The Escapade

The Escapade
EPISODE 62


__ADS_3

Oberyn mendengus dingin kemudian berkata, “Aku hanya ingin tahu tentang kebenaran ibuku.”


Hydra sedikit mendelik, tapi kemudian wajahnya kembali tenang.


   “Apa yang ingin kau tahu?”


   “Semuanya,” kata Oberyn dengan suara tegas, membuat netra ayahnya naik untuk menatapnya.


Hydra sedikit tersenyum saat mendengar nada itu. Anaknya tampak berbeda dengan hari-hari biasanya, apakah itu karena dia telah berhasil mendapatkan pusaka tingkat dewa atau karena telah mengalahkan sepuluh besar akademi dan menjadi peringkat pertama?


   “Katakan padaku, semuanya! Semuanya! Kau dengar? Katakan dengan jujur dan jangan ada yang ditutupi lagi!” tuntut Oberyn saat dia menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya di sana.


   “Baiklah, tapi kuharap kau tidak menjadi bodoh dengan melakukan hal ceroboh setelah mengetahuinya,” pinta Hydra setelah dia meletakkan pena dan menutup buku di depannya.


Oberyn hanya mengangguk dengan raut wajah tegang, dia menautkan alisnya dan dengan serius mendengarkan semua perjelasan dari ayahnya. Dia siap akan apapun. Harus. Dia harus siap.


   “Apa saja yang telah dikatakan oleh kakakmu?”


   “Semua yang dia tahu.” Oberyn menjadi tidak sabar, kapan orang tua ini akan mulai bicara tentang apa yang dia ingin dengar? Selalu saja bertele-tele!


   “Ya, itu memang benar—”


   “Tunggu dulu.” Oberyn menyela dan mengangkat tangannya.


“Kau pasti sudah tahu soal penyerangan di pulau tengkorak tempo hari, kan?”


Hydra mengangguk. Oberyn kemudian melanjutkan, “Lalu, apa kau tahu siapa pemimpin mereka? Orang yang wajahnya rusak itu.”


Hydra diam sebentar, tapi dari pupil matanya yang membesar, Oberyn tahu bahwa Hydra pasti mengetahui sesuatu.


   “Namanya Aaron, dia adalah salah satu teman seperguruanku. Saat itu seharusnya dia yang menjadi kepala akademi selanjutnya, tapi setelah guru kami yang merupakan kepala akademi saat itu mengetahui kalau ternyata Aaron bekerja sama dengan sekte sesat dan menjalin kerja sama dengan kaum iblis, Aaron akhirnya diusir,” Jelas Hydra.


   “Kenapa dia melakukan hal bodoh seperti itu? Seharusnya tinggal duduk dengan baik dan menunggu hari di mana dia akan diangkat menjadi kepala akademi selanjutnya.”


Hydra menelan senyumnya saat dia mendengar celotehan Oberyn.


   “Itu karena dia pikir tidak akan cukup jika hanya mengandalkan dirinya sendiri, saat itu banyak sekali murid dari kepala akademi yang sangat berbakat. Dia pikir dia akan kalah saing jika hanya mengandalkan kekuatannya saja.”

__ADS_1


   “Jadi dia mengambil jalan pintas.”


   “Benar, selain bersekutu dengan ras iblis dia juga memanfaatkan mereka untuk membunuh semua murid kepala akademi saat itu. Sayangnya dia kalah melawanku.”


Oberyn mencebik mengejek saat mendengarnya, dia tahu seberapa kuat ayahnya itu.


   “Jadi tentang perkataannya saat itu ...”


   “Itu benar,” aku Hydra. Dia menautkan jari-jarinya di atas meja sambil menatap Oberyn.


   “Kau adalah satu-satunya hartaku yang sebenarnya.” Oberyn sedikit tercengang, dia tidak menyangka Hydra akan mengakuinya ... atau setidaknya dia pikir Hydra akan bilang kalau itu tidak benar dan sebagainya dengan berbagai alasan.


   “Selain karena janjiku pada ibumu, kau adalah hal terakhir yang dia titipkan sebelum dia pergi,” kata Hydra lagi sambil menghela napas lelah.


   “Dan soal racun itu?”


Hydra menggelengkan kepalanya dan Oberyn langsung menjadi marah saat melihat itu.


   “Kau tidak bisa menutupinya lagi! Tidak kali ini,” kata Obeyrn memperingatkannya dengan menudingkan jari di depan wajah Hydra. 


   “Setelah dua tahun kepergian ibumu, terungkap bahwa sebenarnya itu adalah racun.”


   “Selama itu?”


   “Jangan menyela!” Hydra memelototinya dan Obeyrn mencebik.


Hydra lanjut menjelaskan. “Itu dilakukan oleh sahabat ibumu sendiri yang telah diperdaya oleh Aaron, mereka berdua adalah pasangan jadi gadis itu tidak menolak permintaan tolong dari kekasihnya meski itu berarti harus membunuh sahabat baiknya sendiri.”


Oberyn mengepalkan tinjunya marah, Hydra kembali melanjutkan, “Dan dengan banyaknya bukti saat itu, kepala akademi menjatuhkan hukuman mati padanya. Setelah Aaron menerima kabar tentang kematian wanitanya, dia datang ke akademi dan menantangku. Kepala akademi saat itu memintaku untuk menangkapnya hidup-hidup, tetapi setelah terkena api dari wujud naga sembilan kepala dia berhasil kabur.”


   “Tapi kenapa dia tiba-tiba datang lagi?”


   “Untuk balas dendam, apa lagi? Tapi aku tidak menyangka bahwa dia berhasil hidup setelah serangan terakhirku saat itu.”


Oberyn menyipitkan matanya, Hydra juga menyipitkan matanya saat mata mereka bertemu.


   “Darimana dia tahu kalau ujian terakhir akan diakadan di pulau tengkorak? Ini tidak masuk akal, kecuali jika ...”

__ADS_1


Hydra menyandarkan punggungnya ke belakang sambil terus menatap Oberyn, kemudian dia tersenyum. “Kau sudah sangat dewasa sekarang, kupikir aku bisa beristirahat dari tugas-tugasku.”


Oberyn sontak mendelik. Apa katanya? Berhenti dari tugas-tugasnya? Apa ini artinya Hydra akan menyerahkan posisi kepala akademi padanya?


Oberyn dengan cepat menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pikiran itu, itu terlalu konyol. Dia tidak tertarik sama sekali pada hal-hal yang merepotkan seperti itu.


   “Jangan memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi, jika kau ingin mewariskannya maka berikan itu pada kakak pertama,” kata Oberyn menggelengkan kepalanya seolah Hydra telah melakukan hal yang sangat tidak pantas dan sekarang dia sedang menasehatinya.


   “Tidak ada yang bilang aku akan memberikan posisi ini padamu,” terang Hydra.


Wajah Oberyn langsung berubah merah karena malu. Dia merasa wajahnya menjadi panas dan seluruh ruangan menjadi panas seperti matahari baru saja turun.


Dengan kesal, dia berdiri dan keluar dari ruangan kepala akademi. Oberyn menepuk pelan kedua pipinya dan langsung pergi dari sana, sementara Hydra tertawa terbahak-bahak melihat hal itu.


Hydra masih duduk di tempatnya dan menghela napas lega. Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya beban dipundaknya sedikit berkurang, kesalahpahaman diantara dia dan puteranya juga sepertinya telah lenyap meski tidak begitu kentara.


Hydra hanya berharap ketiga anaknya bisa menjadi orang-orang hebat yang berjalan di jalan kebaikan. Selamanya.


Sementara itu, Oberyn pergi ke restoran untuk menjernihkan pikirannya. Terlalu banyak kejutan yang dia terima akhir-akhir ini, terlepas dari beberapa hal baik yang terjadi, dia tetap merasa sangat tertekan hingga merasa hampir gila.


Dan disinilah dia, di rumah makan persik, di lantai dua dan duduk di meja dekat jendela__meski semua meja di sana dekat dengan jendela karena di sepanjang dinding mereka berderet jendela persegi empat dengan ukiran.


   “Hoho, lihat siapa ini?”


Oberyn mendongak dan mendapati Diego bersama beberapa temannya yang lain.


Diego menarik salah satu kursi dan langsung mendudukinya tanpa rasa malu, Oberyn hanya tersenyum geli saat dia mengingat ketika dia ditinggalkan di tengah-tengah pertempurannya dengan monster naga saat itu.


   “Hey, kau kemana saja? Sejak dua hari lalu tidak kelihatan?”


   “Benar, apa kau sudah bosan dengan gadis-gadis di sini? Jika iya, aku bisa membawamu ke restoran lain yang lebih baik.”


   “Dengan banyak gadis tentunya,” kata Diego lagi.


"Jangan bilang kalau kau tidak ingin lagi berteman dengan kami setelah kau menjadi siswa nomor satu di akademi."


Berambung ...

__ADS_1


__ADS_2