
Wira tertegun sebentar. Ahli apa? Dia bukannya biasa menggali tanah atau seorang penambang. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan mata terpejam.
“Tidak, perlihatkan hasil latihanmu beberapa waktu ini.”
Dia tersenyum saat Heaven memelototinya. Dia mengembalikan tugas itu pada Heaven yang awalnya ingin memanfaatkannya. Heaven ini masih terlalu muda untuk bisa membuatnya bergerak.
“Baiklah.” Heaven tersenyum masam saat dia berbalik untuk menghancurkan gumpalan tanah di depannya. Sementara yang lain tertawa, dia mencibir mereka.
...
“Pelan-pelan, jangan sampai dia terluka,” kata Paula di telinganya saat Heaven masih sibuk memikirkan cara menghancurkan tanah keras itu tanpa melukai pria asing itu.
Heaven melambaikan tangannya tanpa menoleh saat dia berkata dengan ketus, “Ya, ya aku tau.” Kemudian kembali memikirkan cara apa yang bisa dia gunakan.
Tetapi meski sudah memikirkannya dengan keras dia tetap tidak menemukan cara terbaik, atau lebih tepatnya Heaven tidak memiliki rencana apa-apa di dalam otaknya!
“Gunakan jurus baru yang sudah kau pelajari sebelumnya.”
Heaven menoleh untuk melihat Wira, dia diam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Jurus ... yang mana?”
Wira hampir menangis setelah mendengarnya, apakah Heaven sudah melupakan semua pelajaran darinya sebelumnya? Sepertinya Wira harus mengajarinya lebih keras lagi setelah mereka pulang.
“Sepertinya kau melupakannya sangat cepat,” kata Wira. “Tidak masalah, aku akan mengajarimu lagi setelah kita pulang.”
Heaven bergidik ngeri ketika mendengar itu, dia buru-buru berpikir lagi untuk menemukan dan mengingat kembali semua hal yang telah diajarkan Wira.
“Tanah ... tanah.” Dia menggumam sambil memukul kepalanya beberapa kali dengan pelan. Saat dia menatap gumpalan tanah di depannya dia segera menyadari sesuatu.
Sementara itu, Riander tidak membantu lagi. Dia turun dan berdiri di samping Wira ketika dia mengamati yang lainnya sedang berusaha keras di atas sana.
Riander menoleh untuk melihat Wira dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bingung, ada banyak pertanyaan di kepalanya tetapi dia tidak tahu harus bagaimana mengucapkannya.
Tepat saat itu, angin tiba-tiba berhembus dengan lembut dan semakin kuat hingga membuat dahan-dahan mulai bergesekan satu sama lain.
__ADS_1
Riander menaikan pandangannya mengikuti kemana arah angin itu berkumpul dan matanya melihat Heaven. Rambutnya yang dikucir setengah dan sepanjang bahu itu berkibar seperti buah melon kuning yang cantik.
Di atas sana, Heaven bisa merasakan bagaimana angin mulai mengerumuninya dan berkumpul di kedua tangannya.
Dia membuka matanya perlahan dan tatapannya berubah menjadi sangat serius saat dia dengan cepat mengayunkan kedua tangannya yang kini diselimuti bilah angin dan mulai mengikis tanah keras di depannya.
Sangat cepat, sebuah sayatan nyata terbentuk di sana dan tanah keras itu langsung luruh dan hancur berkeping-keping ketika itu jatuh ke bawah, menimbulkan kumpulan debu pekat yang cukup tebal.
Setelah Heaven berhasil menghancurkan tanah keras yang mengubur sebagian tubuh pria itu, tubuhnya yang lemah dan tak sadarkan diri langsung menggantung dengan kedua rantai yang mengikat masing-masing tangannya.
Mereka tercengang. Paula, Liam dan Bella merasa mereka mereka pasti sedang bermimpi.
Terutama Paula, dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sejak kapan Heaven menjadi begitu hebat? Terutama saat bagaimana cara dia mengandalikan element miliknya.
Itu benar-benar sangat stabil!
Riander yang berdiri di bawah juga sama terkejutnya, matanya tidak berkedip saat dia mengalihkan pandangannya dan melihat Wira di sebelahnya sedang tersenyum kecil.
Dia masih tidak percaya saat otaknya berulang kali memutar ulang kejadian yang baru saja dilihatnya, Rian merasa sangat tidak percaya, dia juga mungkin tidak memiliki kemampuan pengendalian yang begitu sempurna seperti yang Heaven miliki.
Jadi dia dengan cepat mengulurkan tangannya dan mulai berkonsentrasi ketika energinya mulai berubah menjadi serupa benang halus dan menembus rantai besi berkarat itu, merusaknya dengan paksa dari dalam dan menghancurkannya.
Perlahan-lahan, besi itu retak dengan suara krak dan hancur berserakan hingga satu tangan pria itu segera jatuh dan kini tubuhnya hanya tertahan oleh rantai besi terakhir yang mengunci tangan kanannya.
Bella dan Liam segera sadar ketika mereka mendengar suara besi yang hancur dan sekali lagi, mereka melongo karena kagum.
Paula membuka matanya dengan napas yang terengah-engah tapi ada senyum puas di bibirnya saat dia melihat rantai itu telah berhasil dia hancurkan.
Dia kemudian melakukan hal yang sama untuk rantai yang satu lagi dan itu segera hancur.
Liam dan Bella saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat ketika mereka melihat itu, setelah sadar dengan cepat mereka berdua menangkap tubuh besar pria itu dan membawanya turun dan membaringkannya.
“Bagus! Bagus sekali,” kata Riander sambil bertepuk tangan dan terlihat sangat senang.
__ADS_1
Heaven melirik Paula dan tersenyum bangga saat dia bertanya, “Bagaimana? Aku hebat kan?”
Paula mencibirnya dan tidak menjawab, tetapi dalam hatinya dia memang mengakui kemajuan yang di buat oleh Heaven.
Heaven tertawa penuh kemenangan ketika dia melihat Paula tidak mengatakan apa-apa, dia kemudian memalingkan wajahnya untuk melihat Wira tetapi ada ketidakpuasan di wajahnya.
Heaven segera menelan air liurnya dengan susah payah ketika dia melihat bagaimana cara Wira memandangnya.
Dia yakin tidak ada yang salah, tetapi mengapa Wira memandangnya dengan bergitu tajam? Heaven merasa jantungnya hampir lepas dari tempatnya saat memikirkan bagaimana cara mengahadapi masalah berikutnya yang akan datang.
“Dia manusia, kan?” tanya Heaven hati-hati ketika dia berjongkok untuk menghindari Wira. Pria kejam itu pasti akan menghukumnya karena dia tidak puas.
Tiba-tiba Heaven merasa bahwa membawanya untuk ikut ujian adalah kesalahan besar!
“Kau lihat dia punya tanduk?”
Heaven menggeleng.
“Punya ekor?” dia menggeleng lagi.
“Apa dia punya sayap seperti iblis? Atau matanya bisa mengeluarkan api seperti raja neraka dalam dongeng?” Paula mendesis dengan kesal saat dia melihat Heaven dengan tajam.
“Hehe, tidak.” Heaven hanya menggaruk tengkuknya dan tertawa kecil, tetapi dia masih gugup, dia bertanya hanya untuk mengalihkan rasa cemasnya karena tatapan Wira.
Bagaimanapun, ketika dia memutuskan menghukumnya maka para dewa juga pasti tidak bisa menolongnya. Wira bisa menjadi sangat kejam ketika saatnya tiba!
Riander memeriksa pria itu dan segera meminta botol air pada Paula. Liam mengeluarkan satu kain dan membungkus tubuhnya yang penuh luka dan memar terutama di bagian pinggang hingga kaki.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Paula pada Riander di sebelahnya.
Riander menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil berkata, “Sangat buruk.”
Pria itu tiba-tiba sadar dan laagsung batuk, dia memuntahkan banyak darah dalam bentuk gumpalan-gumpalan kecil.
__ADS_1
Setelah batuknya berhenti, dia kembali berbaring dengan kepala berada di atas bantal yang dibawakan oleh Paul di dalam buntalan besar milik Heaven dan Wira saat itu. Untunglah itu berguna.
Bersambung ...