
Erina membuka mulutnya untuk bicara tetapi dia tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan.
Apakah Heaven baru saja mengatakan bahwa mereka bisa pindah ke rumahnya dan tinggal di sana? Erina ingin menolak tetapi setelah mengingat tentang ibunya yang membutuhkan pengobatan, akan lebih baik jika mereka pindah.
Hanya untuk sementara, dia meyakinkan dirinya bahwa semua pasti baik-baik saja.
“Baiklah, tapi hanya untuk sementara waktu saja. Aku janji tidak akan merepotkan,” katanya pada mereka.
Heaven hanya mengangkat bahunya tidak peduli, bahkan jika mereka tinggal di sana selamanya itu juga bukan masalah. Tidak akan membuat perbedaan padanya atau rumahnya.
Dia kemudian menoleh untuk melihat Paula dan mencebik.
“Lain kali jangan main pukul, aku bisa mati karenamu, tahu!”
“Maaf.” Paula hanya tersenyum, menggaruk kepalanya dengan salah tingkah, dia tahu dia salah tetapi siapa yang tidak salah sangka ketika mendengar apa yang diucapkannya beberapa saat lalu.
Terutama bagaimana cara Heaven berteriak sambil menumpahkan makanan yang diberikan tuan rumah untuk mereka.
Malam itu, Erina tidak bisa tidur sama sekali. Dia sibuk mengemasi barang-barang yang harus mereka bawa untuk besok pagi setelah Paula dan yang lainnya pergi.
Saat Erina masuk ke dalam kamar untuk memeriksa ibunya, wanita itu tidur dengan pulas. Erina tidak pernah melihat ibunya tidur dengan baik seperti malam itu setelah kematian ayahnya, dia benar-benar berharap Wira bisa membuat ibunya sembuh.
Dia menggantungkan harapan besar pada anak-anak itu.
Paginya, Erina ada di dapur ketika pintu rumah mereka diketuk seseorang. Dia menoleh ke luar jendela dan melihat bahwa matahari bahkan belum muncul.
“Iya, sebentar.” Erina membuka pintu dan mendapati beberapa pria besar tinggi ada di depan rumah mereka.
Terlepas dari wajah-wajah sangar mereka, mereka semua tersenyum ramah dan dengan sopan sedikit membungkuk. Salah satu dari mereka kemudian mengatakan, “Permisi, Kami di sini untuk menjemput Anda dan keluarga untuk pindah.”
Erina menjadi linglung untuk beberapa saat, setelah dia sadar kembali dia buru-buru mempersilahkan mereka masuk untuk mengangkut barang bawaannya.
Salah satu dari mereka dengan mata abu-abu gelap, berbalik badan dan sedikit mengernyit.
“Anda tidak perlu membawa semua alat masak ini,” katanya heran. “Kediaman Tuan Paul memiliki dapur lengkap yang luas, jadi Anda bisa menggunakannya nanti.”
Erina merasa wajahnya panas, dia tersipu malu. Dia membawa semua itu hanya karena tidak ingin merepotkan mereka, dia lupa bahwa Heaven adalah anaknya Paul, meski rumah Paul adalah yang terkecil dari tetua akademi lainnya itu bahkan bisa membuat sepuluh keluarga besar.
__ADS_1
“Silahkan bersiap-siap, kami akan menyimpan barang-barang Anda di kereta terbang.”
Erina hanya mengangguk, masih dengan kebingungannya. Setelah para pria bertubuh besar itu keluar, dia dengan cepat membangunkan kedua adiknya dan mengganti baju mereka dengan yang lebih baik.
Dua orang masuk lagi saat Erina baru saja selesai mengganti baju, wajahnya kembali tersipu malu.
“Di mana yang sakit?” tanya salah satu dari mereka.
“Oh, ibuku ada di kamar itu,” tunjuk Erina dengan gugup.
Ibu Erina kemudian dibaringkan di satu kereta khusus yang lebih lebar dengan kasur empuk di dalamnya, ketika dia melihat ini ia merasa matanya kembali berembun.
Erina baru mengenal Heaven kurang lebih seminggu lamanya, dan itu hanya terjadi ketika dia mengajar mereka di dalam kelas.
Tetapi apa yang Heaven dan teman-temannya lakukan untuknya bukan seperti mereka baru saja saling mengenal. Erina menarik napasnya dalam-dalam dan tekadnya untuk membinbing mereka menjadi semakin mantap.
“Hallo Paman, mohon bantuannya untuk mengantar kami.” Kedua adik kecil Erina membungkuk sopan pada para pria berbadan tagap itu.
“Oh, manisnya,” kata salah satu dari mereka.
“Siapa namamu?”
Para penjaga yang biasanya terlihat sangar itu seketika merasa hati mereka meleleh melihat tingkah gemas kedua bocah di depan mereka itu.
Tak lama setelah semua barang selesai di kemas, tandu kereta segera terbang dan melesat di udara menuju ke kediaman Paul.
Erina, Endrick dan Melta sama-sama ternganga melihat pintu raksasa dengan cat merah di depan mereka, ketika pintu di buka mereka sekali lagi merasa terkejut. Endrick berdecak kagum sementara Melta berteriak kegirangan. Mereka belum pernah masuk ke rumah yang begitu mewah sebelumnya, ini adalah pertama kalinya.
“Shhh! Duduk dengan baik.”
...
Saat ini, kelas telah berakhir. Tetapi erina masih duduk di kursinya dan melamun.
Dia menghembuskan napasnya dan terlihat murung. Hari ini, masih sama seperti sebelumnya. Hanya ada enam murid yang datang ke kelas, Heaven dan yang lainnya juga tidak keluar dari kelas.
Sebenarnya dia ingin, tapi saat Heaven baru saja bangkit dari tempat duduknya, Paula dengan cepat menarik tangannya sampai Heaven kembali terduduk.
__ADS_1
“Apa?” tanya Heaven kesal.
Paula hanya menunjuk dengan dagunya ke arah Erina, Tetapi Heaven tampaknya tidak mendapat petunjuk apa-apa dengan itu. Sedetik kemudian, dia membeliak lalu menepuk dahinya ketika dia mengingat sesuatu.
“Aku lupa,” gumamnya.
Dia kemudian bangkit dan berjalan ke arah pintu dan berhenti di sana, berbalik badan dan menatap Erina. Erina yang merasa seseorang menatapnya menoleh pada Heaven.
“Ya? Kau butuh sesuatu?”
Heaven menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Hanya saja kita harus pulang sekarang karena aku sangat lapar.”
Erina memiringkan kepalanya bingung sementara Paula membelalakkan matanya dengan terkejut.
“Apa maksutmu?” Erina mengerutkan keningnya.
“Bu, kamu sekarang tinggal dirumahku. Aku sangat lapar tetapi singa betina itu,” katanya menunjuk pada Paula, membuatnya menaikan satu alisnya bingung. “Dia tidak membiarkanku pulang jika kau tidak pulang,” katanya mendesah lelah.
Paula tercengang, bukan itu yang dia maksut, ia hanya ingin bilang untuk mereka menghibur Erina atau sebisa mungkin membantu mengurangi sedihnya. Paula mengerang marah dalam hatinya karena kebodohan Heaven.
“Bukan itu maksutku, dasar anak bodoh!”
Heaven mengernyit. “Lalu?”
Paula menjerit frustrasi dan memilih menenggelamkan kepanya diantara tangan yang dilipat di atas meja, sementara suara gelak tawa pecah keluar dari mulut Wira.
Itu pertama kalinya Erina melihat Wira tertawa, Bella dan Liam juga. Meski mereka sudah mengenalnya lebih lama dari Erina, raut keterkejutan juga tidak bisa ditutupi dan tergambar jelas di wajah keduanya.
“Wira, kau tertawa,” kata Bella pelan, Liam di sebelahnya juga mengangguk sedikit dengan ragu.
Tetapi Wira tidak memerdulikan komentar mereka. Dia memilik bangkit dari tempat duduk kemudian menyusul Heaven yang sudah berdiri di ambang pintu, melirik Erina sekilas sambil berkata, “Ibumu harus minum obat secara teratur agar bisa sembuh dengan baik.”
Erina membeliak kaget. Dia lupa tentang itu karena kepalanya sudah dipenuhi dengan masalah anak-anak di kelasnya. Ia berdiri dengan tergopo-gopo kemudian pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
“Yah, sekarang aku yang ditinggal.” Dia mengangkat kedua bahunya tidak berdaya.
“Sudahlah, ayo pulang,” kata Heaven.
__ADS_1
Bersambung ...