
Semua orang menjadi syok!
Mereka semua terdiam saat merasakan hempasan energi itu, itu begitu kuat sehingga sampai pada bangunan Akademi tempat orang tua dan beberapa petinggi akademi duduk.
Tak lama setelah ledakan energi, batu itu kemudian memancarkan energi merah jingga yang sangat terang. Batu itu seperti berubah menjadi matahari senja yang menawan.
Cahaya itu sangat terang hingga hampir membuat mata menjadi buta!
Setelah cahaya itu hilang, mereka masih mematung di tempatnya dan pikiran mereka menjadi kosong. Itu warna merah atau jingga? Banyak dari mereka menatap Heaven dengan kagum.
Itu cahaya jingga!
Para tetua hampir menangis karena terlalu gembira!
Muncul lagi satu calon jenius di Akademi Atas Awan, mereka segera menoleh untuk melihat murid jenius mana itu.
Saat mereka menyadarinya, mereka saling memandang dan tertawa keras setelahnya.
“Itulah mengapa kita tidak boleh menilai sesuatu hanya melalui sampulnya.” Ketua Bomire, Wakil Pimpinan Perpustakaan itu tertawa keras hingga perutnya terasa sakit.
“Tidak disangka anak Paul ini ternyata hebat juga,” puji tetua lainnya saat dia melihat Heaven dari jauh.
Di bawah altar banyak yang berbisik dan bergumam, kekaguman secara tidak terduga tumbuh begitu saja di hati mereka. Terutama saat mereka merasakan energi itu, itu mengerikan!
Mereka diam-diam menjadi takut kalau-kalau Heaven membalas semua perbuatan mereka selama ini. Mereka sudah bisa membayangkan betapa sengsaranya mereka jika Heaven berniat balas dendam dan memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukannya.
Beberapa dari mereka bertekat untuk tidak mencari masalah lagi dan akan meminta maaf, beberapa lainnya berpikir mereka akan segera menjilat Heaven dan bersedia menjadi budaknya selama di akademi.
Mereka menjadi gusar karena rasa takut yang datang tiba-tiba!
“Brengsek!” Geraman rendah itu dari Sandor Moa. dia mengepalkan tinjunya erat-erat sehingga kuku-kukunya menancap dan melukai telapak tangannya sendiri.
“Tetua! Bagaimana hasilnya?” Paula bertanya dengan cemas.
“Hasilnya? Tentu saja yang terbaik!” Teriak Trioner.
“Heaven Falamir, Cahaya jingga, Kualitas tinggi!”
Sandor semakin mengepalkan tinjunya dan membuat darah mulai menetes dari sela-sela jarinya. Dia berbalik dengan cepat dan kembali ke rumahnya.
Paul sedang berada di barak prajurit angin milik akademi saat dia mendengar kabar ini. Dia juga terkejut, jadi dia dengan cepat kembali ke rumah untuk membuat perayaan.
...
Kediaman Falamir
Di depan pintu utama rumah Falamir, Heaven sudah berdiri di sana saat Paul membukanya.
Dia terkejut dan matanya segera menjadi merah.
__ADS_1
“Kau datang untuk menyambutku? Betapa manisnya!” katanya terharu dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan mimpi!” kata Heaven galak. Dia memutar bola matanya jengah.
“Aku di sini untuk menghentikanmu membuat keributan,” kata Heaven tegas menatap Paul. Sementara Wira berdiri di sampingnya dan mengangkat bahunya saat Paul menatapnya meminta penjelasan.
Saat mereka masih bertengkar di pintu gerbang, Pulcra datang bersama Paula dengan banyak tas di tangan mereka.
“Hallo semua!” Paula tersenyum menyapa.
“Paul, kelihatannya kau sudah membaik.”
Paul mendengus saat dia berkata, “Aku memang baik-baik saja!”
Pulcra mengerutkan alisnya kemudian tersenyum nakal. “Benarkah? Kurasa seseorang pernah bilang akan bunuh diri jika---.”
Belum sempat Pulcra menyelesaikan kalimatnya, mulutnya segera ditutup oleh Paul dengan tangannya.
Dia setengah berbisik di telinga sahabatnya itu, “Tutup saja mulutmu itu, dasar brengsek!”
Pulcra hanya tertawa terbahak-bahak. Heaven menyipitkan matanya saat melihat kedua sahabat karib itu. Dia segera masuk ke dalam di susul yang lain.
...
Saat ini
“Hah? Apa? Apa makanan sudah siap?” Dia masih linglung saat bertanya dengan mata setengah tertutup.
Paula mencibir, “Dia hanya peduli pada makanan.” Wira mengangguk setuju.
Heaven segera bangun dan melambaikan tangannya saat berkata, “Kita akan mati jika tidak makan.”
Paula hanya menggelengkan kepalanya sementara Wira tersenyum tipis.
Di meja makan
Mata Heaven menjadi bersinar saat melihat begitu banyak makanan enak di atas meja seperti ada banyak bintang di sana. Dia segera duduk dan memilah makanan untuk diambil pertama.
Setelah makan cukup banyak, dia akhirnya puas dan dia sekarang tampak sedang hamil enam bulan! Heaven bersandar pada kursi dan mengelus perutnya sambil menghela napas.
“Hahaha! Kau lihat wajah Sin tadi? Dia seperti sedang menahan kentut!” kata Paul sambil tertawa.
“Aku mendengar bagaimana dia mengejekmu sebelumnya, itu benar-benar sebuah tamparan yang bagus!” Pulcra kembali menuangkan anggur ke cangkir Paul.
Dia menenggaknya sebelum kembali tertawa.
Heaven hendak menuangkan satu cangkir untuk dirinya saat tangannya dipukul oleh Paula dengan keras.
“Anak kecil tidak boleh minum!” kata Paula menuangkan anggur untuk dirinya dan Wira.
__ADS_1
“Hey, siapa yang kau bilang anak kecil?!” Dia baru saja akan merebut cangkir Paula sebelum itu kosong setelah Paula meminumnya dalam satu tarikan napas.
“Aku tidak mimun,” kata Wira.
Dia mendorong cangkirnya dan memberikannya pada Heaven. Heaven segera menelannya saat tangan Paula hampir sampai pada cangkirnya ketika itu sudah kosong.
“Ngomong-ngomong, kalian bertiga menjadi bintang saat ujian bahkan belum resmi dimulai.”
Pulcra menghabiskan anggurnya sebelum melanjutkan. “Kalian pasti akan menjadi target utama yang akan dijatuhkan saat ujian berikutnya diadakan.”
Paul mengangguk setuju. “Akan ada banyak orang tidak sejalan dengan kita. Hanya karena mereka bukan musuh bukan berarti mereka teman.”
“Kalian adalah tiga teratas, kalian juga adalah saudara. Mulai sekarang saling membantu dan melindungi, mengerti?”
Mereka bertiga mengangguk mengerti. Setelah Pulcra dan putrinya pulang, mereka juga beristirahat.
Heaven harus menggunakan dinding untuk menopang dirinya sendiri hanya untuk naik ke kamarnya. Dia tidak menyangkan makanan malam ini begitu lezat, dia tiba-tiba teringat masakan Wira. Dia akan memintanya memasak beberapa hidangan besok.
Sementara itu
Kediaman Moa
Kamar Sandor kini lebih mirip gudang daripada sebuah kamar.
Semua barang-barang tergeletak di lantai dan ada pecahan di mana-mana. Wajahnya sangat gelap sehingga itu seperti dia sedang kerasukan roh jahat.
Para pelayan tidak berani mendekat dan hanya mendengar raungan Sandor dari jauh, teriakannya bahkan lebih menyeramkan dari lolongan serigala tengah malam!
“Bajingan itu! Bagaimana bisa tingkat kualitas energinya lebih baik dariku?” Dia meninju dinding dan ada suara meledak saat tinjunya menghancurkan dinding batu menjadi berkeping-keping.
Sin menatapnya tajam saat dia menerobos paksa pintu kamar yang dikunci.
“Siapa?! Siapa yang berani masuk tanp---”
Sebuah tamparan mengenai wajahnya saat dia bicara. Dia berguling beberapa kali di lantai sebelum akhirnya berdiri dengan memar di pipi.
Sin Moa menatapnya dengan tatapan membunuh dan itu membuatnya lemas seketika. Dia tahu betapa kejamnya ayahnya itu.
“Berhenti menjadi gila atau aku akan benar-benar membuatmu kehilangan akal!” Dia berteriak keras hingga wajahnya menjadi merah karena marah.
Sandor menjadi pucat saat dia berlutut di depan ayahnya dengan gemetar, sementara Sin duduk di salah satu kursi dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Dia menghela napas berat saat berkata,
“Tidak disangka sampah bisa bersinar juga.”
“Bagaimana bisa kau kalah darinya?!” Emosinya kembali meluap saat melihat kesenjangan di antara mereka.
__ADS_1