tujuan ditangannya datang kemari dan hanya karena itu. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk disia-siakan.
“Tidak, bukan begitu maksutku.” Riander menggaruk kepalanya dengan kikuk.
Oberyn dengan cepat melambaikan tangannya kemudian tersenyum nakal padanya.
“Hey, adik, aku tidak tahu kau punya tubuh yang sebagus ini,” katanya mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda.
Riander tidak mengenakan bajunya, jika dia memakainya maka itu terlalu panas. Dia sedang membuat senjata sekarang, membakarnya di atas api, memukul dan kemudian membentuknya. Tapi Obeyrn benar-benar menggodanya karena Amber ada di sini.
Wajah Amber menjadi merah.
Riander juga merona, dia tiba-tiba merasa sangat ingin memukul kakak keduanya itu sekarang, tidak bisakah dia bersikap normal sehari saja?
“Oh, ayolah! Kalian belum menikah tapi kau sudah berani menunjukkan tubuhmu padanya?”
Riander dan Amber sama-sama terkesiap.
“Tidak, tidak. Kau anak nakal! agaimana bisa kau melakukan ini? Itu tidak baik lho, adik, oh ya ampun!” Obeyrn menepuk dahinya dan mencoba menasehati Riander seolah-olah dia baru saja melakukan hal ceroboh yang tidak seharusnya dia lakukan.
“Kakak, itu tidak benar!” kata Riander setengah berteriak.
“Ya, ya. Aku tahu kalian akan segera menikah, jadi terserahlah.” Oberyn melambaikan tangannya tidak peduli.
Sementara Amber berdiri mematung di tempatnya dan tidak bicara sama sekali, wajahnya telah berubah menjadi semerah tomat sekarang berkat perkataan Oberyn.
Bukan hanya tentang bagaimana Riander memamerkan dada bidang dan punggung kekarnya, tapi juga tentang segera menikah. Menikah!
Apakah Riander mengatakan dia akan menikahi Amber pada saudara-saudaranya? Tapi dia tidak mengatakan apa-apa padanya, atau mungkin itu adalah kabar kejutan dari Rian untuknya.
Amber tidak memiliki pikiran lain selain ini di kepalanya dan itu membuat wajahnya semakin terasa panas.
“Apa yang kau buat? Pedang baru?”
__ADS_1
“Bukan, ini senjata untuk Amber,” jawab Riander saat dia memutar-mutar sepotong besi hitam ditangannya.
“Oh, untuk mahar?”
“Kakak!” Riander memelototi Oberyn sementara kakak keduanya itu tampak memamerkan deretan gigi-gigi putihnya.
“Terserah.” Shinrain berjalan-jalan di sekitar api.
“Aku hanya ingin bertanya beberapa hal saja, setelah itu kalian bisa lanjutkan omong kosong kalian.”
“Ya, silahkan, tanyakan saja,” kata Riander.
Shinrain kemudian membalik badannya untuk melihat Rian dan bertanya, “Apa kau tahu siapa orang yang lebih baik dalam hal pembuatan pil di antara para murid akademi?”
Riander mengernyitkan dahinya. “Tidak tahu.”
Shinrain melanjutkan pertanyaannya. “Lalu, apa ada orang di antara murid akademi yang memiliki kemampuan alkemis melebihi diriku?”
Rain menggeleng lagi dan kerutan di dahinya semakin dalam, dia memandang Amber yang berdiri di belakang Shinrain tapi Amber juga sepertinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Oberyn bilang bahwa ada orang di antara junior yang baru bergabung dengan akademi, dia memiliki tingkat pemahaman yang bagus tentang pil,” jelas Shinrain. “Aku ingin tahu siapa dia,” katanya lagi.
Riander masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Shinrain tapi saat dia menoleh pada Oberyn, dia memiliki beberapa petunjuk tentang itu.
“Apa ini tentang ... pil tingkat tinggi?”
“Ya!” Shinrain berseru dan jantungnya berdebar-debar. Matanya melebar dan ada sekelebat cahaya di matanya saat nada suaranya sedikit meninggi karena bersemangat.
Riander menggaruk kepalanya dan menjadi salah tingkah. Dia sudah menduga ini akan terjadi sebelumnya tapi dia tidak menyangka reaksi yang ditimbulkan oleh berita ini akan sangat mempengaruhi Shinrain.
“Ya, aku tahu, tapi Oberyn sudah memberitahumu lalu kenapa kakak bertanya padaku juga?” tanya Riander bingung.
Oberyn langsung berdecak saat dia berkata dengan kesal, “Dia tidak percaya padaku!” dia mencebik ke arah Shinrain tapi gadis dengan rambut oranye itu tidak peduli sama sekali.
Bersambung ...
__ADS_1