
“Bagaimana bisa kau kalah darinya?!” emosinya kembali meluap saat melihat kesenjangan diantara mereka.
Sandor diam dan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya memegangi wajahnya yang terasa nyeri sambil terus berlutut dengan kepala tertunduk.
Kualitas energi sandor adalah tahap menengah, dan itu sudah cukup bagus di antara banyak generasi muda. Bagaimana bisa seekor semut seperti Heaven memiliki energi yang begitu murni? Dan bahkan berada di urutan paling tinggi!
Dia pergi sebelum dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri agar tidak membunuh anak tidak berguna ini.
“Tidak berguna.” Setelah menyeret kata-kata itu dia segera pergi dan tidak menoleh sama sekali.
Wajah sandor semakin gelap. Dia tidak tahan untuk tidak berteriak karena amarah. Bukan salahnya jika si sampah itu punya kualitas energi yang bagus!
Kenapa ayahnya memarahinya dan bahkan menatapnya dengan tatapan membunuh yang kental? Ini bukan salahnya! Lagi pula siapa yang menyangka hal itu bisa terjadi.
Dia tidak memikirkannya lagi dan segera meninggalkan rumah. Dia harus menyegarkan pikirannya. Dia butuh sesuatu yang bagus untuk menghibur dirinya.
Pagi hari berikutnya ...
“Baiklah, saatnya latihan!” Heaven sangat bersemangat hari ini.
Tatapan kekaguman dan sorakan yang dia dapatkan kemarin masih berputar di kepalanya, dan rasanya sangat enak!
Itu sangat luar biasa! Jadi dia bertekad untuk mendapatkan lebih banyak lagi dan lagi.
Dengan didampingi Wira, latihannya menjadi lebih terarah dan berjalan lancar. Setelah memakan buah pemberiannya sekarang Heaven merasa energinya menjadi lebih tenang dan terkendali.
“Lakukan sesuai yang kukatakan, jika kau menyerapnya terlalu banyak itu hanya akan membuatmu mati,” kata Wira membuat Heaven bergidik.
Dia menghentikan latihannya sebentar dan menatap Wira. “Bukankah semakin banyak semakin bagus?” dia bertanya dengan bingung.
Wira menggeleng cepat sambil tersenyum.
“Itu sama seperti kau makan terlalu banyak tetapi perutmu tidak mampu menampungnya. Itu akan meledak menjadi berkeping-keping.”
Heaven menelan ludahnya dengan kasar saat tenggorokannya terasa kering karena takut. Dia tidak bertanya lagi dan melanjutkan sesi latihannya dengan perlahan.
Fondasi energinya harus segera dibentuk sebelum ujian berikutnya dimulai, jadi dia hanya punya waktu 3 hari untuk itu. Tetapi dengan Wira di sisinya dia tidak perlu khawatir.
Bahkan saat Wira menyuruhnya untuk makan buah aneh dengan tiga mata dia tanpa ragu memakannya. Wira bilang itu akan membantunya dalam melatih energinya jadi dia tidak banyak bertanya dan melakukannya.
Tepat saat dia membuka matanya, Paula sudah ada di depannya dan menyeringai. Itu membuatnya terkejut sampai melompat dari tempatnya.
__ADS_1
“Paula sialan!” kutuknya dengan keras.
Paula tidak bisa menahan tawanya sementara Wira sudah duduk di bungalo kecil dan minum teh.
“Jadi, bagaimana dengan latihanmu?” tanya Paula penasaran.
Dia tidak pernah melihat Heaven begitu giat berlatih sejak dia mengenalnya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Heaven hanya ingin mendengar lebih banyak pujian dan pujian untuk dirinya.
“Sedikit usaha lagi dan aku sudah bisa mengalahkanmu,” katanya dengan bangga.
Paula mencibir, “Hee, berhentilah bermimpi. Kau tidak akan bisa mengalahkanku.”
Heaven melempar kulit pisang ketempat sampah dengan akurat kemudian membersihkan tangannya. “Selama Wira ada, tidak ada yang tidak mungkin.”
Dia sudah melihat bagaimana Wira sebenarnya, meski belum pernah melihatnya bertarung secara nyata. Aura yang dipancarkannya dan semua pengetahuannya tentang banyak hal sudah cukup. Dia menyakini Wira dalam hatinya dan tidak akan pernah meragukannya.
“Kau sendiri kenapa tidak berlatih dan malah datang kemari?”
Paula menopang dagunya dengan tangan saat dia berkata dengan acuh, “Aku sudah selesai.”
“Benarkah? Sudah di tahap apa?” Heaven bertanya dengan antusias dan sangat menantikan jawaban Paula.
“Sudah kubilang kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku,” sambungnya sambil menatap Heaven.
Heaven melirik Wira dan bertanya padanya, “Bagaimana menurutmu?”
Paula tercengang. Dia meminta pendapat orang lain tentang apakah dia bisa mengalahkannya atau tidak? Lucu sekali.
Apakah Heaven tidak percaya diri pada kemampuannya sendiri atau Wira yang lebih tahu? Dia menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.
Sementara Wira menyesap tehnya sebentar kemudian meletakannya lagi. Wajahnya sangat tenang seperti air danau tanpa riak saat dia menjawab, “Bisa.”
Paula terbatuk beberapa kali karena tersedak saat mendengar jawaban Wira.
“Tapi kau belum mampu untuk sekarang,” sambungnya dan kembali menyesap teh favoritnya.
Paula melirik mereka berdua secara bergantian dan tidak percaya sama sekali. Yang satu memiliki tempramen yang sangat baik dan terlihat cukup hebat, yang satu memiliki kepercayaan penuh pada yang lain.
“Kalian aneh,” katanya sambil memijit kepalanya yang sakit.
Selama tiga hari berturut-turut Heaven tidak keluar rumah sama sekali. Dia terus berlatih bersama Wira di halaman siang dan malam.
__ADS_1
Dia akhirnya berhasil menembus tahap Pembentukan Fondasi Tingkat Tiga. Tetapi Wira tampak tidak puas sama sekali.
Wira menggelengkan kepalanya. “Kau sangat lambat,” katanya mencemooh Heaven.
Heaven hanya melambaikan tangannya saat berjalan gontai menuju depan bungalo untuk beristirahat. Dia duduk dengan napas yang masih belum stabil.
“Aku sudah cukup cepat, tahu!” Dia menggerutu karena dibilang lamban!
Wira duduk di sebelahnya dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Sepertinya latihan ini tidak cukup,” katanya dengan serius. “Harus dengan metode yang lebih keras.”
Heaven tidak bisa mempercayai pendengarannya, dia kira itu pasti rusak. Dia bilang harus lebih keras lagi? Wira akan melatihnya dengan cara yang lebih keras lagi?!
Wira merasa latihan ini tidak terlau berefek jadi dia akan menggunakan metode lain yang lebih manjur. Dia bilang ini tidak keras? Sesi pelatihan seperti apa yang keras menurut Wira?!
Heaven merasa kepalanya berputar dan ada banyak burung di sana. Dia merebahkan diri dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Wira ini bermaksut membunuhnya ya.
Hari ujian kedua
Di Aula bagian dalam Akademi
“Ujian kedua adalah pengujian fisik. Setiap murid harus mampu minimal mengangkat 100kg beban berat.” Tetua Trioner menjelaskan.
Ada kerusuhan di antara para murid, terutama murid perempuan. Bagaimana bisa mereka begitu ketat tentang seleksi para murid? Para murid perempuan mulai mengeluh dan gusar, bagaimanapun mereka tetaplah seorang wanita!
Heaven melirik Paula tapi tidak ada perubahan pada ekspresinya seolah-olah itu bukan apa-apa.
Saat Trioner mendengar banyak keluhan tentang betapa tidak adil dan tidak masuk akalnya ini dia segera menjadi marah.
“Jika ingin mundur, ini adalah kesempatan terakhir. Saat ujian ini dilewati maka ujian terakhir adalah tentang hidup dan mati kalian!” teriaknya pada kerumunan di bawahnya.
“Mundur? Yang benar saja, aku tidak akan mundur!” seseorang berteriak dari arah kerumunan.
“Sudah cukup sulit untuk sampai di sini, bagaimana mungkin kita mundur.”
“Yang mau pulang ya pulang saja, aku akan tetap maju!”
Semakin banyak suara sorakan dari kerumunan dan itu membakar semangat mereka. Ujian ini sangat ketat untuk tetap menjaga kualitas para murid akademi, karena prinsip mereka adalah ‘kualitas selalu lebih baik dari kuantitas’.
Mereka tidak menerima bibit cacat!
“Bagus, Ujian dimulai!”
__ADS_1