
Mereka sampai di akademi. Ini adalah hari pertama mereka akan menjadi murid resmi di sana. Bella tampak sangat gugup tetapi Liam dengan sigap langsung menenangkannya.
Paula tersenyum dan dengan bangga menepuk pelan lencana miliknya yang dia pasang di bahu kirinya, sementara Wira tetap dengan wajah tenangnya dan Heaven hanya celingukan.
“Ayo pergi,” kata Paula pada mereka seperti seorang pemimpin.
Mereka berlima pergi, berjalan menuju kelas. Itu sebuah bagunan dengan lapangan di tengahnya, lapangan itu diapit dari keempat sisi oleh bangunan lainnya.
Saat mereka sampai, teman sekelas mereka yang lain juga tampak sudah duduk di kursi panjang yang disediakan. Sandor juga ada di sana, matanya berkilat saat melihat kedatangan Heaven tetapi Heaven bahkan tidak meliriknya sama sekali.
“Hey, Si Idiot itu pasti akan menargetkanmu terus, kau harus hati-hati, Hivi,” bisik Paula saat mereka mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong.
Kursi panjang itu memiliki beberapa tingkat yang semakin ke atas akan semakin tinggi dan ada satu kursi dengan meja besar di depan mereka.
Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi guru, meletakkan sebuah buku dan melipat tangannya di atas meja. Wajahnya yang tanpa ekspresi menatap mereka semua satu per satu, sedetik kemudian dia tersenyum cerah.
“Hallo, semua, Saya Erina,” katanya memperkenalkan diri.
“Saya yang akan menjadi wali kelas kalian mulai sekarang, kalian akan berada di bawah pengawasan dan pengasahan Saya,” katanya lagi.
Tapi para murid mulai mendesah dan mengeluh, gumaman dan keributan segera terjadi di dalam kelas itu.
“Apa? Seorang wanita? Serius?” tanya salah satu dari mereka pada yang lain.
“Oh, ya ampun. Kita ingin belajar bertarung bukan memasak,” kata yang lainnya.
“Tidak bisa dipercaya!”
Heaven mendengar semua keributan itu dan memandangi mereka, tapi Paula di sebelahnya, wajahnya sudah berubah menjadi sangat merah.
Gluk
Dia menelan liurnya susah payah dan menyikut Wira yang ada di sebelahnya yang lain tanpa mengalihkan pandangannya dari Paula, wajah gadis itu sekarang menjadi lebih seram dan lebih gelap dari sebelumnya.
__ADS_1
Heaven bahkan merasa dia bisa melihat asap mulai keluar dari atas kepala gadis berambut cokelat itu.
“Matilah, mereka semua pasti mati!” kata Heaven dalam hati.
Wali kelas mereka, Erina, mencoba menenangkan tapi tampaknya mereka tidak mau mendengarkan apapun.
Kebanyakan dari murid-muird kelas adalah laki-laki dan hanya sedikit yang murid perempuan, suara mereka semakin lama semakin besar dan berubah seperti guntur yang menggelegar.
Paula menggertakkan giginya dan napasnya mulau memburu, Heaven tahu dia sedang menahan diri dan dia tahu itu tidak akan lama. Paula sangat membenci hal-hal seperti ini jadi dia tidak akan tahan untuk tidak bertindak.
Brak!
Paula menggebrak meja dengan sangat keras sampai semua orang terdiam karena terkejut, tapi saat mereka melihat bahwa dia juga hanya seorang wanita mereka mulai meremehkannya lagi.
“Hey, apa yang coba kau lakukan?” tanya Sandor dari kursinya yang setingkat lebih tinggi dari Paula.
“Kau pikir dengan memukul meja bisa membuatnya menjadi guru kami? Tidak akan pernah!” teriak marah seseorang di samping Sandor, mata merahnya melotot menatap Paula.
“Kalian para wanita, tidak layak untuk memegang pedang. Kalian hanya pantas untuk melayani kami para laki-laki,” katanya diiringi dengan tawa mengejek. Sandor dan yang lainnya juga ikut tertawa.
“Dengar, ya, Kau sudah mengagetkanku, jika kau meminta maa—”
Paula tidak bisa menahan dirinya lagi, dia menarik rambut pria dengan rambut belah tengah itu dan membenturkan kepalanya ke meja dengan bunyi yang sangat keras.
Semua orang di ruangan itu terkejut, Bella hampir saja menagis karena adegan mengerikan itu tetapi Liam dengan cepat mencoba membuatnya tenang.
“Kau ... aaagrh!” Paula semakin menekan wajah anak laki-laki itu ke meja dan menggosoknya di sana dengan keras, Heaven menelan salivanya dengan wajah ngeri, juga beberapa siswa lainnya.
“Kau tidak pantas mengomentari mana yang pantas dan tidak pantas bagi kami,” bisik Paula ke telinga anak itu saat dia sedikit membungkuk, kemudian melanjutkan, “Urus dirimu sendiri tanpa merendahkan orang lain!” raungnya.
Semua orang menelan saliva mereka. Paula menggertakkan giginya semakin keras sampai giginya terasa ngilu, dia mencoba menahan dirinya untuk tidak memukul lebih keras anak laki-laki di depannya itu dan menekan amarahnya dalam hatinya.
Sandor yang duduk di meja setingkat lebih tinggi, mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Paula, menekannya sedikit dengan kekuatannya.
__ADS_1
“Cukup, lepaskan dia,” kata Sandor dengan suara berat saat dia menyipitkn matanya tak suka. Itu adalah temannya, beraninya dia menyinggung orangnya di depan matanya.
Paula meliriknya sedikit dari balik bahunya, matanya menatap tangan besar sandor yang sekarang bertengger di bahu kanannya.
Kemudian sebuah seringaian hadir di bibir merah mudanya, sandor yang melihat itu hanya mengernyit bingung, tapi Heaven yang duduk di depannya segera memperingatkan.
“Sebaiknya kau lepaskan tanganmu, jika tidak kau pasti akan menyesal,” kata Heaven dengan wajah ketakutan.
Tapi sandor tampaknya tidak terlalu mempedulikan hal itu. Dia adalah Sandor, apa yang akan orang lain katakan jika dia menurunkan tangannya dan membiarkan bawahannya yang rendahan itu ditindas di depan matanya dan dia tidak melakukan apa-apa?
Mereka akan menghinanya! Mereka akan mengatakan bahwa Sandor Moa adalah seorang pengecut yang takut dengan seorang wanita lemah.
Namun di detik berikutnya, Sandor membulatkan matanya kemudian meraung kesakitan saat Paula mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras.
Itu bukan cengkeraman seroang wanita, wanita ini sama sekali tidak lemah. Sandor sekarang mengerti mengapa Heaven memperingatkannya sebelumnya.
“Lepaskan, dasar ******!”
Plak!
Satu tamparan mulus mengenai wajah sandor sampai kepalanya miring. Dia melotot tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Seseorang baru saja menamparnya di depan banyak orang dan dia adalah seorang wanita! Sandor ditampar oleh seorang wanita di depan orang lain! Harga dirinya akan segera runtuh di mata banyak orang.
Sandor menggertakkan giginya dengan marah saat pipinya kesemutan akibat tamparan Paula dan rasa sakit di tangannya menjadi semakin sakit seperti gadis di depannya ini bisa mematahkan tangannya kapan saja.
Dia tidak bisa menahan dirinya lagi, Sandor mengangkat tangannya dan akan menampar balik Paula saat tangannya tiba-tiba dihentikan oleh Erina.
Wali kelas mereka itu menatapnya dengan wajah gelap yang menyeramkan sampai-sampai sandor merasa tidak bisa melihat apa-apa lagi selain dua wanita menakutkan di depannya itu.
“Sudah cukup.” Erina melepaskan tangan Sandor dan menarik Paula untuk kembali duduk di kursinya.
Bersambung ...
__ADS_1