
Oberyn adalah orang yang sampai pertama kali, diikuti Diego, Amber, Shinrain dan yang lainnya.
Sepuluh besar akademi atas awan telah berkumpul dan waktu perebutan telah di mulai!
“Tempat apa ini?” Amber belum pernah masuk ke dalam dunia kecil, jadi dia tidak banyak memiliki pengetahuan tentang itu.
Gunung di depan mereka sama persis dengan gunung berapi sebelumnya, dunia kecil ini adalah tiruan dari tempat mereka sebelumnya.
“Ini dunia kecil yang diciptakan seorang petapa, benda pusaka yang akan kita perebutkan adalah miliknya.”
Setelah Riander menjelaskan suara gemuruh terdengar menggelegar bersamaan dengan petir dan kilat yang mulai menyambar.
Suara krak terdengar ketika langit di dunia kecil itu tiba-tiba retak dan terbelah.
Sepuluh besar akademi merasa jantung mereka berpacu dengan sangat cepat dan berdebar hebat!
Seberkas cahaya kekuningan seperti layaknya matahari pagi perlahan muncul dari langit yang terbelah dan sebuah tombak dengan tiga mata muncul.
“Itu dia!” teriak Diego.
Diego benar-benar merasa hampir gila karena terlalu semangat, tetapi dia tahu dia tidak mungkin bisa melawan mereka meski dia mencobanya. Dia menoleh untuk melihat Oberyn yang berdiri tak jauh darinya.
Dia bisa melihat sebuah kilatan cahaya dan pupil mata Oberyn yang membesar. Tatapan matanya liar dan dipenuhi antusiasme yang tinggi.
Mereka semua dalam mode bertarung saat ini dan ada kilatan cahaya di mata mereka ketika mereka melihat pusaka itu telah melayang di udara dan siap untuk di ambil.
“Haha, itu milikku!” Oberyn tidak bisa menahan diri lagi dan segera melesat ke atas menuju tombak pusaka, dia hampir sampai tapi sebuah tangan raksasa secara mengejutkan muncul dari retakan langit yang sama dan memukulnya hingga membuatnya terlempar ke tempatnya semula.
Oberyn menyeka sudut bibirnya saat sebuah suara datang dari langit, membuat mereka semua mendongak.
“Selamat datang di dunia kecilku, teruntuk para kandidat pewaris silahkan dengarkan baik-baik.”
Seluruh mata dan telinga semua orang menajam dan mendengarkan secara cermat, bahkan Oberyn juga secara mengejutkan menjadi sangat patuh untuk mendengar, tidak seperti biasanya.
Kemudian suara itu melanjutkan, “Tombak itu bernama Durnaga, ini adalah senjata terakhir yang kuciptakan sebelum aku tiada. Kekuatannya sangat dahsyat hingga mampu membelah gunung, ini adalah senjata yang setara dengan Tahap Raga Sejati tingkat puncak.
Tidak ada aturan khusus, kalian bisa mewarisinya jika kalian memang mampu. Tidak peduli siapa kamu, pada akhirnya kekuatan absolut yang akan berada di atas segalanya.”
Langit seketika berubah menjadi senja merah dan angin berhembus dengan lembut di sekitar mereka.
__ADS_1
“Sekarang, perlihatkan kekuatan kalian!”
Mereka semua seketika menjadi sangat bersemangat. Riander merasa jantungnya berdebar sangat kencang, dia tidak tahu mengapa tiba-tiba merasa sangat ingin mendapatkan pusaka itu.
“Benda itu milikku, jika ada yang keberatan kalian bisa datang padaku, sekarang!”
Oberyn berteriak kencang dengan arogansi di wajahnya ketika dia menatap mereka satu per satu.
Vuro segera maju tetapi Diego langsung menahannya dan membisikkan sesuatu. Dia mengernyit sebelum akhirnya mengangguk pelan. Mereka berdua lalu menarik sisanya dan mulai berdiskusi secara diam-diam dalam lingkaran.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Oberyn dengan dahi mengerut.
Sekelompok orang itu segera berbalik untuk menatapnya dengan senyum aneh di wajah mereka.
“Tidak ada, hanya sedikit bernegosiasi,” kata Vuro mengangkat kedua bahunya dengan santai.
Oberyn menyipitkan matanya saat dia menatap mereka kemudian berkata, “Hentikan omong kosong kalian dan mulai saja.”
“Baik! Kau yang minta ya.”
Enam dari mereka segera maju menyerbu ke arah Oberyn.
“Kau kira kami akan bertarung satu lawan satu denganmu? Jangan konyol!”
Satu orang dikepung oleh enam lainnya dengan tatapan membunuh yang kental. Ada banyak aura pembunuhan yang menyebar di udara seperti bubuk mesiu.
“Kalian pikir dengan bersatu untuk menggigitku bisa mengalahkanku Bermimpilah!”
Oberyn mulai bergerak dan mengayunkan satu per satu tinjunya. Satu tinju untuk satu orang, itu tinju yang sangat ganas!
Satu demi satu terpukul mundur oleh tinjunya, Oberyn kini seakan menjelma menjadi singa yang marah dan lapar.
Pertarungan terus berlanjut hingga dua jam berikutnya.
Napas mereka semua memburu, keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka hingga baju mereka terlihat basah.
“Sialan, dia ini manusia atau bukan? Sudah dua jam berlalu tapi energinya tidak ada habisnya.” Diego menggertakkan giginya ketika dia mengelap darah di sudut bibirnya.
“Kenapa? Menyerah?” tanya Oberyn di seberang mereka dengan senyum meremehkan.
__ADS_1
Sementara mereka bertarung, Amber, Riander dan Shinrain tidak memiliki keinginan sama sekali untuk ikut dalam pertarungan itu.
Amber menoleh pada Shinrain dan menatapnya sambil bertanya, “Kau tidak ikut bertarung?”
Shinrain meliriknya sekilas tanpa ekspresi apapun di wajahnya lalu menjawab, “Aku tidak akan ikut dalam pertarungan bodoh seperti itu.”
Dia kemudian melirik Riander yang berdiri tak jauh darinya. “Kau mau benda itu?”
“Siapa? Aku?”
“Haruskan aku bertarung denganmu dulu, kak?” Riander ikut menaikkan pandangannya mengikuti arah pandang kakaknya.
Amber yang sebelumnya bertanya sekarang mengerjapkan matanya dua kali, dia kini sadar bahwa Shinrain bertanya pada Riander sebelumnya. Bukan padanya.
Wajahnya menjadi semerah tomat dalam sekejap mata karena sangat malu! Dia berharap tanah di bawahnya terbuka dan menelannya.
“Kenapa dengan wajahmu?”
“Hmm?” Amber langsung menyadarinya dan dengan segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan ketika Riander bertanya sambil terus menatapnya.
“Kalau begitu, mari bertarung.”
Kata-kata Shinrain mengejutkan keduanya, Amber secara refleks menoleh untuk menatap Riander di sampingnya, tetapi tidak ada keterkejutan di wajahnya sama sekali.
Akankah mereka berdua benar-benar bertarung? Selama ini ketiga bersaudara tidak pernah bertarung secara langsung, apakah hari ini ketiganya akan saling adu kekuatan demi benda pusaka setingkat raga sejati itu?
Ada senyuman di bibir Rian ketika dia mendongak menatap benda pusaka yang melayang di udara itu, dia kemudian menurunkan pandangannya dan tatapannya bertemu dengan mata hitam Shinrain.
“Baiklah, ayo bertarung.” Setelah mengatakan itu, mereka berdua langsung saling menyerang tanpa menunggu apa-apa lagi!
Serangan kejutan itu mengejutkan semua orang, termasuk Oberyn. Dia menyipitkan matanya dengan tidak senang. Kedua saudaranya itu ternyata juga menginginkan pusaka itu, tetapi itu akan tetap menjadi miliknya! Mereka bisa bermimpi untuk mengambilnya darinya.
“Masih ada yang ingin bertarung?”
Tatapannya menjadi semakin gelap dan aura pembunuh tiba-tiba meguar dengan dahsyat dari Oberyn. Enam lainnya menjadi semakin tertantang untuk mengalahkan Oberyn.
“Memangnya dirimu sangat hebat?” Itu Ringgo, peringkat nomor satu dalam sepuluh besar.
Dia jarang bergaul dan hanya memiliki sedikit teman. Kegemarannya membaca membuatnya sangat betah berlama-lama di perpusatakan akademi dan memiliki banyak penggemar wanita karena ketampanannya.
__ADS_1
Bersambung ...